Telur infertil berasal dari telur ayam yang diproses untuk menjadi bibit ayam atau DOC (day old chick).
Industri yang menghasilkan DOC adalah perusahaan pembibitan ayam atau breeding farm, menghasilkan DOC untuk ayam pedaging.
Pada dasarnya, telur infertil seperti telur biasa yang aman untuk dikonsumsi.
Akan tetapi, telur infertil memiliki potensi bahaya terkait dengan masa simpannya.
“Potensi bahaya karena masa simpannya yang relatif pendek. Kalau disimpan lebih lama lagi jadi enggak baik secara kualitias,” ujar dia.
Pendeknya masa simpan telur infertil ini karena berhubungan dengan prosesnya yang sempat disimpan terlebih dahulu untuk tujuan penetasan.
“Sebetulnya kalau dikatakan aman, ya aman. Masalahnya, kalau infertil ada masa harus diproses untuk ditetaskan. Jadi begitu keluar dari mesin, telur itu sudah berumur lama jadi ini mempengaruhi masa simpan,” kata Imron.
Hal ini berbeda dengan telur konsumsi yang ketika dikeluarkan oleh induknya memang dikumpulkan untuk diedarkan.
Telur konsumsi merupakan telur yang tidak dibuahi oleh pejantan, sehingga tidak akan menetas.
“Yang kita beli di warung enggak mungkin menetas jadi anak ayam,” ujar Imron.
Selain itu, larangan penjualan telur infertil karena dapat mengganggu supply and demand dari telur konsumsi beserta harganya.
Bahkan, telur infertil pun dilarang beredar untuk dikonsumi seperti telur biasa atau yang disebut dengan telur fertil.
Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, telur ayam infertil dilarang untuk diperjualbelikan.
Hal ini sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam RAS dan Telur Konsumsi.
(TribunnewsWiki.com/Restu, Kompas.com/Nur Rohmi Aida)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ciri-ciri Telur Infertil dan Cara Membedakannya dengan Telur Konsumsi"