“Di Magelang ini saya mengenyam pendidikan militer. Di sini pula saya mengucap sumpah prajurit, yakni setia pada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Lalu saya sekarang bangkit, karena ada sebagian kelompok yang berusaha mengubah Pancasila,” ujarnya.
Deklarasi di Magelang tidak ada perintah dari pusat.
Menurutnya, deklarasi di Magelang merupakan inisiatif dari daerah sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, Gatot tak menampik ada orang yang menghalangi KAMI.
Baca: Masih Ingat Pernikahan Pria Magelang dan Bule Inggris? Begini Kondisi Mereka Sekarang
Baginya, hadirnya kelompok tersebut bakal memperkuat KAMI.
“Spanduk-spanduk itu, apa pun yang menentang KAMI, menurut saya adalah itu peringatan dari Allah SWT agar KAMI lebih kuat, lebih tangguh, dan tidak berhenti,” tandas Gatot ditemui seusai orasi.
Gatot Nurmantyo tak mempersoalkan penolakan KAMI.
Dia menegaskan mereka masih saudara sebangsa Indonesia.
Kemudian dia berpesan agar anggta KAMI tak memusuhi orang yang berseberangan.
“Kalau ada yang menjelekkan KAMI, tapi berjuang untuk Indonesia berarti sama, mereka saudara kita juga. Selama tujuan mereka adalah untuk Indonesia, untuk Indonesia, untuk Indonesia, maka mereka kawan kita. Tapi, kalau melawan Indonesia otomatis jadi lawan KAMI," tegas Gatot.
Baca: Sengketa Lahan Akademi TNI di Magelang Berbuntut Panjang, Ganjar: Pokoknya Semua Urus Covid-19 Dulu
Sementara itu, Presidium KAMI Jawa Tengah Mudrik M Sangidu mengutarakan, Jawa Tengah harus menjadi lokomotif dan pionir perubahan yang ada di Indonesia.
Mudrik kemudian menyinggung soal rezim.
“Kalau rezim sekarang dinilai baik, maka mereka yang menyetujuinya itu buta dan tuli,” katanya dalam orasi.
Menurutnya, KAMI lahir dari masyarakat yang teraniaya dan tertindas rezim.
Ia mengingatkan para pejabat untuk tidak semena-mena dan sombong kepada rakyatnya.
Baginya, kekuatan rakyat atau people power bisa saja meruntuhkan rezim zalim.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur) (Kompas.com)