TRIBUNNEWSWIKI.COM - Inilah kisah dokter Hisbullah yang rela menyediakan rumah sakit gratis untuk pasien Covid-19 meskipun tidak digaji.
Kini justru kesulitan untuk membayar listrik rumah sakit tersebut.
Hisbullah adalah seorang dokter di Makassar yang rela menyediakan rumah sakit sebagai tempat merawat pasien virus coronaa gratis.
Rumah sakit tersebut gratis disediakan khusus untuk Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19.
Hingga kini rumah sakit yang diprakarsai dokter Hisbullah ini masih beroperasi.
Saat ini masih ada 40 pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut.
Dokter Hisbullah tak memungut biaya dari rumah sakitnya tersebut.
Namun ternyata kini masalah datang kepada usaha baik dokter Hisbullah ini.
Baca: Covid-19 Mulai Terkendali, Dokter Italia Klaim Virus Corona Mulai Melemah dan Sejinak Kucing Liar
Baca: IMF Rilis Daftar 10 Negara yang Bisa Pulih Lebih Cepat Dari Krisis Akibat Pandemi Corona, Mana Saja?
Sekarang ia dililit masalah lantaran tak punya biaya untuk membayar listrik rumah sakit.
Ia kesulitan untuk membayar hingga kini masih terus berupaya untuk mencari solusi dan bantuan.
Dikutip dari Kompas.com pada Jumat (26/6/2020), Hisbullah kini hanya memiliki sisa dana untuk merawat kesembuhan 40 pasien yang tengah dirawat.
Karena keterbatasan dana yang ada, terpaksa ia harus menolak pasien baru.
“Dana yang kami punya hanya sampai kesembuhan 40 orang pasien Covid-19 yang masih dirawat di RS Wisata UIT, tapi saya dan tim medis serta relawan lainnya masih semangat merawat pasien Covid-19 Makassar secara gratis,” katanya dikutip dari Kompas.com.
Untungnya setelah berita tentang kebaikan Hisbullah yang tayang di Kompas.com, kini beberapa donatur mulai datang.
Donatur tersebut memberi bantuan dari Makassar hingga Jakarta.
Bahkan, ada donatur yang akan menanggung pembayaran listrik RS Wisata UIT asalkan pengobatan pasien Covid-19 terus dilanjutkan.
“Ada yang mau menanggung listrik rumah sakit, ada rumah makan yang siap mengantarkan makanan bagi pasien, ada juga sumbangan obat dan vitamin," kata Hisbullah.
Hisbullah menuturkan, biaya perawatan pasien Covid-19 sebenarnya tidak terlalu besar.
Selain itu, seluruh tim medis dan relawan dari mahasiswanya yang ada dalam RSDC yang dibentuknya itu tidak digaji dan tidak berharap keuntungan dalam penanganan Covid-19.
“Kami sukarela membantu masyarakat. Keuntungan yang kami harap di hari kemudian, pahala dan amal. Jadi biaya yang dibutuhkan semuanya hanya untuk pasien Covid-19 dan semoga semua bisa sembuh dan kembali ke lingkungan masyarakat,” tegasnya.