TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bakal terjadi perubahan demografi besar-besaran pada tahun 2100.
Diberitakan Al Jazeera, pada waktu itu penduduk China justru diperkirakan akan berkurang.
Bahkan, dalam hasil penelitian yang diterbitkan The Lancet, Rabu (15/7/2020) itu menunjukkan populasi China akan turun dalam jumlah yang bukan main.
Jumah penduduk di negara itu akan turun dari 1,4 miliar orang hari ini menjadi 730 juta dalam 80 tahun.
Pada tahun itu, ilmuwan memproyeksikan bumi akan dihuni oleh 8,8 miliar orang.
Meski bertambah banyak dari sekarang, jumlah itu masih lebih sedikit dibanding proyeksi yang dilakukan PBB.
Baca: AS Akan Dukung Negara-Negara yang Meyakini China Telah Melanggar Klaim Maritim Mereka di LCS
Bahkan 183 dari 195 negara akan jatuh di bawah ambang batas yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat populasi, kata penelitian tersebut.
Berbeda dengan China, negara di Afrika Sub-Sahara, akan bertambah tiga kali lipat menjadi sekitar tiga miliar orang.
Nigeria saja berkembang menjadi hampir 800 juta pada tahun 2100, nomor dua setelah India yang hanya 1,1 miliar.
Dampaknya Bagi Ekonomi Dunia
Baca: Kolonel China Sebut Pergerakan Militer AS di Laut China Selatan Akan Sia-sia
Perubahan demografi ini membuat peneliti memperkirakan akan ada perbedaan pengaruh ekonomi antarnegara.
Mereka memperkirakan pada tahun 2050 produk domestik bruto China akan menyusul Amerika Serikat, tetapi kembali ke tempat kedua pada tahun 2100.
PDB India akan naik untuk mengambil tempat nomor tiga, sementara Perancis, Jerman, Jepang dan Inggris akan tetap di antara 10 ekonomi terbesar di dunia.
Brasil diproyeksikan turun dari peringkat kedelapan hari ini ke urutan 13, dan Rusia dari peringkat 10 hingga 14.
Italia dan Spanyol masing-masing turun dari 15 ke 25 dan ke 28.
Indonesia bisa menjadi ekonomi terbesar ke-12 secara global, sementara Nigeria - saat ini ke-28 - diproyeksikan akan masuk 10 besar.
"Pada akhir abad ini, dunia akan menjadi multipolar, dengan India, Nigeria, Cina, dan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan," kata Richard Horton, yang menggambarkan penelitian tersebut sebagai garis besar "pergeseran radikal dalam kekuatan geopolitik."
Sampai sekarang, PBB - yang masing-masing memperkirakan 8,5, 9,7 dan 10,9 miliar orang pada tahun 2030, 2050 dan 2100 - memiliki monopoli virtual dalam memproyeksikan populasi global.
Baca: Pakar Virus China Bongkar Kebobrokan WHO Saat Tangani Corona Hingga Menjadi Pandemi Global
Perbedaan antara angka PBB dan IHME sangat bergantung pada tingkat kesuburan.
Yang disebut "tingkat penggantian" untuk populasi yang stabil adalah 2,1 kelahiran per wanita.