TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ada sebagian orang di dunia ini yang memilih berselingkuh padahal sudah memiliki kehidupan rumah tangga atau asmara yang membahagiakan.
Seolah tak cukup, orang-orang ini memutuskan untuk mencari kepuasan baru dengan menjalin hubungan lain atau berselingkuh.
Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, mengapa orang-orang seperti ini benar-benar selingkuh?
Beberapa dari mereka bahkan terus melanjutkan hubungan itu setelah tertangkap tangan dan dihadapkan dengan konsekuensi besar seperti perceraian, kehilangan kedudukan sosial, dan sebagainya.
Dalam sebuah laporan Psychology Today, seorang relationship expert sekaligus terapis asal Amerika Serikat (AS), Robert Weiss Ph.D., MSW, secara khusus membahas soal hal-hal yang bisa membuat seorang pria berselingkuh.
Baca: Kisah Raja Playboy yang Sudah Tiduri 1.000 Wanita, namun Tak Pernah Selingkuh saat Punya Istri
Baca: Berniat Beri Kejutan Bunga saat Ulang Tahun, Pria Ini Malah Pergoki Pacarnya Selingkuh
Weiss menyatakan para pria sebenarnya bisa memilih untuk tidak berselingkuh.
Mereka masih memiliki pilihan untuk berusaha menyesaikan masalah dengan pasangan, termasuk melakukan terapi bersama ataupun berpisah apabila memang hubungannya sudah tak bisa dipertahankan lagi.
Meski demikian, ada saja pria yang tetap berselingkuh dari pasangannya.
Weiss mengutarakan, ada banyak faktor yang berperan dalam keputusan pria untuk berselingkuh.
Bagi sebagian besar pria tidak ada faktor tunggal yang mendorong keputusan untuk berselingkuh, semua berkesinambungan.
“Kadang-kadang alasan perselingkuhan pria berevolusi saat keadaan hidupnya berubah,” tulis penulis Buku Prodependence: Moving Beyond Codependency tersebut.
Pada umumnya, pilihan seorang pria untuk berselingkuh atau menipu pasangan didorong oleh satu atau lebih faktor berikut:
1. Pemahaman yang rendah soal komitmen
Tak cukup dewasa dan tak memiliki pemahaman yang baik soal komitmen jadi salah satu yang bisa membuat pria berselingkuh.
Hal itu bisa jadi karena pria tersebut tak banyak memiliki hubungan yang mengedepankan komitmen dalam hidup.
Pria ini mungkin juga tidak benar-benar memahami bahwa tindakannya pasti akan memiliki konsekuensi, seperti menyakiti pasangan.
Sang pria masih berpikir komitmennya terhadap monogami sebagai pakaian yang bisa dipakai atau dilepas semaunya, tergantung pada kondisi.
2. Hasil dari rasa insecure
Pria bisa saja merasa tak percaya diri seolah-olah dirinya terlalu tua atau terlalu muda, tidak cukup tampan, tidak cukup kaya, atau tidak cukup pintar.
Namun sayang, untuk meningkatkan kepercayaan dirinya yang lesu, pria terkadang mencari validasi dari wanita selain pasangannya untuk merasa diinginkan, diinginkan, dan layak.