TRIBUNNEWSWIKI.COM - Setelah dirawat selama 77 hari di RSUD Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pelajar 18 tahun asal Kapanewon Temon sembuh dari infeksi virus corona.
Sebelum dinyatakan sembuh pada Jumat, (4/9/2020), pelajar ini sudah dites swab puluhan kali sejak diisolasi pada 20 Juni lalu.
Pasien itu menjalani tes swab pertama pada 19 Juni lalu dan keesokan harinya dinyatakan positif terjangkit Covid-19.
Dia termasuk kategori orang tanpa gejala (OTG) karena tidak memperlihatkan gejala Covid-19 seperti batuk, flu, deman, dan sesak.
Pelajar itu kemudian dirawat di RSUD Wates dan ditandai sebagai kasus positif (KP) 13.
"Totalnya 25 kali swab," kata Direktur Umum RSUD Wates, Jumat (4/9/2020), dikutip dari Kompas.
Baca: Terkonfirmasi, Pria Hong Kong Kembali Terinfeksi Virus Corona Setelah Sembuh, Strain-nya Berbeda
Dua anggota keluarganya yang juga tertular, yakni KP 12, perempuan (49) dan KP 14, laki-laki (50). Mereka juga diisolasi di RSUD Wates.
Kasus satu keluarga ini terkait dengan kontak pedagang ikan asal Desa Jogoboyo, Kabupaten Purworejo, yang menjalani isolasi mandiri karena positif Corona.
Pedagang ikan tersebut dinyatakan sembuh tak lama kemudian.
KP 12 menyusul sembuh pada akhir Juni 2020, sedangkan KP 14 dinyatakan sembuh pada pertengahan Juli 2020.
Selama perawatan, KP 13 harus rawat inap dan menjalani tes swab 23 kali di RSUD.
"Dan swab 1 kali di Puskesmas Temon dan hasilnya negatif. Jadi total 25 kali swab," kata Lies.
Baca: Baru Sembuh dari Covid-19, Perempuan di Surabaya Ini Ditolak Suami hingga Ancam Akan Menceraikan
Kini, KP 13 sembuh. Kesembuhan KP 13 ini bersamaan dengan dua kasus lainnya, yakni seorang perempuan usia 25 tahun asal Lendah dan laki-laki 31 tahun asal Galur.
Pasien asal Galur dan Lendah ini merupakan pekerja pada fasilitas kesehatan di Bantul. Keduanya mulai diisolasi pada pekan terakhir Agustus 2020.
Kesembuhan tiga orang ini menambah catatan total kesembuhan menjadi 47 kasus sampai kini.
“Kasus sembuh adalah KP 68 asal Lendah, KP 13 asal Temon dan KP 71 asal Galur,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulon Progo, Baning Rahayujati juga via pesan singkat.
Dinyatakan Sembuh dari Corona, Pasien Asal Bandung Disambut dan Diarak Keliling Kampung
Seorang pasien Covid-19 tersebut bernama Setyo Witarto (54), warga Komplek Tani Mulya RT01/RW03, Desa Tani Mulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, dinyatakan sembuh.
Dilansir Kompas.com, Setyo menceritakan perjuangannya melawan virus tersebut hingga akhirnya berhasil sembuh setelah diisolasi di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) di Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi selama berhari-hari.
Baca: Nekat Tak Patuhi Prokes, 54 Warga Sidoarjo Dihukum Berdoa di Makam Korban Covid-19 Tengah Malam
Setyo merupakan seorang pedagang di pasar Antri Cimahi, yang sehari-harinya berjualan di pasar.
Awalnya, Setyo mengikuti tes swab yang dilakukan Dinas kesehatan (Dinkes) setempat di Pasar tersebut.
Sambil menunggu hasil tes, ia kemudian pulang ke rumah untuk beristirahat, namun tak lama, petugas Dinkes Cimahi menghubungi Setyo.
Namun pada saat itu yang menerima telfon anaknya pada Sabtu 23 Mei 2020.
Ketika anaknya menyampaikan hasil tersebut, Setyo dikagetkan dengan hasil tes yang menyatakan bahwa dirinya positif tertular virus corona.
"Pertama saya dapat kabar berita bahwa saya positif, saya dan keluarga shock dan kaget, karena yang positif itu dikatakan aib gimana gitu kan, apalagi gambarannya kalau kena virus mah antara hidup dan mati karena belum ada vaksinnya," kata Setyo, Rabu (17/6/2020).
Padahal sebelumnya pun ia tidak pernah mengeluhkan kendala apa pun.
Baca: Dapat Teguran Satpol PP, Gugus Tugas Covid-19 di Jakarta Timur Batalkan Hukuman Tidur di Peti Mati
Awalnya, selama dua hari, bapak berumur 54 tahun tersebut melakuka karantina mandiri di rumahnya.
Sampai pada tanggal 26 Mei 2020, Setyo di karantina BPSDM selama berhari-hari.
Selama itu pula lah ia harus berjuang melawan melawan virus tersebut.
"Kalau kena virus ini kaya dipenjara dua bulan," ucapnya.
Setelah itu, ia baru merasakan gejala seperti meriang, badan pegal, dan pilek.
Mental memiliki peran penting
"Gejalanya yang saya rasakan memang ringan," ujar Setyo. Selama di karantina, Setyo mengaku harus berjibaku dengan dirinya sendiri.
Ia merasa keadaan mentalnya menurun lantaran ketakutan akan virus yang diberitakan mematikan tersebut.
"Yang paling sakit itu mentalnya," ucapnya.
Bagi Setyo, serangan psikis lebih menakutkan karena bisa menyerang dan menurunkan imun seseorang sehingga ketika telah terpapar, virus ini pun akan sulit di kontrol dan susah untuk menyembuhkan diri.
"Jadi virus ini tak sejahat yang dikira. Pesan dari orang yang terpapar korona dan sembuh lagi. Jadi pertama jangan dijauhi kalau bisa di sambut, di support dengan senang hati karena itu seperti obat bagi orang yang pernah terpapar corona," ungkapnya.
Ia merasa ruangan isolasi dan dirinya di dalamnya sendirian tanpa ada anggota yang menemaninya merupakan pengalaman mencekam.
"Apalagi nunggu hasil swab, apakah positif atau negatif. Nunggu dua minggu saja mentalnya bisa turun, sekurang-kurangnya bisa saja stres dan itu bahaya bisa menurunkan imun sehingga virusnya malah gak bisa ke kontrol," tambahnya.
Untuk menjaga mentalnya tetap stabil, Setyo memilih pendekatan holistik dengan cara mempertebal keimananannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(Tribunnewswiki/Tyo/Restu/Kompas/Agie Permadi/Dani Julius Zebua)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Satu Pasien Covid-19 Kulon Progo Sembuh Setelah 77 Hari Dirawat dan 25 Kali Swab" dan "Sembuh dari Corona, Pasien Ini Disambut Meriah Warga, Diarak Keliling Kampung"