Bagaimana Spekulasi Kesehatan hingga Kematian Kim Jong Un Bisa Muncul?
Baca: Korea Utara Terdampak Covid-19, Moon Jae In dan Donald Trump Setuju Berikan Bantuan Kemanusiaan
Baca: Kim Jong Un Uji Coba Rudal, Trump Ungkap Dapat Surat Manis dari Korut: Hubungan Kami Baik-baik Saja
Diberitakan TribunnewsWiki.com dari BBC, Kim Jong Un baru-baru ini melewatkan perayaan ulang tahun kakeknya pada 15 April 2020.
Padahal acara itu adalah salah satu acara terbesar tahun ini, menandai kelahiran pendiri negara.
Kim Jong Un tidak pernah melewatkannya.
Selain itu, tampaknya sangat tidak mungkin ia sekadar memilih untuk tidak muncul, tanpa alasan yang kuat.
Tidak dapat dihindari, ketidakhadirannya memicu spekulasi dan rumor.
Di antara rumor itu, tidak ada yang mudah dibuktikan.
Baca: Tak Lakukan Lockdown, Korea Selatan Punya Cara Tersendiri Tekan Laju Penularan Covid-19
Baca: 91 Pasien di Korea Selatan Positif Covid-19 Lagi Setelah Dinyatakan Sembuh, Ada Kemungkinan Kambuh
Kim Jong Un terakhir kali muncul di media pemerintah pada 12 April, dalam selebaran yang tidak bertanggal.
Seperti biasa, gambar-gambar itu menunjukkan dirinya dalam keadaan santai dan nyaman.
Kim memimpin rapat politik penting sehari sebelumnya, yang diketahui dari media pemerintah.
Tapi dia belum terlihat sejak itu.
Media pemerintah juga tidak menyebutkan kehadirannya pada uji coba rudal yang dilaporkan minggu lalu.
Dia biasanya hadir dalam peluncuran seperti itu.
Awal Munculnya Isu Kesehatan Kim Jong Un yang Memburuk
Baca: China Mulai Dominasi Lembaga PBB, Trump Berupaya Kurangi Hegemoni Beijing dengan Hentikan Dana WHO?
Baca: Jadi Negara dengan Kasus Covid-19 Terbanyak, Warga AS Justru Demo Tuntut Pemerintah Buka Lockdown
Kabar mengenai kesehatan Kim Jong Un yang memburuk, muncul dalam sebuah laporan situs web Korea Utara pada hari Selasa.
Sebuah sumber anonim mengatakan kepada Daily NK bahwa mereka tahu Kim Jong Un telah berjuang dengan masalah kardiovaskular sejak Agustus lalu "tetapi memburuk setelah kunjungan berulang ke Gunung Paektu".
Sumber tunggal itu kemudian dirujuk berbagai media internasional.
Kantor-kantor berita kemudian mulai mengabarkan klaim itu, dan hanya itu yang mereka miliki sampai beberapa laporan muncul bahwa agen-agen intelijen di Korea Selatan dan AS turut memantau klaim tersebut.
Tapi kemudian muncul berita utama yang lebih sensasional di media AS, bahwa pemimpin Korea Utara itu dalam kondisi kritis setelah operasi jantung.
Namun, pernyataan dari pemerintah Korea Selatan, dan sumber-sumber di intelijen China (berbicara kepada kantor berita Reuters) mengatakan kabar ini tidak benar.