TRIBUNNEWSWIKI.COM - Korea Utara kembali memberi peringatan perang nuklir pada Amerika Serikat.
Sebelum Korea Utara, Iran dan China sudah lebih dahulu menabuh gendang perang untuk Amerika Serikat.
Iran berani memicu perang saat jenderal utama merak meninggal saat serangan rudal.
Sementara China masih terkait konflik di Laut China Selatan.
Kini bertambah satu negara yang memberi peringatan pada AS yakni Korea Utara.
Dilansir dari express.co.uk pada Sabtu (8/8/2020), Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengirimkan peringatan nuklir kepada AS.
Peringatan ini disampaikan oleh Profesor James Hoare dari School of Oriental and Asian Studies (SOAS) di London.
Baca: Ibu di China Bertemu Sang Anak yang Diculik 32 Tahun Silam: Mama Ingin Menggendongmu, Tapi Tak Bisa
James berbicara seperti itu setelah analisis yang diterbitkan di situs web 38 North oleh Markus V Garlauskas, mantan Pejabat Intelijen Nasional AS untuk Korea Utara.
Dari analisis itu, Garlauskas melihat Ri Pyong Chol, mantan komandan Angkatan Udara Tentara Rakyat Korea, yang sekarang merupakan tangan kanan Kim Jong-un, sedang duduk di sebelah Kim dalam pertemuan tertutup di Pusat Komisi Militer (CMC) pada 18 Juli 2020.
Hoare mengatakan, "Kita harus berhati-hati. Korea Utara tidak sekaku seperti Uni Soviet dulu jika terkait masalah nuklir." katanya.
"Jika ada perubahan kebijakan yang tiba-tiba, Ri mungkin akan menghilang untuk mempersiapkan militer."
"Tapi untuk saat ini, militer tampaknya akan bersiaga pada bulan ini."
Hoare menambahkan, mungkin pertemuan tertutup itu terkait keamanan dalam negeri.
Namun siapa yang tahu bahwa ini mungkin masalah internasional.
"Secara pribadi, saya pikir ini mereka ingin menunjukkan bahwa Korea Utara sekarang dengan serius karena itu adalah tenaga nuklir."
"Jadi bisa saja itu pesan tersirat untuk calon presiden AS."
Selama artikelnya, Garlauskas juga memuat gambar Kim tengah memeluk Ri setelah uji coba rudal yang berhasil pada tahun 2016 lalu.
Tidak heran kehadiran Garlauskas bisa menyiratkan bahwa Korea Utara mungkin tengah membuat rencana untuk lebih banyak melakukan tes rudal.
"Sejak Januari, rezim Kim Jong-un telah secara terbuka mengisyaratkan niatnya untuk tidak hanya terus memproduksi sistem senjata strategis yang ada, tetapi untuk mengungkap dan menguji yang baru."
"Dan kebangkitan Ri Pyong Chol pada saat yang sama memperkuat bahwa ini lebih dari sekadar retorika."