TRIBUNNEWSWIKI.COM - Negara Hungaria mengusulkan amandemen konstitusi yang memberi penegasan bahwa seorang anak harus dibesarkan dalam ikatan gender yang jelas.
Kalimat tersebut merujuk pada interpretasi ajaran Kristen, sebagai agama mayoritas di sana.
Lebih jauh lagi, kelompok nasionalis yang sedang berkuasa ini juga mengusulkan rancangan undang-undang berisi larangan adopsi bagi pasangan sesama jenis.
Melansir Reuters, Kamis (12/22), pemerintahan Hungaria saat ini berada di tangan nasionalis sayap kanan, sehingga retorika anti-LGBTIQ muncul di tingkat pemerintahan.
Seperti diketahui, Partai Fidesz, sebuah partai kanan yang berkuasa di Hungaria ini gencar mengeluarkan kampanye anti-LGBT jelang menghadapi pemilu pada 2022.
Baca: Barack Obama Sebut Demokrasi di AS di Ambang Krisis
Baca: Sosok Penyebar Video Mirip Gisel, Seorang Pria Berinisial PP Berhasil Ditangkap Polisi
Sejumlah aktivis hak asasi manusia menyebut langkah ini sebagai serangan terhadap komunitas LGBTIQ yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19.
Eksekutif Uni Eropa Siapkan Strategi Lindungi LGBTIQ
Diwartakan sebelumnya, sejumlah pejabat Komisi Uni Eropa meluncurkan strategi untuk melindungi dan mendukung kelompok lesbian, gay, biseksual, transgender, intersex, dan queer/questioning.
Langkah tersebut rencana diterapkan di 27 negara Uni Eropa, sebagai bentuk respons atas banyaknya nada-nada sumbang anti-LGBT.
Komisi Uni Eropa juga mengusulkan penanggulangan diskriminasi kelompok LGBT, khususnya urusan pekerjaan, dan adanya kepastian keamanan bagi mereka.
Baca: Pimpinan Komplotan Begal Ditangkap, Beraksi dengan Modus Cewek Ajak Ketemuan
Baca: Selain Cupang, Ini 7 Jenis Ikan Hias Populer yang Bisa Kamu Pelihara
Tak hanya itu, pejabat Uni Eropa juga mempersiapkan cara untuk melawan homofobia dengan memasukkan kebencian atas kelompok tersebut ke dalam daftar Euro-Crimes alias daftar kejahatan di Uni Eropa.
Eksekutif UE juga menginginkan adanya penghormatan terhadap hak-hak LGBT di seluruh perbatasan UE untuk memastikan bahwa undang-undang yang berbeda di negara-negara UE tidak berarti seorang anak dalam keluarga LGBT berhenti secara sah menjadi bagian dari keluarga itu meski melintasi perbatasan.
Baca: Barack Obama Sebut Demokrasi di AS di Ambang Krisis
Baca: Pesan Paket Promo, Satu Keluarga Dikira Tak Mampu Bayar Makanan Mahal oleh Pegawai Restoran
“Setiap orang harus merasa bebas menjadi diri mereka sendiri - tanpa rasa takut atau penganiayaan. Inilah Eropa dan inilah yang kami perjuangkan, ”kata Wakil Presiden Komisi Uni Eropa untuk Nilai dan Transparansi, Vera Jourova.
“Strategi pertama di tingkat UE adalah dengan memperkuat kerjasama untuk memastikan bahwa setiap orang (apapun orientasi seksualnya) diperlakukan dengan setara,” katanya, dilansir Reuters, Kamis (12/11/2020).
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)