TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hubungan antara Armenia vs Azerbaijan kini semakin panas dalam aksi saling serang terkait Nagorno-Karabakh.
Nagorno-Karabakh adalah wilayah kantong, yang sudah menjadi tempat sengketa sejak 1988 antara dua negara bertetangga, Armenia dan Azerbaijan.
Dua negara bekas Uni Soviet itu hingga kini tak memiliki hubungan mesra, dan bahkan hal ini terbawa hingga urusan sosial di berbagai sendi kehidupan.
Merenggangnya hubungan bilateral antara Armenia dan Azerbaijan terkait persoalan akan masa depan Nagorno-Karabakh.
Wilayah Nagorno-Karabakh saat ini didiami warga dari etnik Armenia dan minoritas Azeri.
Namun, mayoritas etnik Armenia yang merupakan warga mayoritas di sana ingin memisahkan diri dari Azerbaijan.
Nagorno-Karabakh yang dikuasai mayoritas etnik Armenia mengaku sebagai negara merdeka dan lepas dari Azerbaijan, meski tak diakui oleh negara-negara lain.
Ditambah keterlibatan negara Armenia yang aktif mendukung pemisahan wilayah tersebut, maka duduk persoalan Nagorno-Karabakh pun semakin kompleks.
Baca: Azerbaijan Didukung Turki, Armenia Mulai Berpikir Minta Intervensi Rusia di Konflik Nagorno-Karabakh
Sebenarnya kedua negara pernah menyepakati gencatan senjata pada 1994, namun kini antara Armenia dan Azerbaijan kembali saling tuduh terkait pihak yang memulai pertempuran.
Konflik Armenia vs Azerbaijan pun negara lain, Turki hingga negara adidaya, Rusia dan bahkan Prancis.
Terbaru, Prancis dan Turki saling lempar tuduhan pada Rabu (30/9/2020) seiring meningkatnya ketegangan internasional atas bentrokan sengit antara Azerbaijan dan pasukan etnis Armenia.
Beberapa sekutu Turki di NATO, salah satunya Prancis kini semakin khawatir dengan sikap negara pimpinan Presiden Erdogan itu terkait persoalan Nagorno-Karabakh.
Melalui Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, Turki mengatakan bahwa mereka akan melakukan apa yang diperlukan terkait Nagorno-Karabakh dan Azerbaijan.
Pernyataannya itu menyuarakan pernyataan Presiden Turki Tayyip Erdogan, yang mendukung Azerbaijan dalam konflik dengan Armenia.
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, kemudian berterima kasih kepada Turki atas dukungannya tetapi mengatakan negaranya tidak membutuhkan bantuan militer.
"Pertempuran akan berhenti jika pasukan Armenia segera meninggalkan tanah kami," katanya.
Maksud Turki secara terang-terangan mendukung Azerbaijan, selain karena kedekatan antar dua negara, juga secara diplomatis membalas sikap Prancis.
Menlu Turki, Cavusoglu menganggap empati Prancis kepada negara Armenia sama saja artinya dengan mendukung pendudukan Armenia di Azerbaijan, dalam hal ini Nagorno-Karabakh.
Turki menganggap, sikapnya mendukung Azerbaijan juga setara seperti sikap Prancis terhadap Armenia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang negaranya adalah rumah bagi banyak orang keturunan Armenia, menanggapi hal tersebut saat berkunjung ke Latvia.
Dia mengatakan Prancis sangat prihatin dengan hasrat berperang dari Turki dan yang pada dasarnya itu memperkeruh situasi Nagorno-Karabakh.