TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ada tiga pesawat besar AS yang sedang dalam perjalanan ke Lebanon.
Adapun armada paman sam tersebut berisikan persediaan alat kesehatan, makanan, air bersih, personel termasuk regu penyelamat, teknisi, dokter, dan perawat.
Melalui Badan Pembangunan Internasional AS, bantuan lebih dari USD 15 juta (senilai Rp 220 M) akan disalurkan untuk Lebanon.
Angka ini termasuk bantuan makanan sejumlah 50.000 orang selama tiga bulan.
Trump juga menyatakan akan mengikuti telekonferensi dengan Presiden Lebanon dan para pemimpin negara lainnya pada Minggu (9/8/2020).
Dialog antar-pemimpin dilakukan untuk membahas bantuan kemanusiaan ke Lebanon pasca-meletusnya ledakan di Pelabuhan Beirut awal pekan ini.
Baca: Lebanon Berduka, Update Ledakan di Pelabuhan: 137 Tewas, 5000 Lebih Terluka
Melalui Twitter, Trump menyebut dirinya akan berbicara secara terpisah dengan Presiden Lebanon, Michel Aoun dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang turut ikut dalam pertemuan virtual tersebut.
"Kami akan melakukan telekonferensi pada Minggu dengan Presiden Macron, para pemimpin Lebanon, dan para pemimpin belahan negara lainnya. Semuanya ingin ikut menolong!", cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.
Dalam jumpa pers di klub golfnya di Bedminster, New Jersey, Trump menjelaskan AS sedang bekerja dengan pejabat Lebanon mencatat kebutuhan bantuan kesehatan.
"Kami akan memberikan bantuan lebih lanjut kedepannya," terang Trump, dilansir Reuters, (8/8/2020).
Lebanon, sebuah negara bekas koloni Prancis, pada akhir pekan ini sedang dirundung duka.
Korban tewas diperkirakan telah mencapai lebih dari 154 jiwa.
Sementara lebih dari 5000 orang mengalami luka-luka.
Trump dan Macron diketahui sempat berbicara melalui telepon.
Baca: PBB Gotong Royong Bantu Lebanon, Kucurkan Dana Rp 132 M
Presiden AS mengungkapkan dukanya yang mendalam atas hilangnya nyawa dan kehancuran di Beirut, lapor jubir Gedung Putih, Judd Deere, dalam sebuah pernyataan.
Bantuan
Prancis dan sejumlah negara lain telah mempercepat pengiriman bantuan ke Lebanon.
Para dokter, peralatan kesehatan, dan makanan menjadi pokok prioritas.
Baca: Presiden Prancis Tiba di Beirut, Emmanuel Macron: Lebanon Tidak Sendiri
Lebih jauh lagi, lembaga ini turut meminta militer AS mengangkut persediaan medis dan obat-obatan untuk membantu hingga 60.000 warga Lebanon.
Menurut sumber pemerintah Lebanon, pejabat senior Gedung Putih telah melakukan pertemuan untuk membicarakan ihwal bantuan tambahan.
Adapun muncul kekhawatiran dari pejabat AS persoalan manajemen pengelolaan bantuan di Lebanon.
Senada dengan itu, Macron yang Kamis lalu (6/8) tiba di Beirut, meyakinkan warga Lebanon yang marah, bahwa bantuan tidak akan diberikan kepada 'tangan-tangan korup'.
Bantuan PBB
Badan dan unit kerja di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan siap gotong royong membantu para korban ledakan pelabuhan Beirut, Lebanon.
Lembaga tempat bersatunya negara-negara di dunia ini juga akan mengkoordinasikan bantuan dari negara lain untuk Lebanon.
Seorang jubir organisasi kesehatan dunia (WHO) -badan di bawah PBB- menerangkan bahwa bantuan dikeluarkan mengingat parahnya kerusakan rumah sakit yang menyebabkan hancurnya 500 tempat tidur.
Tak berhenti di situ, WHO juga menyoroti protokol kesehatan, termasuk alat perlindungan pribadi (APD) untuk mencegah penularan Covid-19, juga banyak yang rusak.
Menyusul langkah tersebut, PBB mengeluarkan dana USD 9 juta atau setara Rp. 132,2 Miliar.
Melalui koordinator wilayah Lembaga Kemanusiaan Lebanon, Najat Rochdi, dana tersebut digelontorkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi dampak bencana tersebut.
Baca: Presiden Prancis Tiba di Beirut, Emmanuel Macron: Lebanon Tidak Sendiri
"Dengan adanya tantangan baru yaitu peristiwa dahsyat belakangan ini, PBB di Lebanon bersama mitra akan digerakkan untuk segera memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Lebanon, untuk mendukung aksi pemerintah atas tragedi ini," katanya di situs resmi PBB, Kamis (6/8/2020).
Melalui Twitter, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mendukung pemerintah dan rakyat Lebanon pasca-insiden tersebut.
Guterres mengatakan bahwa persediaan medis telah dikirimkan, serta tim pencarian & penyelamatan sudah berada di lapangan.
Mereka bersiap memberikan dukungan psikologis bagi keluarga terdampak musibah ini.
Duka Lebanon
Lebanon sedang dirundung duka setelah ledakan kuat menghantam negaranya yang sedang krisis ekonomi.
Ledakan yang meratakan sebagian pelabuhan Beirut ini juga ikut merusak tatanan kotanya.
Para petugas berwajib beserta regu penyelamat masih terus melanjutkan pencarian korban.
Setidaknya 137 orang tewas dan melukai lebih dari 5000 jiwa lainnya.
Banyak warga Lebanon kehilangan pekerjaan.
Mereka menyalahkan para politisi yang dianggap mendapat manfaat dari korupsi selama beberapa dekade dalam pemerintahan.
Baca: Viral Video Pengantin Lakukan Foto Nikah saat Ledakan di Beirut Lebanon, Berlarian Selamatkan Diri
"Mereka akan mengkambinghitamkan siapa saja untuk bertanggung jawab atas insiden ini," kata Rabee Azar (33), seorang pekerja konstruksi yang datang ke pelabuhan Kamis pagi, dilansir Reuters, Kamis (/8/2020).
"Ledakan ini merupakan peluru terakhir bagi negara," tambahnya.
"Tidak mungkin ada hasil investigasi, toh tak ada yang mempercayai mereka (otoritas Lebanon), "terang Azar dengan nada pesimis yang sedang berbicara di dekat sisa gudang hancur tempat berton-ton gandum berserakan di tanah.
Berkabung
PM Lebanon, Hassan Diab menyebut negaranya akan berkabung selama tiga hari, sejak Kamis (6/8).
Baca: Viral Video Pengantin Lakukan Foto Nikah saat Ledakan di Beirut Lebanon, Berlarian Selamatkan Diri
Otoritas setempat menyalahkan insiden ini terjadi akibat adanya timbunan besar bahan kimia yang disimpan dalam kondisi tidak layak selama bertahun-tahun di pelabuhan.
Menurut sumber dari internal kementerian, pemerintah meminta agar para petugas pelabuhan ditangkap.
Kunjungan
Presiden Prancis, Emmanuel Macron dijadwalkan tiba di Beirut pada Kamis malam (6/8) waktu setempat bersama rombongan personel dan bantuan penyelamat, dilansir Reuters.
Ia menjadi pemimpin asing pertama yang berkunjung ke lokasi kejadian.
Baca: Presiden Lebanon Tugaskan Komite Khusus untuk Selidiki Ledakan di Beirut, Siapkan Hukuman Maksimal
Perkembangan terbaru ledakan di Lebanon, banyak korban yang belum ditemukan setelah insiden ini.
Seperempat juta orang tidak memiliki rumah yang layak ditinggali setelah gelombang ledakan menghancurkan bangunan, merusak bagian depan rumah, memecahkan jendela bermil-mil jauhnya.
Para pejabat setempat memperkirakan adanya peningkatan jumlah korban tewas, yang sampai saat ini masih dilakukan pencarian.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)