TRIBUNNEWSWIKI.COM - Warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri juga merasakan adanya perbedaan besar dalam Ramadan kali ini karena ada pandemi corona atau covid-19.
Salah satu dari mereka adalah seorang WNI di Jerman bernama Gaganawaty Dyah Panca Stegmann atau biasa dipanggil Gana.
Gana yang merupakan WNI asal Semarang ini menceritakan bagaimana kondisi dan suasana Ramadan di Jerman.
Dilansir dari Tribunnews.com, suasana yang jauh lebih sunyi daripada hari-hari biasanya dirasakan oleh Gana.
Sejumlah toko makanan tetap buka, tetapi hanya menerima take-away.
Pasalnya, di tengah pandemi corona seperti ini, pemerintah Jerman tegas melarang sejumlah aktivitas yang berpotensi meningkatkan penyebaran corona.
Sebagai seorang guru bahasa Inggris, Gana juga sudah tidak dapat bekerja lagi sejak 17 Maret lalu.
Baca: Ingin Bisnis Kuliner Laku saat Ramadan meski Ada Pandemi Corona? Ini Tips dari Dosen Unair
Baca: Ibadah Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Ini Kiat Menjaga Daya Tahan Tubuh
Namun, pemerintah Jerman akan memberikan subsidi untuk mengganti honor selama mendaftarkan diri.
Sementara itu, ada yang menarik di daerah Berlin.
Orang yang tidak bekerja biasanya kerap mendapatkan bahan-bahan makanan dan buah-buahan yang sering digantungkan di pagar rumah, sudut kota atau alun-alun sebagai bentuk kepedulian warga setempat pada sesama.
Ramadan Kala Pandemi Corona, Ini Kebijakan Ibadah Berbagai Negara dari Turki hingga Pakistan
Pandemi corona atau covid-19 membuat banyak negara mengeluarkan kebijakan terkait pelaksanaan ibadah saat Ramadan.
Berbagai kebijakan ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona yang menyebabkan covid-19.
Berikut ini adalah kebijakan berbagai negara ketika Ramadan di tengah pandemi Covid-19, diberitakan TribunnewsWiki.com dari Independent, Kamis (23/4/2020).
Turki melarang pemasangan tenda yang menyediakan makanan untuk sahur dan buka.
Warga di sana juga dilarang memberi tip pada penabuh genderang yang biasa bertugas untuk membangunkan sahur.
Kebijakan itu diambil setelah hampir 100.000 kasus dan 2.259 kematian tercatat pada Rabu sore (22/4/2020), menurut Universitas Johns Hopkins.
Baca: Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Tarawih Pertama di Aceh Dilaksanakan Secara Berjamaah
Baca: Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19, Jokowi Ajak Umat Sambut Bulan Suci dengan Rasa Syukur
Mesir melarang pengadaan meja amal, meskipun hanya ada 3.490 kasus dengan total kematian saat ini di angka 264.
Arab Saudi telah menangguhkan visa bagi umat Muslim yang ingin melakukan ibadah ke Mekah dan Madinah.
Iran melarang publik untuk mengadiri tempat suci, termasuk masjid.
Karena kebijakan ini harus diambil, Presiden Iran Hassan Rouhani meminta maaf.
Pakistan mengizinkan orang datang ke masjid dengan catatan tak lebih dari lima orang.
Ramadan di Tengah Pandemi Corona, Muslim Inggris Buka Puasa Bersama via Zoom dan Facebook
Muslim di Inggris mengadakan buka puasa bersama secara virtual agar tetap bisa melakukan physical distancing.
Muslim di Inggris dengan menggunakan aplikasi media sosial Facebook dan Zoom untuk berbuka bersama di tengah pandemi corona.
Acara buka puasa ini digelar oleh the Ramadan Tent Project (RTP) yang sebelumnya berencana mengadakan buka bersama lintas keyakinan dan mengundang tokoh-tokoh politik serta agama di Inggris.
Dilansir dari Kompas.com yang mengutip The National (20/4/2020) RTP sebelumnya pernah menggelar buka puasa terbuka yang bertempat di Westminster Abbey, Wembley Stadium dan Trafalgar Square.
Baca: Kebijakan Berbagai Negara dalam Menyambut Ramadan di Tengah Pandemi Virus Corona
Pendiri sekaligus CEO dari RTP, Omar Salha, mengatakan bahwa sangat penting bagi orang-orang untuk merasa saling memiliki kala pandemi seperti ini.
“Bulan suci Ramadan adalah pintu gerbang bagi semua untuk berhenti sejenak, merenung dan terhubungkembali dengan rasa kemanusiaan kolektif kita. Covid-19 mungkin berdampak pada semua acara Buka Puasa Terbuka kami yang harus dibatalkan, tetapi Ramadan tidak dibatalkan, dan kami bangga menjadi organisasi yang dinamis dan inovatif," kata Omar.
Acara buka puasa virtual ini akan diadakan setiap hari selama Ramadan dan tidak dipungut biaya.
Setiap orang yang telah mendaftar akan menerima paket yang berisi perlengkapan untuk menyiapkan buka puasa di rumah.
Paket tersebut berisi buku resep oleh Asma Khan, pemilik restoran Darjeeling Express, lembar informasi Ramadan dan Islam, sampel makanan, dekorasi, dan buku panduan tentang virus corona.
Acara ini juga akan menyiarkan panggilan azan, menyelenggarakan serangkaian talkshow, dan membuka kesempatan bagi peserta berbagi pengalaman berbuka puasa satu sama lain.
Diperkirakan, acara ini akan menjadi acara buka puasa virtual terbesar yang pernah diadakan.
RTP didirikan tahun 2013 dan sejak saat itu telah menggelar buka bersama yang dihadiri lebih dari 100.000 orang yang berasal dari berbagai latar belakang.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin/Febri/Kompas.com/Jawahir Gustav Rizal)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Warga Muslim Inggris Buka Bersama Massal Lewat Zoom dan Facebook"