Responden yang terlibat melaporkan melaporkan frekuensi ejakulasi per bulan dan apakah mereka mempunyai penyakit kanker prostat atau tidak.
Studi tersebut dianggap belum meyakinkan.
Hal ini karena karena mengandalkan laporan dari responden, bukan dari pengamatan laboratorium terkontrol.
Oleh sebab itu, ada kemungkinan hasil dari penelitian tersebut belum cukup akurat.
Dikarenakan tidak menutup kemungkinan responden tidak jujur dalam melaporkan berapa kali dia mengalami ejakulasi.
Mengacu pada penelitian lainnya pada tahun 2004, penelitian ini juga membuktikan hubungan frekuensi ejakulasi dengan risiko penyakit yang sama, kanker prostat.
Tapi, dalam penelitian ini ahli mengambil kesimpulan frekuensi ejakulasi tidak signfikan memengaruhi faktor risiko kanker prostat.
Sejumlah ahli mengatakan, penyakit kanker prostat ini tidak dipengaruho kebiasaan serta frekuensi ejakulasi seseorang.
Tapi lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan orang tersebut.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka, Kompas.com)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Idealnya, Sperma Harus Keluar Berapa Kali dalam Seminggu?