Diduga, lingkungan di sekitar tempat tinggal korban juga banyak anak seumurannya yang sudah terbiasa berkata kasar.
Selain itu, ada pula dugaan eksploitasi anak di sekitar lingkungan tempat tinggal korban dan pelaku.
"Kita panggil P2TP2A untuk mendalami kasus ini. P2TP2A ini akan menentukan apakah terjadi eksploitasi anak atau tidak," ujar Hendra.
Hamid Sempat Hilang
Sebelumnya, jasad tak berdosanya kali pertama ditemukan oleh seorang bocah sebayanya yang mengira AP adalah boneka.
Polisi pun meyakini bocah 5 tahun tersebut dibunuh.
Pasalnya, posisi toren terbilang tinggi dan tak mungkin dijangkau oleh tubuh AP yang kecil.
Kejanggalan demi kejanggalan pun mulai tampak tatkala ayah tiri AP kini menghilang.
Padahal, seluruh keluarganya langsung berkumpul begitu jasad AP ditemukan tak bernyawa.
Ayah tiri korban Hamid Arifin (25) pun hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Menurut Aisah, suaminya pegi entah kemana sejak sang anak ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di dalam toren.
Menurut Aisah, sang suami pun tidak ikut saat diri mendatangi kantor polisi.
"Belum tahu lokasi di mana sekarang. Ke kantor polisi enggak ikut," katanya, dikutip dari TribunBogor.com.
Toren Tinggi Tak Mungkin Dijangkau Anak Kecil
Siti Aisyah (29) memastikan jika gadis kecilnya itu tak mungkin bisa naik seorang diri ke atas toren.
Terlebih, toren tersebut berukuran besar dengan daya tampung air 1000 liter.
"Enggak mungkin naik ke toren karena memang tinggi," ujar Aisah di kediaman orang tuanya di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sabtu (18/7/2020).
Ia menceritakan, anaknya AP dihari itu memang tak itu dengannya pergi mengamen di wilayah Bandung.
Aisah mengaku baru pulang ke rumah pada Jumat (17/7/2020) dini hari.
"Paginya saya dan suami ada di rumah kontrakan. Sebelum pergi (mengamen) jam dua siang hari Kamis, nitip ke ibu saya. Pulang setengah satu malam, lihat di kontrakan enggak ada," ujar Asih, sapaannya, di kediaman orang tuanya dii Cicalengka, Kabupaten Bandung, Sabtu (18/7/2020).