Informasi #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh, S.H, M.H, merupakan Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dirjen Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Putra asli Sleman itu merupakan sosok pekerja keras yang mengedepankan kesederhanaan dalam kehidupan seperti yang diajarkan kedua orangtuanya.
Tak ubahnya seperti meniti anak tangga, karir Zudan sampai pada puncak birokrasi di Direktorat Jenderal (Ditjen) Dukcapil dengan penuh perjuangan serta dukungan orang-orang terdekat.
Masa Sekolah #
Lahir di Sleman, 24 Agustus 1969 merupakan anak pasangan Dibyo Suwarto - Sukamtiyah yang menghabiskan masa kecilnya di Sleman, Yogyakarta.
Prof Zudan lahir dengan 9 bersaudara.
Zudan kecil diceritakan sering membantu sang ibu menumbuk jamu yang akan dijual kepada pembeli di wilayah transmigrasi di sekitar tahun 1970.
Prof Zudan menghabiskan masa kecilnya di Sleman.
Ia bersekolah di SDN Gendengan Sleman tahun 1976-1982, melanjutkan di SMPN 1 Sleman tahun 1982-1985.
Kemudian masuk SMA 3 Padmanaba Yogyakarta.
Saat duduk di bangku sekolah, Zudan terbilang anak berprestasi dalam bidang akademik.
Ia bahkan selalu mendapatkan peringkat 1 atau 2 saat SMP.
Namun, ia merasakan ada ketimpangan sistem sekolah di Indonesia saat ia duduk di bangku SMA.
Di masa SMA, Zudan termasuk siswa yang aktif di kegiatan OSIS, mahasiswa pecinta alam, dan Jurnalistik.
Bahkan ia pernah menjadi Wakil Ketua OSIS di SMA 3 Padmanaba.
Ia juga aktif di kegiatan olahraga dan seni.
Baca: Garibaldi Thohir
Keluarga #
Prof Zudan merupakan suami dari Ninuk Triyanti dan ayah dari 3 anak, yakni Muhammad Fatah Anugerah Akbar, Zatila Aqmar Arifa, dan Hazida Fakhrin Arifa.
Ia dan keluarga tinggal Perumahan Taman Kota, Bekasi Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kesibukan membuat Zudan memiliki waktu yang terbatas untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Tidak jarang ia turut serta menyertakan 3 anaknya dalam kegiatan maupun hobinya, seperti mengajarkan tentang karate atau menyukai pohon bonsai.
Selama masa pandemi Covid-19, dirasakan Dirjen Dukcapil itu menjadi kesempatan untuk berinteraksi secara intens dengan keluarga dengan adanya sistem kerja dari rumah.
Menurutnya, diantara kesulitan terdapat hikmah adanya pandemi Covid-19, salah satunya menjadikan waktu untuk mengenal putra-putrinya yang mulai beranjak dewasa.
Karier #
Prof Zudan memulai karir sebagai Dosen Fakultas Hukum Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada tahun 1993 hingga 2002.
Mengajar menjadi salah satu cita-cita Prof Zudan.
Menurutnya menjadi guru atau dosen merupakan pekerjaan yang sangat menyenangkan.
Baginya dengan menjadi dosen sarana untuk mentransfer ilmu yang menjadi jariyah untuk kehidupan yang akan datang.
Pekerjaannya sebagai Dirjen Dukcapil terkadang mengharuskan ia pergi keluar kota.
Oleh karena itu, belakangan Zudan mulai mengurangi aktivitasnya sebagai akademisi dan hanya mengambil jadwal mengajar di hari tertentu.
Ilmu hukum merupakan ilmu yang menjadi konsentrasi Prof Zudan selama menuntut ilmu maupun berkarir.
Salah satu gurunya saat duduk di bangku SMA merupakan pemicu yang membuatnya tertarik untuk mempelajari dan memperdalam ilmu hukum.
Gelar Profesor yang diraihnya dalam usia yang tergolong muda pada saat itu, yaitu 35 tahun menjadikan dirinya sebagai salah satu guru besar termuda dalam komunitas guru besar ilmu hukum.
Saat menjadi dosen, Zudan memiliki pengalaman unik.
Pada tahun 2002, ia bersama sejumlah rekan mendirikan program magister di universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.
Saat itu ia berusia 33 tahun yang tergolong muda memperoleh gelar doktor.
Mahasiswa disana belum ada yang mengenalinya ketika akan mengajar pertama kali, sehingga ia menunggu pergantian dosen di sudut kampus.
Seorang mahasiswa menegurnya karena disangka mahasiswa yang tidak pernah terlihat masuk kuliah.
Prof Zudan menjadi salah satu orang di tim yang berjasa dalam penyatuan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) dan Sekolah Tinggi Pemerintah Dalam Negeri (STPDN).
Penggabungan kedua lembaga merupakan tantangan tersendiri baginya, karena ia mendapat tugas berat untuk menyusun kebijakan pengelolaan kedua lembaga.
Sebelumnya Zudan sempat menjabat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kementerian Keuangan.
Katanya Kementerian Keuangan merupakan salah satu kementerian yang gajinya besar, sehingga ia sempat tertarik untuk bergabung disana.
Keinginan sekolah yang tinggi, akhirnya membuat posisinya di Kementerian Keuangan harus ia tinggalkan untuk mengejar program doktor di Universitas Diponegoro dari beasiswa yang ia dapatkan dari program unggulan di Bank Dunia.
Namun, ia menemukan jalan untuk masuk dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri setelah menyelesaikan gelar doktor.
Sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus KORPRI Nasional, ia melihat terjadi dinamika dan perkembangan yang luar biasa yang harus diantisipasi oleh seluruh birokrat di Indonesia, terutama kaitannya dengan dunia digital.
Kemampuan digital menurutnya saat ini suatu kewajiban yang harus dimiliki PNS.
Aparatur Sipil Negara (ASN) menurutnya saat ini harus memilikinya semangat pantang menyerah untuk menghadapi tantangan yang akan di hadapi di era digital.
Kendati berbeda zaman, ASN saat ini juga harus menumbuhkan integritas serta semangat bela negara dan mencintai Indonesia.
Baca: Erick Thohir
Hobi #
Zudan aktif menulis buku, artikel di media massa serta jurnal ilmiah.
Ia berujar menulis dan membaca merupakan hobinya sejak kecil.
Sejak SMA, Dirjen Dukcapil itu aktif dalam pembuatan majalah sekolah.
Progresif merupakan majalah yang pernah ia dan timnya buat saat duduk di bangku SMA.
Saat berkuliah, ia tergabung dalam pembuatan majalah Novum di Fakultas Hukum Universitas Negeri Solo (UNS).
Bahkan ia pernah menjabat sebagai ketua dewan redaksi pertama yang membuat jurnal perspektif yang bertahan dari 2004 hingga saat ini dan sudah terakreditasi di Kementerian Pendidikan.
Hingga saat ini Zudan masih aktif untuk menulis dan sedang mengerjakan buku yang berkaitan dengan administrasi kependudukan Indonesia.
Karate juga menjadi hobi Zudan sejak di bangku SMP.
Menurutnya karate mengajarkan sifat rendah hati, dimana saat seorang karateka menang tetap tidak diperkenankan untuk menyakiti lawan.
Dalam karate juga diajarkan untuk menghormati lawan.
Karate baginya juga berperan dalam membangun karakter yang tegas ulet dan tanggap dalam situasi krisis sekali pun.
Hobi lain yang digeluti Prof Zudan saat ini adalah bercocok tanam.
Hingga saat ini ia juga masih aktif menjadi Ketua Umum Rumah Bonsai Indonesia.
Bonsai merupakan pohon besar yang dikecilkan.
Zudan mengatakan di dalam Bonsai memiliki filosofi bahwa segala sesuatu bisa dibentuk.
Ia juga menjelaskan dari bonsai dapat diambil pelajaran bahwa segala sesuatu bisa di hargai bila berada pada tempatnya.
Mengambil dari filosofi pohon bonsai, disampaikannya bahwa di dalam hidup, seseorang baru akan dihargai ketika berada di tempatnya.
Karena menurutnya jika tidak ada pada tempatnya, bakat orang tersebut tidak akan bisa diketahui.
(Tribunnews Larasati/Dyah Utami)
| Info Pribadi |
|---|
| Nama | Prof. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh |
|---|
| Tempat Tanggal Lahir | Sleman, 24 Agustus 1969 |
|---|
| Jabatan | Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dirjen Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). |
|---|
| Almamater | Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo (S1) |
|---|
| Universitas Diponegoro (S2) (S3) |