TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kamala Harris mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump agar vaksin virus corona siap didistribusikan sebelum Pesta Pemilu.
Hal menggambarkan Presiden Trump bersedia menggunakan kekuasaannya untuk keuntungan politik.
"Saya tidak akan mempercayai Donald Trump dan itu harus menjadi sumber informasi yang kredibel yang berbicara tentang kemanjuran dan keandalan dari apa pun yang dia bicarakan. Saya tidak akan mempercayai kata-katanya," ujar Kamala Harris, dalam sebuah wawancara dengan CNN, Minggu (6/9/2020).
Dilansir Tribunnewswiki dari NBC News, Kamala Haris juga menyatakan keraguannya bahwa para ahli kesehatan akan mengambil keputusan akhir tentang keamanan dan kemanjuran vaksin.
Baca: Donald Trump: AS Siap Membantu Menyelesaikan Konflik Antara India dan China
Baca: Heboh, Donald Trump Dorong Pendukung untuk Coblos Dirinya Dua Kali pada Pilpres AS November Nanti
"Mereka akan diberangus, mereka akan diberangus, mereka akan dikesampingkan karena dia sedang melihat pemilihan yang akan datang dalam waktu kurang dari 60 hari ," ujar Kamala.
"Dia berusaha untuk mendapatkan apa pun yang dia bisa untuk berpura-pura menjadi pemimpin dalam masalah ini ketika dia tidak, " imbuh calon wakil presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden itu.
Trump, yang terus membuntuti Biden dalam jajak pendapat ketika dirinya beursaha terpilih kembali kala terjadi pandemi global.
Trump telah dituduh menekan pejabat kesehatan untuk mempercepat jadwal vaksin virus corona agar siap untuk digunakan publik sebelum November.
"Kami tetap berada di jalur untuk memberikan vaksin sebelum akhir tahun dan mungkin bahkan sebelum 1 November. Kami pikir kami mungkin bisa mendapatkannya sekitar bulan Oktober," kata Trump di Gedung Putih, Jumat.
Baca: Serang Balik, Joe Biden Ingin Selamatkan Amerika Serikat dari Kekacauan yang Diciptakan Donald Trump
Baca: Donald Trump Sarankan Korban Badai Laura Jual Tanda Tangannya Seharga Rp 145 Juta di eBay
Pakar kesehatan mengatakan deadline yang diinginkan Trump sangat tidak realistis.
Moncef Slaoui, yang dipilih Trump untuk menjalankan "Operation Warp Speed", mengatakan dalam sebuah wawancara dengan NPR pekan lalu bahwa vaksin Covid-19 tersedia Oktober "sangat tidak mungkin."
Biden dan Harris mengungkap jika tanggapan Trump terhadap pandemi virus corona sebagai bagian utama dan menjadi pusat kampanye mereka.
Saingan Donald Trump ini menanggapi kebijakan lawannya tersebut terkait wabah telah menjadi "kegagalan" hanya karena "ketidakpeduliannya,".
Diketahui, hampir 190.000 orang di AS telah meninggal akibat virus korona dan ada lebih dari 6,2 juta infeksi yang dikonfirmasi.
Jelang Pemilu
Diketahui AS terus gencar mencari titik terang vaksin Covid-19 jelang pemilu pada 3 November mendatang.
Baru-baru ini beredar kabar, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), meminta negara-negara bagian menghapus birokrasi yang mencegah distribusi vaksin terpusat.
Hal tersebut diganti menjadi "beroperasi penuh pada 1 November 2020".
Sebelum uji coba berakhir, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pun ikut meningkatkan kemungkinan vaksin bisa diberikan otorisasi darurat.
Baca: Politik Amerika Kian Panas Jelang Pilpres, Donald Trump: AS Bakal Kacau Jika Dipimpin Joe Biden
Dalam Konvensi Nasional Partai Republik pekan lalu, Trump berkata di depan para pendukungnya berujar, AS "akan memproduksi vaksin sebelum akhir tahun, atau mungkin lebih cepat".
Seorang ahli penyakit menular terkemuka di AS, Anthony Fauci menagtakan, hasil awal uji coba vaksin baru bisa keluar pada "November atau Desember", pada Kamis (3/9).
"Sulit, bukan tidak mungkin vaksin corona siap pada Oktober," kata Fauci pada CNN.
Kayleigh McEnany, selaku Juru Bicara Gedung Putih membantah hal tersebut.
Kayleigh menepis tentang ada tekanan untuk memproduksi vaksin corona, sebelum masyarakat AS bisa menggunakan hak pilih mereka.
"Tidak ada yang menekan FDA untuk melakukan apa pun," kata Kayleigh pada Kamis pekan ini.
"Prioritas di sini adalah menyelamatkan nyawa," tutup Kayleigh.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Saya Tak Percaya Kemanjuran Vaksin Corona yang Dijanjikan Trump"