Penemuan sindrom ini adalah "curveball" lain di antara banyak yang coronavirus yang menyebabkan Covid-19 telah dilemparkan ke dokter dan pasien, menurut Sanjaya Senanayake, seorang spesialis penyakit menular dan profesor di Universitas Nasional Australia.
"Tidak ada yang mengharapkan untuk melihat ini pada anak-anak, ini merupakan penemuan yang tidak terduga, tetapi kami baru sekitar lima bulan setelah wabah ... masih relatif dini, kami masih belajar tentang [virus]," katanya, mencatat bahwa virus juga bisa berperan.
Baca: Angka Bunuh Diri Jepang Turun di Tengah Pandemi Covid-19, Ahli: Bisa Meningkat Ketika Bencana Usai
Baca: Klub Malam di Daerah Itaewon Dilaporkan Menjadi Kluster Baru Penyebaran Covid-19 di Korea Selatan
Menurut Sanjaya Senanayake, risiko infeksi yang lebih luas kemungkinan akan menentukan apakah sindrom inflamasi langka tersebut akan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan ketika akan membuka kembali sekolah.
"Ini tampaknya menjadi kondisi yang langka, jika itu terkait dengan Covid-19, maka alasan kita melihatnya di AS dan Eropa adalah karena ada begitu banyak Covid di sana," katanya.
"Di negara-negara dengan aktivitas Covid yang rendah, masih masuk akal untuk mengirim anak-anak ke sekolah, karena kami pikir proporsi anak-anak yang mendapatkan Covid sangat rendah," katanya.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)