Belajar Makna 'Self Partnered' dari Emma Watson, Menjadi Lajang Tanpa Rasa Takut

Bagi sebagian masyarakat, memilih menjadi lajang seringkali diidentikkan dengan kegagalan sosial atau bahkan dapat menjadi bahan lelucon.


zoom-inlihat foto
emma-watson-dalam-film-harry-potter.jpg
Wikimedia / Creative Common / Warner Bros. Pictures
FOTO: Emma Watson dalam film Harry Potter


Diperkirakan olehnya bahwa angka tersebut akan meningkat menjadi 40% pada 2030.

Di Amerika Serikat, tercatat dalam Badan Sensus Nasional yang melaporkan bahwa pada tahun 2017, setidaknya 110 juta orang tidak menikah.

Angka tersebut setera dengan 45 persen warga Amerika Serikat yang berusia di atas 18 tahun.

Memilih Menjadi Lajang, Apakah Tabu?

Kendati telah muncul tren global, namun pilihan untuk menjalin hubungan dengan diri sendiri belum terdistribusi rata di setiap negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bagian Divisi Populasi mencatat persentase rumah tangga tunggal di Eropa berada di atas 30 persen.

Sementara di Afrika hanya mencapai 3 persen.

"Melajang masih dianggap tabu di beberapa negara, termasuk di negara maju," kata Elyakim Kislev.

"Di banyak negara, tidak menikah atau tidak berpasangan dianggap kegagalan sosial. Stereotip negatif atas seorang lajang masih berlaku di banyak negara," ujarnya.

Melawan prasangka

Elyakim menjelaskan bahwa sosok Emma Watson penting untuk mengubah prasangka publik tentang seseorang yang memilih menjadi lajang.

"Pernyataan Emma Watson bukan hal baru tapi tentu menggarisbawahi kemungkinan publik untuk menghargai lajang sebagai pilihan status," kata Elyakim.

Elyakim menilai masih banyak publik yang menilah pilihan menjadi lajang sebagai suatu hal yang tertinggal.

"Banyak orang masih menilai melajang adalah pemberhentian sebelum berpasangan atau sinyal bahwa 'Anda ketinggalan kereta'."

"Emma Watson memperkenalkan tahapan lain dalam kehidupan dan menunjukkan kepada publik, terutama perempuan yang lebih ditekan untuk menikah ketimbang laki-laki"

"....bahwa melajang juga berarti harus sukses dan pintar," tutur Elyakim.

Fenomena Berpasangan dengan Diri Sendiri

Para akademisi yang mempelajari fenomena 'berpasangan dengan diri sendiri'  menyebut bahwa peningkatan jumlah lajang kini mempengaruhi kebijakan publik, dari isu perumahan hingga pendidikan.

Lebih dari itu, melajang juga kerap bias dalam konteks demografi usia.

Status lajang juga kerap dikaitkan kepada populasi muda, termasuk milenial.





Halaman
1234
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved