Survei BPS: Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan beberapa survei tambahan melalui online dan juga untuk menggunakan big data sebagai analisis, pada masa pandemi corona atau Covid-19.


zoom-inlihat foto
kepala-bps-suhariyanto-saat-konferensi-pers-senin-2892020.jpg
IST
Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers, Senin (28/9/2020)

Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan beberapa survei tambahan melalui online dan juga untuk menggunakan big data sebagai analisis, pada masa pandemi corona atau Covid-19.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pada masa pandemi corona atau Covid-19 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan beberapa survei tambahan melalui online dan juga untuk menggunakan big data sebagai analisis.

Tujuannya adalah ingin memberikan data dan informasi yang cepat mengenai dampak Covid-19, baik kepada masalah sosial, ekonomi maupun perubahan perilaku.

"Pada awal September ini, BPS melaksanakan survei mengenai perilaku masyarakat di masa pandemi. Harapannya, temuan ini nantinya dapat dijadikan input untuk memperpanjang kebijakan yang selama ini sudah dijalankan," ujar Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers, Senin (28/9/2020).

Survei ini BPS lakukan pada 7 September sampai dengan 14 September 2020 secara daring dan jumlah masyarakat yang merespon adalah 90.967.

Suhariyanto menjelaskan, lebih dari 50 persen dari responden itu juga bersedia untuk disurvei kembali pada tahap berikutnya.

Sementara, dia menyampaikan,cjumlah sampel sebesar 90.967 responden itu terdiri dari 55 persen wanita dan 45 persen laki-laki.

Lalu, kalau dilihat dari umurnya 69 persen itu didominasi oleh usia muda yaitu kurang dari 45 tahun dan 61 persen dari responden itu minimal berpendidikan sarjana ke atas.

Baca: Virus Corona Terus Bermutasi dan Diduga Semakin Mudah Menular, Vaksin Mungkin Harus Disesuaikan

  • Tingkat Kepatuhan Masyarakat Terhadap Protokol Kesehatan #


Kategori pertama, BPS melakukan survei tingkat kepatuhan masyarakat terhadap pelaksanaan protokol kesehatan dengan memerhatikan 3 M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Suhariyanto mengatakan, hasilnya adalah 92 persen dari 90.967 responden sudah memakai masker ketika mereka ke luar rumah.

"Kita bisa melihat bahwa persentase masyarakat yang menggunakan masker itu adalah 92 persen. Ini menggembirakan, tapi kalau kita lihat kepatuhan masyarakat untuk cuci tangan itu masih 75 persen, demikian juga untuk menjaga jarak (75 persen)" ujarnya.

Jadi, dari temuan ini secara umum sudah menggembirakan, tetapi pemerintah dinilai perlu memperhatikan penerapan untuk mencuci tangan maupun menjaga jarak karena harusnya posisi ideal 3 M berjalan secara paralel.

Sementara, kata Suhariyanto, kalau bandingkan hasil survei ini dengan posisi pada bulan April lalu maka persentase masyarakat yang menggunakan masker itu meningkat sekira 8 persen.

"Tetapi, yang perlu dijadikan perhatian bahwa persentase masyarakat yang mencuci tangan dan menjaga jarak itu justru mengalami penurunan. Jadi, ke depan kita perlu melakukan sosialisasi yang lebih supaya masyarakat betul-betul menerapkan 3 M secara paralel," katanya.

Menurut dia, menggunakan masker di luar rumah tanpa diikuti mencuci tangan dan menjaga jarak tentu tidak akan ada gunanya.

"Kemudian, kalau kita lihat berdasarkan karakteristik yang ada hampir mirip dengan bulan April lalu. Pertama, bahwa perempuan itu jauh lebih patuh dibandingkan laki-laki ketika menerapkan protokol kesehatan dan kedua yakni semakin tinggi tingkat pendidikan, kepatuhannya juga semakin meningkat," ujar Suhariyanto.

  • Alasan Tidak Menerapkan Protokol Kesehatan #


Selanjutnya, survei mengenai alasan tidak menerapkan protokol kesehatan adalah yang paling tinggi yakni 55 persen responden berpendapat karena tidak ada sanksi.

Jadi menurutnya, meski sekarang ini pemerintah sudah menerapkan sanksi, tampaknya ke depan ini perlu lebih dipertegas lagi.

Kemudian, 39 persen responden menyatakan tidak adanya kejadian penderita Covid-19 di lingkungan sekitar lingkungan menjadikan alasan tidak mematuhi peraturan kesehatan.

Selain itu, ada yang beralasan bahwa 33 persen tidak mengenakan protokol kesehatan karena itu mengganggu pekerjaannya.

Terakhir, adalah pendapat dari responden bahwa 19 persen tidak menerima untuk menerapkan protokol kesehatan karena aparat atau pimpinannya tidak memberikan contoh.

"Jadi, tampaknya ke depan ini perlu sentuhan seluruh pimpinan. Seluruh aparat harus memberikan contoh di depan supaya masyarakat mengikuti," tutur Suhariyanto.

BPS, lanjutnya, juga mensurvei respon dari masyarakat ketika ada penderita atau kasus positif Covid-19 di lingkungan sekitarnya.

Hasilnya, 45 persen masyarakat yang menemukan orang terinfeksi Covid-19 di lingkungan sekitarnya itu memperketat protokol kesehatan di lingkungan masing-masing.

Selain itu, sebanyak 22 persen responden juga memberikan dukungan untuk memperketat protokol itu, sehingga totalnya 67 persen.

"Ini dia yang kita harapkan, jadi 67 persen sebenarnya sudah bagus. Namun, ada jawaban bahwa masih ada 7 persen masyarakat yang dia akan mengucilkan atau memberikan stigma negatif kepada penderita," kata Suhariyanto.

Baca: Guru dan Dosen Bakal Menjadi Golongan Pertama yang Dapat Suntik Vaksin Covid-19

  • Frekuensi ke Luar Rumah #


Kemudian, dia menjelaskan, ada survei BPS mengenai frekuensi ke luar rumah sesudah adanya adaptasi kebiasaan baru di tengan pandmei.

Haslinya, 25 persen responden menyatakan lebih sering ke luar rumah dan bisa dipahami karena tujuan mereka terutama untuk melakukan pekerjaan.

Sementara itu dari sisi persentase jenis kelamin hampir sama untuk laki-laki 24,63 persen dan perempuan 22,01 persen lebih sering ke luar rumah.

"Kalau kita gandeng berdasarkan umur, mereka yang sudah berumur itu cenderung jarang untuk ke luar rumah. Mungkin karena memang aktivitas yang berkurang atau juga karena mereka merasa bahwa usianya rentan terhadap pandemi Covid-19 ini," tutur Suhariyanto.

  • Ada Tidaknya Penerapan Protokol Kesehatan #


Lebih lanjut, BPS meminta pendapat masyarakat mengenai ada tidaknya penerapan protokol kesehatan misal di tempat kerja.

Hasilnya, penerapan protokol kesehatan di tempat kerja masih ada 2 persen yang menyatakan belum mematuhi, lebih banyak sudah.

Demikian juga untuk pelayanan publik di misalnya mal dan lainnya boleh dibilang hampir seluruhnya menerapkan protokol kesehatan.

Adapun, kata Suhariyanto, catatan khususnya adalah untuk pasar tradisional dan pedagang kaki lima karena 17,3 persen responden menyatakan sama sekali tidak ada protokol kesehatan.

Kemudian, berikutnya yang harus dijaga adalah tempat-tempat beribadah karena 5,78 persen responden itu mengaku bahwa di tempat ibadahnya tidak ada protokol kesehatan sama sekali.

Jadi, dua tempat ini yakni pasar dan tempat ibadah tampaknya ke depan memang perlu perhatian yang lebih ketika pemerintah melakukan sosialisasi protokol kesehatan.

Baca: Pemerintah Merinci Daftar 6 Kelompok yang Diprioritaskan Mendapat Vaksin Covid-19

  • Penggunaan Transportasi Umum Selama Pandemi #


BPS juga membacakan hasil survei mengenai penggunaan transportasi umum selama terjadi pandemi corona atau Covid-19.

Suhariyanto mengatakan, sebanyak 13,5 persen dari responden selama sebulan terakhir tetap menggunakan transportasi umum.

"Kalau kita lihat yang paling banyak di sana 23 persennya menggunakan angkot. Kemudian, disusul oleh ojol (ojek online), taksi online, bus, dan kereta atau MRT (mass rapid transit)" ujarnya.

Menurut Suhariyanto, masyarakat yang menggunakan transportasi umum ini bervariasi dan BPS mencoba lihat kepatuhan protokol kesehatan di masing-masing.

Untuk jaga jarak, lanjutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah angkot atau mikrolet atau hanya 43 persen menerapkan protokol kesehatan.

Namun, hal ini sebenarnya bisa disadari ketika ruang di angkot sangat-sangat terbatas, sehingga ada kemungkinan penumpang mengalami kesulitan untuk jaga jarak.

"Memberikan perhatian kepada penerapan protokol kesehatan untuk di angkot dan bus ini baru sekira 59 persen pengemudinya tertib menggunakan masker. Jadi, tampaknya perlu digalakkan lagi sosialisasi kepada pengemudi bahwa mereka harus menggunakan protokol kesehatan," kata Suhariyanto.

Adapun mengenai pembatasan penumpang dan pengemudi itu sudah diterapkan di ojek online sekira 40 persen dan di taksi online masih 56 persen.

  • Persepsi Kemungkinan Terinfeksi atau Tertular Covid-19 #


Suhariyanto menambahkan, BPS melakukan survei mengenai persepsi kemungkinan terinfeksi atau tertular Covid-19.

"Bahwa 17 persen atau 17 dari 100 responden itu mengatakan bahwa mereka sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular Covid-19. Jadi, 17 persen ini persentase lumayan tinggi, mereka yakin bahwa mereka tidak akan tertular atau tidak mungkin tertular," ujarnya.

Kemudian, kalau lihat dari jenis kelamin, hasilnya tidak ada perbedaan antara laki-laki 16,9 persen dan perempuan 17 persen.

Disisi lain, BPS melihat bahwa persepsi tidak mungkin tertular itu terkait erat dengan pendidikan karena ketika pendidikannya rendah, mereka yakin bahwa tidak terinfeksi

Tetapi, lanjut Suhariyanto, kalau pendidikannya tinggi, kesadarannya juga sudah tinggi, sehingga persentasenya menurun.

"Jadi yang bisa kita sarankan di sini tampaknya perlu lebih keras lagi untuk meningkatkan atau menggencarkan mengenai pemahaman masyarakat tentang Covid-19. Perlu terus-menerus digalakkan bahwa siapapun itu bisa terkena risiko, tidak mengenal umur, jenis kelamin, pendidikan, dan status sosial," katanya.

  • Media Paling Digemari untuk Mendapatkan Informasi Protokol Kesehatan #


Selanjutnya adalah kategori terakhir dari survei BPS yakni media apa yang paling digemari oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi protokol kesehatan.

Hasilnya, secara berurutan dari terbanyak adalah melalui media sosial 83,6 persen, televisi (TV) 78,5 persen, dan WhatsApp 76 persen.

"Itu yang menurut para responden mempunyai mempunyai posisi paling tinggi untuk mendapatkan informasi meskipun tentu saja media-media lainnya tetap harus kita gunakan. Intinya kita harus menggunakan berbagai media tentunya dengan sentuhan-sentuhan khusus," pungkas Suhariyanto.

 (Tribunnews.com/Yanuar Riezqi Yovanda)



Badan survei Badan Pusat Statistik (BPS)
Topik Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19
   


Sumber :


1. Wawancara dengan Tribunnews


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved