Sebanyak 12 ribu di antara masker yang dibuat adalah masker N95 yang berlapis tujuh dan sisanya masker medis biasa yang tiga lapis.
"Kami juga sumbang hazmat ke tempat-tempat pemakaman umum, khususnya untuk para petugas yang turut memakamkan korban korona yang meninggal. Kami hanya memfasilitasi bantuan untuk fasilitas kesehatan, dokter, dan perawat yang resmi," tutur dia.
Koh Steven pun juga menjelaskan, dirinya paham betul dalam membuat hazmat ketika ia bekerja di salah satu perusahaan di Singapura.
Ketika itu, perusahaannya mendapatkan order untuk membuat pakaian hazmat dari WHO.
Akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk membuat pakaian hazmat pada Januari 2020.
Dirinya juga mengira pakaian hazmat itu untuk menangani virus seperti MERS.
Namun, baru setelah bertemu dengan pihak WHO, ditengakanlah bahwa pakaian tersebut untuk pakaian alat pelindung diri dari virus corona.
Koh Steven mengimpor bahan hazmat dari Jepang, sedangkan mesin pembuatnya diimpor dari China.
Pria ini selanjutnya belajar dari teman-teman di WHO mengenai caranya sanitizing, sterilisasi, dan bagaimana memasukkannya ke dalam bahan.
Kemudian dia belajar mengenai berbagai jenis UV.
Untuk sekarang ini, ada 70 lebih penjahit yang turut berkontribusi dalam memproduksi ribuan hazmat.
Mesin-mesin jahit yang diimpor tersebut diletakkan di rumah si penjahit supaya mudah dikerjakan.
Koh Steven juga menanggung biaya listrik rumah, termasuk juga membayar puluhan penjahit tersebut.
Para penjahit ini bekerja lebih dari 12 jam dan ongkos lemburnya tidak dibayar.
Bukan hanya memproduksi baju hazmat, dia juga memasang surgical gown untuk 43 ribu pakaian alat pelindung diri (APD) yang belum berstandar WHO.
“Para petugas medis meminta agar kami memasangkan surgical gown di bagian dalam hazmat agar virus corona tak bisa tembus,” ujarnya.
Kos Steven juga menyumbang 80 ribu liter hand sanitizer, ribuan paket sembako, dan makanan siap saji untuk orang-orang yang terdampak pandemi Covid-19.
Sampai sekarag ini, jumlah seluruh paket sembako yang sudah didistribusikan mencapai sebanyak 120 ribu paket.
Sementara, untuk makanan siap santap titalnya mencapai 560 ribu paket yang dibagikan gratis ke seluruh Indonesia.
"Kami berusaha untuk membantu warung-warung makan lokal agar tetap survive dengan cara order masakan dari mereka untuk dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan. Makanan gratis siap saji tersebut kami peruntukkan bukan hanya untuk kaum muslim saja, tetapi semua orang yang membutuhkan uluran tangan kita,” kata dia menjelaskan.