TRIBUNNEWSWIKI.COM - Setelah Pyongyang yang menempatkan pasukan bersenjata strategis pada operasi siaga tinggi, Pentagon menyatakan pasukan nuklir Amerika Serikat (AS) siap menghadapi dan mencegah semua musuh termasuk Korea Utara.
Selain itu, menurut Drew Walter, Deputi Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Nuklir, AS mengetahui jumlah cadangan nuklir Korea Utara (Korut).
Dia menambahkan bahwa cadangan nuklir Korut tidak sebesar milik negara-negara bersenjata nuklir lainnya.
"Departemen Pertahanan AS telah mengambil pandangan bahwa pasukan nuklir kami, sebagaimana adanya, siap dan kuat dan mencegah semua musuh, apakah itu dari Rusia, China, Korea Utara yang berpotensi, atau Iran," katanya.
"Saya tidak melihat kemampuan baru yang sangat istimewa dari Korea Utara dalam hal itu," ujar Walter dalam sebuah seminar virtual yang digelar Institut Mitchell untuk Studi Aerospace, Selasa (26/5), seperti dikutip kantor berita Yonhap.
Baca: Gesekan Amerika-China Kian Panas, Trump Bujuk Sekutu Putus Aliansi dengan Negeri Tirai Bambu
"Kami memiliki gambaran yang cukup layak mengenai apa yang bisa dihasilkan Korea Utara dalam kapasitas nuklir sejauh ini," kata dia.
"Mereka belum dalam skala seperti beberapa musuh potensial bersenjata nuklir kami yang lain".
Sebelumnya, mengutip kantor berita Korean Central News Agency (KCNA), Yonhap melaporkan bahwa Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un muncul menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi militer untuk membahas kebijakan baru guna meningkatkan pencegahan perang nuklir.
Kim Jong-un memimpin rapat bersama Komisi Militer Pusat dari Partai Buruh yang berkuasa di Korea Utara.
Selain soal nuklir, rapat itu juga membahas langkah-langkah militer yang penting untuk meningkatkan pasukan bersenjata Korea Utara secara keseluruhan.
"Yang ditetapkan dalam pertemuan itu adalah kebijakan baru untuk lebih meningkatkan pencegahan perang nuklir negara itu (Korea Utara) dan menempatkan pasukan bersenjata strategis pada operasi siaga tinggi, sejalan dengan persyaratan umum untuk pembangunan dan pengembangan angkatan bersenjata negara itu," kata KCNA, Minggu (24/5).
Baca: Di Tengah Tekanan dari Amerika Serikat, China Dongkrak Anggaran Militer sebesar 2.645 Triliun
Namun, KCNA tak menjelaskan lebih lanjut tentang kebijakan baru yang akan Korea Utara terapkan terkait kemampuan nuklir mereka.
"Dalam pertemuan itu juga diambil langkah-langkah penting untuk meningkatkan kemampuan serangan bersenjata dari tentara Korea Utara," sebut KCNA.
Gesekan Amerika-China Kian Panas, Trump Bujuk Sekutu Putus Aliansi dengan Negeri Tirai Bambu
Makin hari hubungan Amerika Serikat dengan China terus memanas dan tak kunjung menemui titik terang.
Bahkan dalam beberapa minggu terakhir ini, Amerika Serikat (AS) sampai meminta sekutunya untuk memutuskan hubungan dengan China di bidang dengan risiko keamanan.
Dikutip dari The Jerusalem Post, seorang pejabat AS dengan pengetahuan pembicaraan tentang konflik tersebut menjelaskan permintaan Washington itu ke para sekutunya.
Permintaan AS itu memaksa Israel memilih perusahaan lokal untuk membangun pabrik desalinasi terbesar di dunia dibandingkan dengan perusahaan asal China.
Baca: Amerika Simpan Senjata Kiamat di Bawah Tanah, Mungkin Dikeluarkan saat Perang Dunia III Terjadi?
Jadi, mencegah timbulnya pertikaian yang tidak Israel inginkan dengan Pemerintahan Donald Trump atas partisipasi China dalam proyek infrastruktur raksasa itu.
Pemerintah Israel mengumumkan pemilihan perusahaan lokal dalam proyek pabrik desalinasi yang akan berada di Kibbutz Palmachim dan menelan biaya lebih dari NIS 5 miliar pada Selasa (26/5).
AS secara khusus menandai kemungkinan keterlibatan Hutchison dalam pembangunan pabrik desalinasi.
Bukan hanya menjadi proyek infrastruktur penting bagi Israel, pabrik tersebut dekat Sorek Nuclear Center dan Pangkalan Udara Palmachim.
Kekhawatiran AS mengenai keterlibatan perusahaan-perusahaan China dalam proyek-proyek infrastruktur utama di Israel dalam beberapa tahun terakhir, sebagian karena kemampuan operasi-operasi Tiongkok untuk mengumpulkan intelijen sambil bekerja pada mereka.
Kecemasan AS yang lainnya mengenai kerugian ekonomi, sosial, dan lingkungan yang besar, dan bahkan korban jiwa.
Hal tersebut bisa muncul jika infrastruktur tersebut rusak.
Bahkan, selama perjalanannya ke Israel pada 13 Mei lalu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah meminta Tel Aviv untuk mempertimbangkan kembali beberapa proyek bersama dengan China.
Hanya, pernyataan resmi dari Kementerian Keuangan, Kementerian Energi, dan Kementerian Sumber Daya Air Israel tidak menyebutkan Hutchison atau China dan hanya menyatakan, Kadima yang bermitra dengan Bank Leumi sebagai pemenang tender proyek pabrik desalinasi.
Tekanan baru-baru ini dari AS terhadap para sekutunya menandai eskalasi dari pertikaian yang meningkat antara Washington dan Beijing atas pandemi virus corona, Taiwan, juga Hong Kong.
Sudah jadi rahasia umum jika Donald Trump berulang kali menuding negera yang dipimpin Xi Jinping tersebut atas penyebaran pandemi virus corona ke seluruh dunia.
"Mereka bisa dengan mudah menghentikan wabah, tetapi mereka tidak!" cuit Trump pekan lalu.
Awal bulan ini, This Week mendapatkan pernyataan dari Pompeo, program acara ABC, ada "bukti besar" bahwa virus corona berasal dari laboratorium China di Wuhan, tempat asal wabah itu.
Namun, China berulang kali membantah semua tudingan tersebut.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Kaka/Tyo/Kontan.co.id/S.S. Kurniawan)
Artikel ini telah terbit di Kontan.co.id dengan judul Pentagon: Pasukan nuklir AS siap hadapi semua musuh termasuk Korea Utara dan Tribunnews.com dengan judul Hubungan AS-China Memanas, AS Minta Negara Sekutunya Putuskan Hubungan Bisnis dengan China