Hari Ini dalam Sejarah: Gunung Asama Meletus dan Sebabkan Kelaparan yang Menewaskan 20.000 Orang

Erupsi Asama 1783 merupakan erupsi gunung yang paling merusak di Jepang selama 1.000 tahun terakhir.


zoom-inlihat foto
gunung-asama.jpg
Wikimedia Commons/Ski Mania
Gunung Asama di Jepang, dilihat dari sisi Timur.

Erupsi Asama 1783 merupakan erupsi gunung yang paling merusak di Jepang selama 1.000 tahun terakhir.




  • Informasi awal


((( upload pagi ))) TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gunung Asama di Jepang memasuki fase puncak letusan pada 4 Agustus 1783 dan berlangsung selama 15 jam.

Memiliki durasi erupsi panjang selama tiga bulan pada 1783, Gunung Asama mengeluarkan guguran batu apung (pumice), aliran piroklastik, dan aliran lava.[1]

Letusan besar tahun 1783 ini menewaskan 1.600 orang dan menyebabkan kelaparan yang kemudian menewaskan 20.000 orang.

Di sekitar Asama, ada sekumpulan batuan hasil erupsi, dinamakan "Oniohidashi" atau bisa disebut "Pompeii dari Jepang".[2]

Erupsi Asama 1783 merupakan erupsi gunung yang paling merusak di Jepang selama 1.000 tahun terakhir.[3]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 3 Agustus 1492: Christopher Columbus Mulai Berlayar ke Dunia Baru Amerika

Gunung Asama dilihat dari Onioshidashi
Gunung Asama dilihat dari Onioshidashi (Wikimedia Commons/?64)

  • Latar belakang geologis


Gunung Asama terletak di perbatasan Prefektur Gunma dan Nagano di Pulau Honshu.

Hingga saat, ini Gunung Asama menjadi gunung paling aktif di pulau tersebut.

Badan Meteorologi Jepang menggolongkan sebagai rank "A".

Gunung ini berketinggian 2.568 meter (8.425 kaki) di atas permukaan laut.[4]

Asama tumbuh dari sekumpulan puncak yang lebih kecil, termasuk Kurofu (aktif sekitar 20.000 tahun lalu), Hotokeiwa (aktif antara 20.000 dan 10.000 tahun lalu), dan Maekake (aktif sejak 10.000 tahun lalu).[5]

  • Letusan Abad Pertengahan


Gunung Asama pernah meletus pada awal abad ke-12, tepatnya pada tahun 1108.

Menurut hasil studi tim peneliti dari Swiss, erupsi ini mungkin memicu kelaparan parah di Eropa.

Erupsi gunung yang besar dapat mempengaruhi musim.

Gunung-gunung besar melepaskan gas-gas, termasuk sulfur dioksida ke udara bersama abu.

Ketika gas dan abu mencapai stratosfer, gas itu memblok sinar matahari.

Saat itu, Eropa juga dilanda anomali iklim, seperti hujan yang sangat lebat dan musim panas yang justru dingin.

Menurut buku harian bangsawan Periode Heian akhir, padi dan tanaman tidak dapat ditanam setelah gunung itu meletus karena tertutupi abu tebal.[6]

  • Letusan besar 1783


Erupsi tahun 1783 menjadi letusan Asama yang terbesar dalam 1.000 tahun terakhir.

Letusan ini memiliki durasi yang panjang selama tiga bulan, yakni 9 Mei sampau 5 Agustus.

Awalnya, pada 9 Mei, hanya ada letusan-letusan kecil. Namun, pada 17 Juli, mulai muncul letusan besar.

Seminggu kemudian, abu Asama jatuh sampai Edo (sekarang Tokyo) dan gempa vulkanik terasa sampai Ibu Kota itu.

Pada 2 Agustus, badai vulkanik terjadi dan Asama memunculkan bulu-bulu api.

Dua hari kemudian, aliran piroklasik turun menuju lereng utara dan abu yang jatuh menghalangi sinar matahari.

Puncak letusan terjadi pada 5 Agustus ketika Asama memuntahkan abu, lahar mengalir ke lereng utara dan mengubur Desa Kanbara.

Puing-puing bercampur air Sungai Agatsuma dan menghancurkan permukiman sepanjang jalur air.

Bahkan puing-puing ini juga menyebabkan banjir selama beberapa tahun berikutnya.

Aliran lava Asama 1783
Aliran lava Asama 1783 (Wikimedia Commons/Batholith)

Namun, sehari kemudian, Asama mulai tenang. Lebih dari 1.600 orang tewas akibat letusan gunung ini.[7]

Karen erupsi ini membawa abu jauh ke atas, sinar matahari tidak dapat mencapai permukaan tanah di Jepang utara sampai beberapa bulan kemudian.

Hal ini membuat suhu turun dan bertepatan dengan bencana kelaparan Tenmei, salah satu bencana kelaparan terbesar pada zaman Edo.

Diperkirakan ada 20.000 orang yang meninggal akibat bencana kelaparan setelah gunung ini meletus.[8]

(Tribunnewswiki/Tyo)



Peristiwa Gunung Asama meletus
Pada 4 Agustus 1783
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved