Tubagus Ace Hasan Syadzily

Jejak Perjalanan Politik Tubagus Ace Hasan Syadzily dari Pesantren ke Senayan. Tubagus Ace Hasan Syadzily sudah akrab sejak kecil dengan dunia politik.


zoom-inlihat foto
tubagus-ace-hasan-syadzily-3.jpg
Tribunnews.com
Tubagus Ace Hasan Syadzily

Jejak Perjalanan Politik Tubagus Ace Hasan Syadzily dari Pesantren ke Senayan. Tubagus Ace Hasan Syadzily sudah akrab sejak kecil dengan dunia politik.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tubagus Ace Hasan Syadzily sudah akrab sejak kecil dengan dunia politik.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini tumbuh berkembang di lingkungan pondok Pesantren yang kental dan aktivitas politik yang sangat kuat.

Ayahnya KH Tubagus A. Rafe'i Ali adalah seorang politikus partai Golkar di era orde baru.

Selain juga ayahnya seorang pengasuh Pondok Pesantren Annizhomiyyah Pandeglang, Banten dan pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten.

Lingkungan kehidupan keluarga inilah membentuk buah pasangan KH Tb A. Rafei' Ali dan Hj Siti Sutihat dalam meniti karir politiknya.

Tubagus Ace Hasan Syadzily
Tubagus Ace Hasan Syadzily

"Ayah saya juga seorang tokoh agama yang juga aktif di Golkar tingkat daerah," tutur Ketua DPP Golkar ini ketika diwawancarai Tribunnews.com, beberapa waktu lalu.

"Semasa saya kecil, rumah orang tua saya kerapkali terdapat perbincangan politik. Saya kerapkali mendengarkan diskusi para aktivis politik di rumah Abah saya," kenang Ace.

Ayahnya aktif di Partai Golkar. Baru setahun bergabung ayahnya mendapat mandat menjadi Ketua
Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) yang berafiliasi ke Golkar.

Gen politik inilah yang mengalir dalam diri Ace.

"Secara tidak langsung, lingkungan ini telah membentuk imajinasi saya dalam membangun karir politik," lanjutnya.

Baca: Gerindra dan Golkar Bertemu Bahas Pilkada 2020, Prabowo Sebut Tidak Semua Daerah Klop untuk Koalisi

  • Kehidupan Pribadi #


Lahir dan Besar di Lingkungan Pesantren

Ace lahir di pesantren Annizhomiyyah, kampung Jaha Desa Sukamaju, kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten pada 19 September 1976 lalu.

Nama Ace Hasan Syadzily, adalah nama istimewa yang khusus diberikan sang kakek KH Tubagus Ali Akbar, seorang ulama terkemuka dari Lebak, Banten.

Abah Gede, demikian panggilam akrab sang kakek yang merupakan murid KH Syam'un dan menjadi bagiab dari pergerakan ulama aktivis di Banten, melawan koalisme Belanda.

Ace Hasan Syadzily lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan KH Tb A. Rafe'i Ali dan Hj Siti Sutihat.

Ace menyelesaikan sekolah dasarnya di SD Negeri 1 Labuan. Ia lulus pada pertengahan 1987.

Ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Dia masuk Pesantren ini, bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Cipasung.

Jejak santri Ace menuntut ilmu berlabuh di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Kemudian Ace kembali ke Tasikmalaya menjadi santri di pesantren Sukahideng, bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sukamanah.

Pada 1994, saat usianya 18 tahun, Ace lulus. Tiga tahun ia digembleng di pesantren Sukahideng, dan MAN Sukamanah.

"Abah menyekolahkam saya di pesantren, tujuannya di antaranya agar saya belajar mandiri. Abah ingin mengajarkan saya bahwa hidup itu tidak mudah, harus bekerja keras," kenangnya.

Pada 1994 melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selain sibuk dalam perkuliahan, Ace juga aktif di sejumlah organisasi dan forum diskusi. Di organisasi ekstrakampus, ia masuk menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ia juga tercatat menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1995-1997, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997-1988 dan menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1998-2000.

Ia juga dibentuk secara intelektual di lingkungan kelompok studi Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat.

Ace juga terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa 98 dengan menggalang gerakan mahasiswa 98 bersama aktivis gerakan mahasiswa lainnya.

Kemudian pada 2001, Ace melanjutkan Pendidikan S2 bidang Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia yang diselesaikannya pada tahun 2004.

Ia melanjutkan studi S3 bidang Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran, Bandung, pada 2010 dan diselesaikannya tahun 2014.

Baca: Bobby Nasution Maju Jadi Calon Wali Kota Medan, Golkar Putuskan Usung Menantu Jokowi di Pilkada 2020

Menikah

Setelah lulus kuliah, tahun 2002, Ace memutuskan untuk menikah.

Bermodal gaji pas-pasan di Indonesian Institute for Civil Society (INCIS), Ace menguatkan tekad untuk mempersunting gadis pujaan hatinya. Gadis iti bernama Rita Fitri.

INCIS adalah lembaga yang melakukan riset tentang Civil Society dan melakukan advokasi dengan dukungan lembaga-lembaga internasional seperti USAID, TIFA Foundation dan lain-lain.

Sabtu, 16 Maret 2002, pernikahan antara Ace dengan Rita Fitri pun dilangsungkan sederhana dan penuh hikmat.

Bulan madu belum usai, berselang tiga hari setelah menikah, Ace harus kembali Jakarta. Karena ia harus bekerja di INCIS.

Dari pekerjaannya di INCIS, Ace memperoleh gaji pas-pasan yakni Rp750 ribu per bulan.

"Ditambah sedikit dari penghasilan sebagai dosen honorer di IAIN," kisahnya.

Baca: Jokowi Serahkan 31 Nama Calon Dubes RI Baru, Ada Mantan Dirut Metro TV dan Waketum Partai Golkar

Jalan Ke Politik

Tubagus Ace Hasan Syadzily 2
Tubagus Ace Hasan Syadzily

Kegagalan selalu mendatangkam rasa kecewa, marah di hati. Begitu juga dialami Ace, kala harapan yang kuat menjadi dosen PNS di UIN (IAIN) Jakarta kandas. Ia tak diterima saat itu.

Dalam suasana gulana, berdering telepon dari Agus Gumiwang Kartasasmita, putra dari tokoh senior Golkar Ginandjar Kartasasmita.

"Kala itu Golkar baru selesai Munas di Bali 15-20 Desember 2004, yang memenangkan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum," jelasnya.

Ginandjar Kartasasmita.menjadi sosok utama di balik kemenangan Jusuf Kalla atas petahana Akbar Tanjung.

Saat itu, Agus Gumiwang masih muda, belum genap 30 tahun , sudah dipercaya memimpin salah satu sayap Partai Golkar, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) pada periode 1998-2003.

Ketika Jusuf Kalla memimpin Golkar, Agus Gumiwang diangkat menjadi Ketua DPP Golkar Bidang Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan Keamanan. Sekaligus pula ia menjabat Ketua Kordinator Wilayah Pemenangan Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

Posisi itulah yang membuat Agus Gumiwang menghubungi Ace. Yakni, ia sedang membutuhkan staf ahli yang punya kemampuam akademik yang kuat, berorganisasi.

Sejak itu Ace mendampingi Agus Gumiwang, memberikan masukan serta membantu tugas-tugasnya sebagai Ketua DPP Golkar.

Pertemuan demi pertemuan makin mendekatkan Ace dengan keluarga Ginandjar Kartasasmita.

Ini menjadi jalan hidup Ace di dunia politik.Melalui perantara Keluarga Ginandjar lah, tiga empat tahun setelah itu jalan hidup Ace di dunia politik menjadi terbuka.

Ace pun mendapat kepercayaan pertama kali menjadi PAW Pengurua DPP Golkar bidang keagamaan.

Jabatan itu diperolehnya setelah terjadi pemecatan terhadap Irsjad Djuwadi. Agus Gumiwang lah yang merekomendasikan Ace.

Ini berkah luar biasa bagi Ace. Tak pernah ia sangka bisa secepat itu, di usia 30 tahun sudah masuk ke dalam jajaran pengurus DPP Golkar.

Di kepemimpinan Ketua Umum Aburizal Bakrie (2009-2014), Ace menjadi Pengurus DPP Partai Golkar pada Departemen Kerjasama dengan ORMAS.

Pada 2012 terjadi revitalisasi dalam kepengurusan Golkar, dan Ace dipromosikan menjadi Wakil Sekretaris Jenderal.

Kemudian Ace menjabat Ketua DPP Golkar pada periode 2014-2019 dan 2019-2024.

Ia juga masuk menjadi juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN)  Ir. Joko Widodo – Prof. KH. Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

  • Jabatan di DPR RI
    1. Wakil Ketua Komisi VIII (2018 - Sekarang)
    2. Anggota Komisi II (2017 - 2018)
    3. Anggota Badan Musyawarah (2017 - 2018)
    4. Anggota Badan Legislasi (2017 - 2018)
    5. Anggota Komisi VIII (2013 - 2014)
    #


Riwayat Pendidikan

  • SD Negeri Labuan lulus 1988
  • SMP Islam Cipasung Tasikmalaya 1991
  • MAN Sukamanah Tasikmalaya 1994
  • Sarjana (S-1) Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN)
  • Syarif Hidayatullah Jakarta 2001
  • Magister (S-2) Jurusan Antropologi FISIP
  • Universitas Indonesia (UI) Jakarta 2004
  • Doktor (S-3) Konsentrasi Ilmu Pemerintahan
  • Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung 2014

Baca: Herniasi Otak

  • Riwayat Pekerjaan #


1. Wakil Ketua Komisi VIII
DPR RI (Fraksi Partai GOLKAR)
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Republik Indonesia
2019-2024

2. Anggota DPR RI Fraksi Partai
GOLKAR/Anggota Komisi II &
Wakil Ketua Komisi VIII
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Republik Indonesia
2014-2019

3. Anggota DPR RI Fraksi Partai
GOLKAR/Komisi VIII
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Republik Indonesia
2009-2014

4. Dosen Pascasarjana Magister Administrasi
Publik Universitas Tirtayasa Serang
2014 – skrg

5. Staff Khusus Dewan Pertimbangan Presiden
(Wantimpres) RI Bid. Pembangunan
dan Otonomi Daerah
2009-2013. (Tribunnews.com/Andri Malau)



Info Pribadi
Nama Tubagus Ace Hasan Syadzily
Nama Ayah KH Tubagus A. Rafe'i Ali
Nama Ibu Hj Siti Sutihat
   


Sumber :




BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved