Gubernur New York Meradang, Muda-mudi Banyak Tak Patuhi Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Para kaum muda di New York justru terlihat meramaikan taman kota ketika positif Covid-19 menembus angka 2 juta orang lebih di Amerika Serikat.


zoom-inlihat foto
gubernur-new-york-andrew-cuomo-1.jpg
Jeenah Moon/Getty Images via AFP
Gubernur New York, Andrew Cuomo, saat briefing dengan wartawan, Jumat (12/6/2020).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Demonstrasi anti-lockdown terkait virus Corona marak di Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu. 

Warga Amerika Serikat yang menuntut dibukanya pembatasan sosial merasa, lockdown hanya akan memperparah situasi dan menyebut bahwa Covid-19 tidak seberbahaya yang diperkirakan.

Pembangkangan tanpa tujuan penting dengan berkumpul-kumpul pun semakin banyak di Amerika. Bahkan, pembangkangan itu diikuti dengan aksi tak mematuhi protokol kesehatan seperti tak menggunakan masker.

Padahal jumlah terkonfirmasi positif Covid-19 di Amerika Serikat telah menyentuh lebih dari dua juta orang pada Kamis (11/6/2020) lalu.

Di New York, banyak kaum muda yang tampaknya melakukan aksi pembangkangan terkait imbauan pemerintah agar tetap berpatokan pada protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sebagai bukti, pada haru Minggu (14/6/2020), terlihat banyak orang memanfaatkan masa akhir pekan yang cerah untuk berjemur di Sheep Meadow Central Park. 

Melansir pemberitaan New York Post, jangankan mengenakan masker, banyak dari mereka yang bahkan bertelanjang untuk berjemur tanpa khawatir terjangkit virus. 

Melihat hal tersebut, Gubernur New York Andrew Cuomo sangat geram.

Baca: Semakin Panas, Amerika Serikat Kini Minta Para Sekutunya Batalkan Proyek Besar dengan China

Baca: Jumlah Pasien Covid-19 Meninggal Lebih Sedikit, Vladimir Putin Sebut Rusia Jauh Lebih Sukses Dari AS

Baca: Klaim Miliki Lembah Sungai Galwan, China Serbu Garis Pertahanan India dengan 10.000 Pasukan Militer

Angka rata-rata infeksi COVID-19 di New York menurun, Gubernur Andew Cuomo optimis hal terburuk telah berakhir, Foto: Gubernur New York Andrew Cuomo berbicara kepada pers di Jacob K. Javits Convention Center di New York, pada tanggal 27 Maret 2020.
Angka rata-rata infeksi COVID-19 di New York menurun, Gubernur Andew Cuomo optimis hal terburuk telah berakhir, Foto: Gubernur New York Andrew Cuomo berbicara kepada pers di Jacob K. Javits Convention Center di New York, pada tanggal 27 Maret 2020. (Bryan R. Smith / AFP)

Sebelumnya, pada Minggu, Cuomo memang mengatakan sudah ada kemajuan besar dalam upaya membendung virus corona di kota tersebut. 

Namun, melihat warganya yang tidak mau mematuhi aturan jarak sosial dan aturan lain terkait pandemi, Cuomo pun mengeluarkan ancaman.

Salah satunya, dengan menarik izin peredaran minuman keras dari restoran yang tidak mematuhi aturan protokol kesehatan.

Selain itu, Cuomo juga berjanji akan menutup kembali tempat bisnis di sejumlah daerah yang gagal menerapkan aturan protokol Covid-19. 

"Apabila pemerintah lokal mencatatkan angka pelanggaran yang tinggi terhadap kebijakan, kemungkinan besar penyebaran virus akan tinggi pula karena pemerintah lokal tidak memantau, tidak menjaga, menindak."

"Dan ya, kami akan sangat mungkin menutup area tersebut kembali. Satu-satunya cara alternatif adalah menghentikan pembukaan kembali," ujar Cuomo sebagaimana dikutip The Associated Press.

 Dua Juta Lebih Positif Covid-19 di Amerika Serikat

Amerika Serikat saat ini sedang banyak diterpa masalah.

Tindakan rasisme kepolisian yang berujung demonstrasi di seluruh negara bagian pun menambah situasi tak menentu di negeri paman Sam tersebut setelah sebelumnya dihantam pandemi Covid-19.

Kemudian, Jumlah kasus positif virus corona terus bertambah di Amerika Serikat (AS).

Mengutip pemberitaan Voice of America pada Kamis (11/6/2020), berdasarkan update data virus corona terbitan Universitas Johns Hopkins menyebutkan, Amerika Serikat sekarang memiliki 2.000.464 kasus terkonfirmasi Covid-19.

AS tercatat di tempat teratas negara yang paling banyak kematian akibat corona.

Kasus positif itu hampir tiga kali lipat dibandingkan Brasil yang menempati peringkat dua dengan 772.416. 

AS juga meraih predikat sebagai negara yang paling banyak melakukan tes, yaitu sekitar 500.000 tes setiap hari.

Itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa AS mencatat sekitar 20.000 per hari.

Baca: Amerika Serikat-China Memanas, 3 Kapal Perang AS Terlihat Berpatroli di Perairan Indo-Pasifik

Baca: Masalah antara Amerika Serikat vs China Kembali Bertambah, Kali Ini Terkait Kepemilikan Nuklir

Baca: Viral Video Perempuan Papua Ikut Demonstrasi di Amerika Serikat, Pidato hingga Teteskan Air Mata

Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19
Foto Angkatan Darat AS pada 8 Maret 2020 menunjukkan seorang karyawan USAMRIID (Institut Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat) sedang melakukan penelitian terhadap virus coronavirus baru, COVID-19 (ERIN BOLLING / US ARMY / AFP)

Dan juga berdasarkan update virus corna itu, sebanyak 416.201 orang yang meninggal akibat virus corona di seantero jagat.

Rinciannya lagi-lagi AS di peringkat pertama dengan  112.924 orang meninggal.

Inggris, berada di bawah AS, mencatat 41.213 orang tutup usia akibat Covid-19.

Brasil melaporkan 39.680 kematian. Setiap negara mencatat kematian Covid-19 dengan cara berbeda.

Padahal kasus harian menurun tajam di beberapa wilayah di AS. Tapi ada 20 negara bagian yang justru mencatatkan peningkatan tajam kasus corona. 

Data harian New York Times menunjukkan kasus harian selama dua pekan terakhir meningkat di California; Texas; Florida; North Carolina; Arizona; Tennessee; Washington; South Carolina; Missouri; Utah; Kentucky; Arkansas; Nevada; New Mexico; Oregon; Idaho; Vermont; Hawaii; Alaska dan Montana. 

Demonstran berkumpul di depan gedung Colorado State Capitol selama rapat umum
Demonstran berkumpul di depan gedung Colorado State Capitol selama rapat umum "ReOpen Colorado" di Denver, Colorado, pada 19 April 2020. (Jason Connolly / AFP)

New York Times menyebut peningkatan ini  sebagian karena beberapa negara bagian "memperkuat kapasitas pengujian".

Sementara di tengah peningkatan kasus di sejumlah negara bagian, Presiden AS Donald Trump justru tetap akan menyatakan mulai berkampanye untuk pemilihan presiden, pekan depan.

Pawai pertamanya dijadwalkan berlangsung di Oklahoma, pada Jumat (12/06/2020).

Trump berjuang agar terpilih untuk kedua kalinya sebagai presiden, namun angka pada jajak pendapat sementara memperlihatkan dirinya tertinggal dari kandidat Partai Demokrat, Joe Biden.

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Artikel ini sebagian tayang di Kontan.co.id dengan judul Aksi membangkang kaum muda New York, berjemur telanjang tanpa masker di Central Park.





Penulis: Haris Chaebar
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved