TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintah telah menerapkan New Normal di beberapa sektor seperti perekonomian.
Dalam hal ini, di sektor pendidikan masih belum diputuskan akan menerapkan New Normal atau tidak.
Beberapa pengamat pendidikan menyebut kurikulum harus ikut menyesuaikan keadaan, terkait wacana pemerintah yang akan memberlakukan Kegiatan Belajar Mengajar konvensional di masa transisi new normal menjelang ajaran baru.
Hal ini tentu menjadikan pro dan kontra karena sektor kesehatan bagi siswa dan guru sama-sama penting untuk diprioritaskan.
Pemerhati Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr. Martadi M.Sn menawarkan alternatif yang bisa dipilih sekolah dengan menyesuaikan kurikulum dimasa transisi new normal.
"Kurikulum ini bisa disusun dengan memodifikasi Kurikulum 2013, baik penyederhanaan isi, strategi pembelajaran, dan penilaian agar lebih aplikatif serta kontekstual dengan kehidupan sekolah bahkan lingkungan keluarga," kata Martadi, Jumat (12/6/2020).
Menurutnya, isi kurikulum transisi dapat disusun lebih realistis dengan mempertimbangkan beberapa hal penting seperti keterbatasan waktu pembelajaran, daya dukung, dan pertemuan tatap muka antara guru-siswa.
Baca: Libur Sekolah, Berikut Jadwal Belajar dari Rumah TVRI, Sabtu 13 Juni 2020: Anak Seribu Pulau: Padang
Baca: Demi Situasi New Normal, Kementerian PANRB Kaji Kemungkinan PNS Masuk Kerja dengan Sistem Shift
"Yang lebih penting lagi, kurikulum transisi harus disusun dengan melibatkan orang tua partisipatif dan menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam pembelajaran atau home learning.
Dalam kurikulum transisi, tidak boleh menekankan pada ketuntasan pencapaian target akademik akan tetapi justru di fokuskan kepada pembentukan karakter, soft skills, dan nilai-nilai kepedulian dalam pencegahan Covid-19.
Melihat perbedaan kondisi sekolah di masing-masing daerah, Martadi merasa penting bagi sekolah diberikan ruang otonomi dalam menyusun kurikulum transisi.
"Pemerintah cukup membuat rambu-rambu secara umum, yang bisa dijadikan pedoman sekolah dalam menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikannya (KTSP)," jelasnya.
Ia juga menilai Revitalisasi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi program atau ekstrakurikuler wajib diberikan kepada semua siswa.
"Inilah momentum yang tepat, menjadikan UKS garda terdepan dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, menciptakan lingkungan sehat. Khususnya dalam pencegahan Covid-19 di lingkungan sekolah," ujarnya.
Yang terakhir, Martadi menyebut kurikulum transisi harus di lengkapi dengan kurikulum untuk orangtua atau buku panduan orang tua.
Baca: Hal-hal yang Harus Dilakukan Guru, Siswa dan Warga Sekolah Jika Sekolah Dibuka Kembali
Baca: Orangtua Murid Mengaku Resah Jika Sekolah Dibuka Kembali pada Tahun Ajaran Baru di Tengah Covid-19
"Guru tidak mungkin bisa sendirian mencapai target kurikulum, karena terbatasnya waktu belajar di sekolah, orang tua harus dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran di rumah.
Untuk itu perlu buku panduan orang tua," kata Martadi.
"Panduan, dibuat sesederhana mungkin, dikemas berupa infografis, video tutorial yang praktis dan bisa disebarkan melalui sosial media," pungkasnya.
Sementara itu, perihal kapan sekolah akan dibuka kembali belum ada keputusan terkait hal tersebut.
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19, Doni Monardo mengatakan pihaknya telah merumuskan program paralel dalam mengahadapi covid-19.
Program tersebut yakni mencegah masyarakat tidak terpapar covid-19 dan juga tidak terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).