Ia meyakini bahwa perusahaan, akan membutuhkan sebuah produk atau aplikasi yang dapat berfungsi di dalam sebuah ponsel, bukan hanya PC.
Ditolak para petinggi Cisco, Eric Yuan kemudian memaparkan pendapatnya kepada para pimpinan Cisco.
Alih-alih dukungan, idenya malah ditolak oleh para petinggi Cisco.
Para pemimpin tidak setuju dan pada tahun 2011, Yuan memutuskan untuk pergi dan mulai membangun Zoom.
Ia tidak sendiri. Yuan membawa satu gerbong ahli dari perusahaan sebelumnya untuk mulai mendirikan Zoom.
Yuan memilih wilayah San Jose, California, Amerika Serikat, sebagai lokasi kantor pusat.
Meski demikian, ia juga memiliki tim peneliti dan pengembang di China.
Usahanya mengembangkan Zoom tidak mudah.
Setelah Zoom lahir, ia harus mencari klien yang mau menggunakan aplikasi tersebut.
Dengan cara persuasif, ia menghubungi setiap perusahaan yang mulai mempertimbangkan untuk menggunakan Zoom.
Namun tak jarang usahanya sia-sia.
Sebenarnya, nilai jual utama Zoom adalah sifatnya yang "netral".
Dia tidak terikat dengan platform tertentu, seperti FaceTime milik Apple, Hangouts milik Google, atau Skype milik Microsoft.
Bahkan, siapa pun bisa menggunakan Zoom meski ia tak memiliki akun.
Cukup dengan mengklik tautan yang diberikan oleh "host", semua orang dapat bergabung dalam sebuah video conference.
Belakangan, nilai jual ini justru menjadi bumerang bagi Zoom.
Banyak orang yang tak dikenal dapat masuk dengan leluasa dan mengganggu jalannya rapat. Gangguan tersebut kemudian dikenal dengan istilah "Zoombombing".
Popularitas Zoom yang kian meroket
Dirangkum dari pemberitaan Bloomberg, popularitas Zoom mulai menanjak saat pandemi Covid-19.
Meski tak sedikit pihak yang menentang penggunaan Zoom karena dinilai tidak aman.