Oleh karena itu, PJJ praktis hanya bisa dilaksanakan di kota besar, seperti Jayapura dan Mimika.
Bahkan, di kota pun, tak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet atau membelikan gawai bagi anak untuk mengikuti PJJ. Tidak hanya di Papua, PJJ pun sulit diterapkan di Maluku.
Selain tidak semua wilayah terjangkau akses internet, sebagian keluarga kesulitan untuk membelikan gawai sebagai sarana belajar anak-anak.
”Di Dobo (ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru), sinyal internet lemah, apalagi di kampung-kampung. Di kampung, sinyal untuk telepon pun susah,” ujar Mila Ganobal, tokoh pemuda Kepulauan Aru.
Kepulauan Aru terdiri atas 547 pulau. Di wilayah ini ada 117 desa yang tersebar di 10 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 113.000 jiwa.
Sebagian warganya hidup di bawah garis kemiskinan, terlebih selama pandemi, ekonomi masyarakat sangat terpukul.
Baca: Terganjal Sistem PPDB, Seorang Siswa Berprestasi dengan Ratusan Penghargaan Terpaksa Putus Sekolah
Kondisi serupa dialami siswa di Pulau Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Untuk siswa SD, setiap guru ditugaskan mendatangi rumah siswa satu per satu.
”Siswa SMP dan SMA ini agak susah diatur pembelajarannya. Yang jauh dari sekolah diharapkan belajar sendiri di rumah. Tidak ada interaksi dengan guru,” tutur Pendeta Devi P Lopulalan, tokoh agama di Seira.
Sementara itu di Lampung, Kepala SMK Penerbangan Raden Intan Bandar Lampung Suprihatin menyampaikan, tak semua siswa mempunyai gawai untuk PJJ.
Padahal, sebagian besar kegiatan belajar dilakukan melalui aplikasi Whatsapp atau Zoom.
Siswa yang tidak mempunyai gawai diminta datang ke sekolah untuk mengambil tugas dari guru.
Siswa lalu mengirimkan tugas melalui surel.
(TribunnewsWiki/Tyo/Kompas/Jawahir Gustav Rizal)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hari Pertama Sekolah, Pembelajaran Jarak Jauh yang Penuh Tantangan"