TRIBUNNEWSWIKI.COM - Konflik China dengan India dinilai baru permulaan.
China dinilai memang tengah membangun pengaruhnya di dunia.
Karenanya, Amerika Serikat dan NATO dinilai perlu menjaga hubungan dekat.
Diberitakan Kontan, hal itu untuk mempertahankan kepentingan mereka di Kutub Utara, yang kaya akan sumber daya alam.
Pasalnya, Laksamana Amerika Serikat, James Foggo, yang merupakan Komandan Pasukan Angkatan Laut AS di Eropa-Afrika membuat klaim yang menggemparkan.
Ia mengatakan China tengah berusaha mengeksploitasi Kutub Utara.
Pernyataan itu disampaikan Foggo dalam seminar online diselenggarakan oleh think tank yang berbasis di London, Institut Internasional untuk Studi Strategis pada hari Kamis (25/6/2020).
Aktivitas China di wilayah itu serta di Afrika dan Eropa menimbulkan kekhawatiran bagi AS.
Anggota aliansi keamanan transatlantik juga merasakan hal yang sama.
“China bahkan menyebut dirinya dekat negara Kutub Utara,” kata Foggo.
Foggo juga singgung soal jalur sutra Kutub.
"Mereka sedang mengincar peluang investasi mulai dari eksplorasi sumber daya alam hingga potensi lalu lintas maritim komersial di masa depan lewat 'Jalan Sutra Kutub'," katanya seperti dilansir South China Morning Post.
Pernyataan Foggo sebenarnya merujuk pada ambisi China untuk memperpanjang Belt and Road Initiative yang diprakarsai Presiden Xi Jinping.
Beijing mengatakan mereka berminat terhadap Kutub Utara terkait dengan perdagangan dan perlindungan lingkungan.
Akan tetapi Foggo menekankan, hal itu bisa saja cuma alasan palsu.
Ia pun menyamakan dengan klaim China soal Laut China Selatan.
"Dengan China memiliki presedennya sendiri untuk membuat klaim palsu atas jalur air internasional di Laut China Selatan, ada kemungkinan bahwa China juga akan berusaha untuk membengkokkan aturan yang menguntungkan mereka di Kutub Utara," katanya.
Tak hanya di Kutub Utara, Foggo juga menyoroti pengaruh China yang mulai menyebar di Eropa.
Satu di antaranya ialah teknologi telekomunikasi 5G dan mengendalikan infrastruktur pelabuhan sebagai penyebab kekhawatiran bagi Eropa.
"NATO tidak bisa lagi mengabaikan kegiatan China di Eropa," katanya.
Ia tak menampik pertumbuhan investasi China di Afrika dan Eropa dapat digunakan untuk memengaruhi otoritas lokal dan membahayakan kepentingan Angkatan Laut AS di seluruh dunia.
"Jenis pengaruh ini merupakan masalah keamanan dan dapat digunakan untuk membatasi akses ke pelabuhan dan bandara utama dengan nyaman sambil memberikan akses ke informasi sensitif pemerintah dan militer melalui teknologi perusahaan milik negara dan perusahaan yang dikendalikan negara," katanya.
China pun mulai berupaya untuk tampil sebagai pemimpin dunia.
Foggo pemimpin China dan diplomat "Wolf Warrior" yang lebih agresif di negara itu membatasi informasi tentang virus corona dan menyumbangkan peralatan dan personel, bahkan di Eropa sebagai cara untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pemimpin dunia.
AS Tingkatkan Kehadiran di Laut China Selatan
Di sisi lain, AS terus meningkatkan kehadiran Angkatan Laur mereka di Laut China Selatan.
Angkatan Laut AS mengumumkan kapal tempur litoral USS Gabrielle Giffords telah bergabung dengan dua kapal Pasukan Bela Diri Jepang, untuk latihan bersama, Selasa (23/6/2020).
Diberitakan Kontan dari Stripes.com, kapal Angkatan Laut AS berlayar dengan kapal pelatihan JMSDF JS Kashima dan JS Shimayuki.
Kedua belah pihak menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi saat lakukan operasi bersama.
"Kesempatan untuk beroperasi dengan teman-teman dan sekutu kita di laut sangat penting untuk kesiapan dan kemitraan kita bersama," kata Komandan Belakang Expeditionary Strike Group 7, Laksamana Muda Fred Kacher dalam pernyataannya seperti yang dikutip Stripes.com.
Mereka tak menampik jika ke depan akan sering beroperasi bersama.
Baca: Sempat Ditolak, Kini Gelombang Pertama TKA Asal China Berjumlah 152 Orang Telah Tiba di Kendari
"Mereka adalah profesional kelautan masa depan yang pelaut [AS] kami akhirnya akan beroperasi bersama dalam tahun-tahun mendatang," jelas komandan awak biru Gabrielle Giffords, Cmdr. Dustin Lonero.
Kapal perang AS dan Jepang mempraktikan komunikasi dan manuver presisi.
Jepang memang telah meningkatkan kehadiran tentaranya di Laut China selatan beberapa waktu terakhir.
Buku putih Kementerian Pertahanan menebut Jepanng harus proaktif dan independen dalam meningkatkan kehadiran mereka di wilayah tersebut.
Pasalnya, kawasan laut China Selatan telah disengketakan oleh China beberapa waktu ini.
Beijing mengklaim laut tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.
Akan tetapi AS dan negara lain menganggap laut China Selatan sebagai wilayah internasional.
Hal itu karena Laut China Selatan bersinggungan dengan banyak negara lain, seperti Malaysia, Filipina, China, dan Vietnam.
Semua negara itu tengah berdebat mengenai status kepemilikan pulau dan terumbu karang yang ada di bawahnya.
Asia Maritime Transparency Initiative menyebut, sejak 2013, China telah melakukan militerisasi 27 fitur dalam rantai kepulauan Spratly dan Paracel di kawasan itu.
Langkah itu ditempuh China sebagai upaya memperluas kehadiran dan otoritasnya.
Bahkan China menegaskan kapal militer asing harus meminta izin berlayar dalam jarak 12 mil laut dari pantai di pulau itu.
Namun, demi menentang klaim China, AS secara teratur melakukan operasi dan kebebasan navigasi di wilayah itu.
China Klaim 60 Persen Kapal AS Ada di Asia Pasifik
Sebelumnya, pejabat militer China mengklaim militer AS telah mengerahkan kekuatan di wilayah Asia Pasifik, seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (23/6/2020).
Berdasar laporan yang ia paparkan, bahkan 60 persen kapal perang AS telah berada di kawasan Indo-Pasifik, lengkap dengan 3 kapal induk.
Total ada 375.000 tentara yang bersiaga di sana.
Hal itu disampaikan oleh Pimpinan Institut Nasional Studi Laut China Selatan, Wu Shicun.
Ia mengatakan kegiatan seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya.
Baca: Di Tengah Ketegangan dengan China, India Minta Rusia Percepat Pengiriman Rudal dan Jet Tempur
"Pengerahan militer AS di kawasan Asia-Pasifik belum pernah terjadi sebelumnya," kata pimpinan lembaga konsultan pemerintah China itu.
Jika diteruskan, tindakan AS bisa memicu konfrontasi militer.
"Kemungkinan insiden militer atau tembakan tak disengaja akan meningkat."
Ia pun tak menampik, jika hal itu terjadi, jurang yang memisahkan hubungan bilateral kedua negara akan semakin dalam dan lebar.
"Jika bentrokan terjadi, dampak pada hubungan bilateral akan menjadi bencana besar," lanjut Wu dikutip dari AFP Selasa (23/6/2020).
Dalam kepemimpinan Barack Obama, AS melakukan empat kali operasi di wilayah tersebut.
Namun di masa kepemimpinan Donald Trump, ia menyebut AS sudah beroperasi sebanyak 22 kali.
Demi mencegah kesalahpahaman, ia mengatakan militer AS dan China harus sering berkomunikasi.
Sebenarnya, akhir-akhir ini bukan hanya AS yang bersitegang dengan China.
Beberapa negara tetangga juga geram dengan pemerintahan Xi Jinping.
China membangun pulau buatan yang dilengkapi dengan instalasi militer di sebagian Laut China Selatan.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)