TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebanyak 25 mahasiswa kedokteran UNS yang berasal dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terkonfirmasi tertular Covid-19.
Mahasiswa tersebut diketahui sedang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi.
Meski bertugas di rumah sakit rujukan Covid-19, namun dari hasil tracing sementara mereka justru tertular dari luar.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, dugaan sementara penularan itu dari aktivitas yang dilakukan salah seorang mahasiswa yang melakukan pesta perayaan wisuda.
"Indikasi-indikasinya kemarin ada yang habis wisudaan kemudian berkumpul bareng teman-temannya. Sedikit ada pesta kecil. Nah yang begini ini kadang kita lepas kontrol," ungkap Ganjar kepada wartawan, Senin (13/7/2020).
Pakar Epidemiologi Dicky Budiman pun memberikan tanggapan terkait dengan banyaknya orang yang terus-terusan mengadakan acara yang melibatkan orang banyak.
Ia pun mengingatkan jika pandemi Covid-19 ini belum sepenuhnya berakhir, sehingga masyarakat lebih baik tidak berkerumun.
Pada kondisi seperti saat ini, di mana pandemi sedang meningkat kasusnya secara progresif baik di dunia dan Indonesia, sikap dan langkah terbaik yg harus dilakukan adalah meminimalisir kerumunan atau keramaian," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/7/2020) pagi.
Baca: Kesal Solo Disebut Zona Hitam, Gubernur Ganjar Pranowo: Yang Hitam Itu Bajumu
Baca: Ganjar Geram Solo Disebut Zona Hitam, Wali Kota Solo: Agar Masyakarat Lebih Waspada
Baca: Masuk Zona Hitam, Wali Kota Solo Larang Pemilik Kos Terima Warga Baru, Ini Sanksi jika Melanggar
Dicky menekankan, hal ini patut dipertimbangkan karena ada 3 cara penularan virus kini harus diwaspadai.
Kandidat doktor di Griffith University ini menyebutkan, ketiga cara itu adalah melalui perantara tetesan cairan tubuh atau droplet penderita, melalui menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus atau fomite, dan melalui udara atau aerosol airbone, terutama di ruangan dengan ventilasi buruk.
Untuk mencegah penularan melalui tetesan cairan bisa dilakukan dengan menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak aman.
"Namun pada faktanya, tetap saja dari sekian orang tersebut akan ada yang abai, akan ada yang salah memakai maskernya, dan akan ada yang lupa cuci tangan," ujar Dicky.
Tidak lupa, permukaan-permukaan benda yang sebelumnya telah terkontaminasi dan tersentuh oleh orang banyak, juga bisa menjadi penyebab penularan.
Baca: Jalani Tes Swab, 25 Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di UNS Positif Covid-19
Baca: Ratas Covid-19 Berlangsung Tegang, Jokowi Tolak Dengarkan Laporan Menterinya: Tolong, Tidak Usah
Baca: Istilah ODP, PDP, dan OTG pada Kasus Covid-19 Resmi Dicoret Menkes Terawan, Apa Gantinya?
Hal ini menyebabkan sulit untuk memastikan semua orang tetap menjaga gerakan dan jangkauan tangannya.
Oleh karena itu, meski sebuah acara telah menerapkan protokol kesehatan hal itu tidak dapat menjamin 100 persen tidak terjadinya transmisi virus antara satu orang dengan orang lain.
"Karena protokol kesehatan itu adalah upaya yang bermanfaat untuk menekan atau memperlambat terjadinya penularan atau penambahan kasus. Namun secara teori dan faktanya, hal ini tidak bisa menghilangkan sama sekali potensi penularan Covid-19," jelas Dicky.
Diketahui, hingga kini terdapat 64 orang positif yang tercatat di Kota Solo.
Dari 64 pasien positif tersebut, 22 pasien dirawat, 37 dinyatakan sembuh, dan 5 orang meninggal dunia.
Jumlah kasus di Solo ini lebih sedikit dibanding Kota Salatiga, yakni 92 kasus dengan perincian 19 pasien masih dirawat dan 73 orang sembuh.
(TribunnewsWiki.com/Restu, Kompas.com/Luthfia Ayu Azanella)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pesan untuk Kita Semua dari Temuan Kasus Covid-19 di Pesta Wisuda..."