TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kendala internet dialami empat orang siswa sekolah di Bandar Lampung.
Mereka adalah Ali (15), Firnando (15), Rezi (12) dan Faiz (12) tinggal di Jalan Nangka, Gang Stiap, Kelurahan Sepang Jaya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.
Keempat pelajar berbeda jenjang tersebut terpaksa memanfaatkan wifi gratis tetangga sebagai akses internet yang lokasinya berada di tempat yang oleh sejumlah warga disebut sarang ular.
Keberanian Ali dan kawan kawan berburu wifi tetangga jadi perhatian warga sekitar.
Namun, bagi Ali maupun Firnando hal itu tidak menyurutkan mereka untuk tetap dapat mengikuti pelajaran secara daring/online.
Kedatangan ular maupun hewan liar lain hanya membuat mereka terkejut.
Baca: UNS Surakarta Berikan Bantuan Keringanan Biaya UKT Bagi Mahasiswa di Tengah Covid-19
Tak jarang ular tersebut ditangkap sendirian oleh Firnando.
"Gak takut, kadang lagi mau ngirim tugas ada Biawak. Pernah juga ada ular sanca tiba-tiba nongol," kata Firnando, dikutip dari Tribun Lampung, Kamis (23/7/2020).
Tak Cukup Kuota
Setiap pagi, mereka duduk berjejer di samping tembok kosan yang memiliki akses internet.
Hanya beralaskan papan, berteduh di bawah pohon pisang, mereka mengikuti pelajaran dengan penuh semangat.
Ali, siswa kelas 10 SMA Gajah Mada menuturkan, mengikuti pelajaran secara daring cukup menguras Kuota Internet.
Sementara ayahnya, seorang kuli bangunan hanya mampu memberi jatah kuota 1 GB perminggunya.
Baca: Tahun Ajaran Baru Dimulai Besok, Ini 23 Sumber Belajar dari Rumah dari Kemendikbud untuk SD-SMA
Sedangkan, kata Ali, kebutuhan untuk mengikuti pelajaran, satu hari bisa memakan Kuota Internet sampai 1 GB lebih.
"Kalau cuma mengirim tugas, paling habis 500 MB, tapi kalau ikut Zoom bisa 1 GB lebih," ujar Ali, Kamis (23/7/2020).
Karena tak ingin memberatkan orangtuanya, Ali setiap pagi, bersama tiga kawannya nongkrong di bawah pohon pisang di dekat rumahnya, untuk mendapatkan internet gratis dari wifi yang dimiliki tetangganya.
Menurut Ali, mereka sudah mendapatkan izin dari sang pemilik kosan untuk menggunakan wifi tersebut.
Namun, lanjut Ali, pemilik kosan memberikan syarat, untuk tidak menyebarkan kata sandi wifi ke orang lain.
"Yang punya wifi sudah meninggal, tapi dia kasih izin kami buat pake wifinya," kata Ali.
Tak Ikut Kelas Saat Hujan
Meski sudah ada alternatif lain pengganti kuota, namun Ali dan temannya masih mendapati kendala.
Terutama saat hujan turun, mereka tidak bisa mengikuti pelajaran pada hari itu.
"Kadang gak bisa absen, kadang juga ngirimnya telat jadi gak diterima lagi sama gurunya," timpal Firnando.
Baca: Kabar Gembira, Kominfo Anggarkan Rp 1,9 Triliun per Bulan untuk Subsidi Kuota Internet
Siswa kelas 9 SMP Negeri 19 Bandar Lampung ini mengaku pasrah saat hujan turun di pagi hari.
Karena tak ada pilihan lain selain menggantungkan akses internet dari wifi milik tetangga.
"Kalau kuota ada enak, masih bisa kirim tugas, ikut Zoom."
"Ya kalau lagi gak ada, terpaksa absennya dibuat alpa (tidak hadir)," terangnya.
Tak ubahnya Ali, Firnando pun hanya mendapatkan jatah Kuota Internet dari orangtuanya 1,5 GB perminggu.
Jatah tersebut, diakui Firnando, jauh dari kata cukup, karena penggunaan perhari bisa lebih 500 MB.
Kondisi keuangan ayah Firnando yang hanya bekerja sebagai juru parkir, sangat tidak memungkinkan untuk memberi kuota lebih.
Orangtua Khawatir
Orangtua Rezi, Eni Murya Sari (38) mengaku prihatin sekaligus khawatir dengan kondisi anaknya.
Dirinya was-was saat anaknya masuk ke dalam kebun pisang demi menyambung internet.
Karena keadaan ekonomi keluarga yang tak memungkinkan, Erni hanya bisa memantau dari kejauhan.
"Sebenarnya was-was karena di sini sarang ular, tapi mau gimana lagi, mau beli kuota kita gak ada uang," kata Eni.
Karena itu, setiap anaknya berburu wifi di kebun belakang rumah, Eni memastikan tidak terjadi apa-apa terhadap anaknya.
"Sebentar, sebentar pasti saya panggil. Namanya ibu sama anak pasti cemas, tapi mereka ya biasa saja, gak takut gitu," katanya.
Menurut Eni, sistem belajar daring sangat memberatkan, karena harus menambah pengeluaran selain untuk membeli kebutuhan pokok.
Baca: Kemendikbud Beri Keringanan Biaya Kuliah, Ini Syarat Agar Dapat Bantuan UKT (SPP) Selama 1 Semester
Ia merinci, untuk anaknya yang duduk di bangku Sekolah Dasar ini, bisa menghabiskan uang Rp 200 ribu sebulan, hanya untuk beli Kuota Internet.
"Mending belajar di sekolah saja, dengan uang segitu sudah bisa beli kebutuhan sehari-hari buat sebulan," keluh Eni.
Pandemi Covid-19 memaksa siswa sekolah mengikuti pelajaran dari rumah.
Sistem belajar dalam jaringan atau belajar daring tentunya membutuhkan biaya ekstra untuk beli Kuota Internet.
Namun, tak semua anak sekolah bernasib baik, memiliki orangtua yang mampu membelikan Kuota Internet.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Tribun Lampung)