Pimpin Rapat Politbiro, Kim Jong Un Terapkan Sosial Distancing, Namun Pejabat Lain Tetap Berdekatan

Rapat tersebut membahas pengembangan industri batu bara. Sedangkan isu dengan Korea Selatan terkait pamflet propaganda tak dibicarakan sedikitpun.


zoom-inlihat foto
kim-jong-un-senyum-manis-rapat-sosial-distancing.jpg
AFP PHOTO/KCNA VIA KNS
Foto dipotret pada (7/6/2020) dan dirilis oleh media ofisial Korea Utara Korean Central News Agency (KCNA) pada (8/6/2020). Dalam foto tampak Kim Jong Un menghadiri dan memimpin pertemuan atau rapat Politbiro ke-13 Partai Buruh di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara. Rapat tersebut membahas pengembangan industri batu bara. Sedangkan isu dengan Korea Selatan terkait pamflet propaganda tak dibicarakan sedikitpun.


TRIBUNNEWSWIKI.COM Kim Jong Un, pada (7/6/2020) melakukan social distancing ketika menghadiri dan memimpin rapat Politbiro Partai Buruh.

Agenda tersebut diberitakan oleh Korea Central News Agency, Senin, (8/6/2020) yang kemudian dikutip oleh Yonhap.

Dalam foto, tampak sang Supreme Leader melakukan social distancing dengan memberi jarak posisi duduk dengan para peserta rapat.

Uniknya, dalam foto tersebut nampak para peserta rapat yang merupakan petinggi-petinggi Korea Utara tersebut tidak melakukan social distancing.

Pejabat yang turut hadir diantaranya Kim Yo Jong, pemimpin ke-2 Korea Selatan Choe Ryeong Hae, dan Menteri Angkatan Bersenjata Rakyat Kim Jong Gwan. 

Baca: Pascakabar Meninggal dan Disebut Punya Dua Tubuh, Kim Jong Un Bangun Pangkalan Rudal Nuklir Baru

Baca: Kabar Kematian Kim Jong Un Mereda, Kini Korut Bangun Fasilitas Baru Rudal dekat Bandara Pyongyang

Membahas mengenai pengembangan industri batu bara

Foto dipotret pada (7/6/2020) dan dirilis oleh media ofisial Korea Utara Korean Central News Agency (KCNA) pada (8/6/2020). Dalam foto tampak Kim Jong Un menghadiri dan memimpin pertemuan atau rapat Politbiro ke-13 Partai Buruh di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara.
Foto dipotret pada (7/6/2020) dan dirilis oleh media ofisial Korea Utara Korean Central News Agency (KCNA) pada (8/6/2020). Dalam foto tampak Kim Jong Un menghadiri dan memimpin pertemuan atau rapat Politbiro ke-13 Partai Buruh di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara. (AFP PHOTO/KCNA VIA KNS)

Seperti yang dikutip dari Yonhap, rapat tersebut dilakukan untuk membahas langkah-langkah terkait pengembangan industri kimia.

Diketahui pula dalam rapat tersebut, masalah dengan Korea Selatan maupun isu eksternal lainnya tidak menjadi pembahasan dalam agenda tersebut.

Padahal, Kamis lalu adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong sempat mengancam Korea Selatan perihal kasus pamflet anti-Pyongyang yang memuat propaganda.

Ancaman tersebut diantaranya adalah Korea Utara ingin memutus perjanjian militer dengan negara saudaranya tersebut jika masalah pamflet propaganda tak ditangani.

Sedangkan masalah pamflet anti-Pyongyang tidak menjadi satu dari 4 isu yang dibahas dalam rapat Politbiro tersebut.

"Rapat tersebut membahas mengenai beberapa masalah penting terkait pengembangan ekonomi swadaya Korea Utara dan langkah-langkah untuk meningkatkan kesejahteraan warga," tulis KCNA seperti yang diberitakan Yonhap.

Yang jelas, rapat tersebut lebih fokus membahas mengenai pengembangan industri kimia.

Bahkan Kim Jong Un menyebut pengembangan industri kimia sangat penting sebagai 'dasar industri dan dorongan utama ekonomi nasional'.

Industri kimia yang dimaksud adalah proyek C1 atau gasifikasi batu bara yang selama bertahun-tahun ini dibahas untuk menjadi sumber energi utama Korea Selatan.

Tak hanya itu Kim Jong Un juga menyinggung pembahasan mengenai langkah peningkatan kesejahteraan warga negara, termasuk proyek perumahan rakyat.

Pertemuan tersebut merupakan pertemuan lanjutan ke-3 yang sebelumnya diadakan pada Februari dan April 2020.

Pada bulan tersebut, pertemuan difokuskan untuk membahas mengenai pandemi corona dan langkah-langkah pencegahan dari penularan Covid-19.

Korea Utara telah bertekad untuk menjadi negara yang mandiri di semua bidang.

Terutama setelah Desember lalu kKm Jong Un mengatakan keinginannya agar Korea Selatan tidak lagi mendapatkan sanksu global.

Terlebih saat itu terjadi deadlock dengan Amerika Serikat, sehingga memicu semangat Korea Utara untuk menjadi negara yang tak bergantung dengan negara lain.

Pamflet anti-Pyongyang

Foto Kim Jong Un tersenyum ini dipotret pada (7/6/2020) dan dirilis oleh media ofisial Korea Utara Korean Central News Agency (KCNA) pada (8/6/2020). Dalam foto Kim Jong Un sedang menghadiri dan memimpin pertemuan atau rapat Politbiro ke-13 Partai Buruh di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara.
Foto Kim Jong Un tersenyum ini dipotret pada (7/6/2020) dan dirilis oleh media ofisial Korea Utara Korean Central News Agency (KCNA) pada (8/6/2020). Dalam foto Kim Jong Un sedang menghadiri dan memimpin pertemuan atau rapat Politbiro ke-13 Partai Buruh di lokasi yang tidak disebutkan di Korea Utara. (AFP PHOTO/KCNA VIA KNS)

Kamis, (4/6/2020) lalu Adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong beri ancaman pada Korea Selatan dan disiarkan di Korean Central News Agency (KCNA).

Dikutip dari The Korea Times, Kim Yo Jong menuntut Korea Selatan bertindak cepat untuk mengatasi adanya sebaran poster anti-Pyongyang.

Jika tidak, maka Korea Utara akan membatalkan segala jenis perjanjian pengurangan ketegangan militer dengan Korea Selatan.

"Korea Selatan akan terpaksa membayar mahal jika mereka membiarkan situasi ini terus berlanjut dan terus memberikan banyak alasan," ucap Kim Yo Jong.

Setelah menyampaikan hal tersebut, Kim Yo Jong kemudian mengancam akan membatalkan atau menghentikan beberapa proyek kerjasama dua negara tersebut.

"Jika mereka (Korea Selatan) gagal mengambil langkah yang sesuai untuk tindakan tak masuk akal terhadap sesama warga negara, mereka lebih baik bersiap akan adanya penarikan penuh proyek Kaesong Industrial Park dan diikuti dengan penutupan tur di Gunung Kumgang," lanjutnya.

Tak hanya itu, Kim Yo Jong juga mengancam akan memutus perjanjian militer kedua negara dan menganggapnya sebagai perjanjian yang tak bernilai.

"Atau Liaison Office Korea Utara-Korea Selatan akan kami tutup karena keberadaannya juga justru menambah banyak masalah," tegas Kim Yo Jong.

"Atau akan kami batalkan perjanjian di bidang militer antara Korea Utara-Korea Selatan yang hampir tidak ada nilainya," imbuhnya.

Kim Yo Jong juga mengatakan jika kesepakatan pada 2018 termasuk di bidang militer dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan diantara dua negara.

Termasuk kasus pamflet anti-Pyongyang yang saat itu juga telah dibicarakan namun hingga saat ini belum diselesaikan.

Kim Yo Jong dengan jelas menunjuk masalah pamlet provokatif tersebut sebagai sebab dirinya memberikan ancaman.

Hal tersebut lantaran awal pekan ini pihaknya menemukan 500.000 pamflet anti-Pyongyang di wilayah sekitar perbatasan kedua negara.

Seluruh pamflet tersebut dibawa oleh balon dan tertulis pesan yang mengkritik kebijakan Kim Jong Un dan senjata nuklir yang dimiliki Korea Utara.

Sehingga, Kim Yo Jong tak segan mengatakan otak dibalik pamflet tersebut sebagai 'pembelot sampah' dan 'manusia anjing sampah'.

Kim Yo Jong tak ingin lagi mendengar pembelaan Korea Selatan dalam menganggap aksi tersebut sebagai kebebasan berekspresi atau mengutarakan pendapat.

"Jika mereka benar-benar menghargai perjanjian Korea Utara-Korea Selatan, dan ingin mewujudkan semua perjanjian yang telah dibahas, mereka harus membersihkan rumah mereka dari 'sampah' sebelum mengatakan akan menjadi pendukung (Korea Utara)," tegas Kim Yo Jong.

"Mereka setidaknya harus membuat undang-undang agar lelucon memalukan seperti itu bisa dicegah," lanjutnya.

Baca: Korut Ancam Batalkan Perjanjian karena Pamflet Propaganda, Korsel: Kami Diam saat Mereka Uji Nuklir

Baca: Temukan 500 Ribu Pamflet Anti-Pyongyang, Kim Yo Jong Ancam Batalkan Perjanjian Militer dengan Korsel

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved