Makam Imogiri

Makam Imogiri adalah kompleks peristirahat para Raja dan keluarga Kerajaan Mataram yang terletak di Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.


zoom-inlihat foto
makam-raja-raja-imogiri.jpg
pesona.travel
Gerbang Kompleks Makam Raja Imogiri

Makam Imogiri adalah kompleks peristirahat para Raja dan keluarga Kerajaan Mataram yang terletak di Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Permakaman Imogiri atau Makam Imogiri merupakan kompleks peristirahatan Raja-Raja Mataram yang berlokasi di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta.

Permakaman ini dianggap suci dan kramat karena yang dimakamkan disini merupakan raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram.

Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I.

Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. (1)

Kompleks pemakaman ini terletak kurang lebih 16 km di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di wilayah Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (2)

Imogiri berasal dari kata hima dan giri.

Hima berarti kabut dan giri berarti gunung, sehingga Imogiri bisa diartikan sebagai gunung yang diselimuti kabut.

Pemilihan bukit sebagai lokasi makam tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat Jawa pra Hindu yang memandang bukit, atau tempat yang tinggi, sebagai suatu tempat yang sakral.

Mereka juga mempercayai bahwa gunung menjadi tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Selain itu, pemilihan lokasi di tempat yang tinggi pun merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat Hindu yang menganggap semakin tinggi tempat pemakaman, maka semakin tinggi pula derajat kemuliaannya.

Baca: Danau Kelimutu

Baca: Candi Sukuh

  • Sejarah #


Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632, pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645).

Pembangunan kompleks makam dipimpin oleh Kiai Tumenggung Citrokusumo yang arsitekturnya merupakan perpaduan antara Hindu dan Islam.

Bata merah yang mendominasi area makam bagian atas merupakan ciri utama arsitektur Islam Jawa atau yang disebut dengan penggabugan Islam Hindu pada abad ke-17.

Batu bata yang menyusun bangunan Pasarean Imogiri tidak direkatkan menggunakan spesi khusus seperti semen, namun disusun dengan metode kosod.

Permukaan bata yang satu digosokkan dengan permukaan bata yang lain dengan diberi sedikit air hingga keluar semacam cairan pekat.

Cairan pekat inilah yang kemudian melekatkan satu bata dengan bata lainnya.

Metode ini dimungkinkan karena adanya campuran khusus pada bata masa itu yang tidak lagi terdapat pada bata masa kini.

Lokasi yang berada di atas bukit membuat jalan menuju Pesarean Imogiri memiliki ratusan anak tangga.

Anak-anak tangga ini dibuat pendek dengan dugaan untuk memudahkan para peziarah yang datang yang mengenakan pakaian adat lebih mudah untuk menaiki atau menuruninya.

Aturan untuk mengenakan pakaian adat saat berkunjung ke area makam masih berlaku sampai saat ini untuk area-area tertentu. (3)

Sebelum dibangunnya kompleks makam raja-raja di Imogiri, Sultan Agung sebenarnya sudah merencanakan area pemakaman khusus yang dinamakan Girilaya.

Perancangnya adalah paman sultan sendiri yang bernama Panembahan Juminah.

Ia merupakan salah satu putra Sutawijaya alias Panembahan Senapati yang dikenal sebagai pendiri Kesultanan Mataram Islam.
Namun, di tengah proses pembangunan makam itu, Panembahan Juminah wafat.

Sultan Agung pun membatalkan rencana penggunaan kompleks makam tersebut untuk raja-raja Mataram.

Panembahan Juminah dikuburkan di Makam Girilaya sebagai bentuk penghormatan Sultan Agung kepada paman tercintanya tersebut. (4)

Makam Raja Imogiri
Kompleks pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri dibangun dengan memadukan gaya arsitektur Hindu dan Islam.

  • Bagian-Bagian Makam Imogiri #


Sebelum memasuki makam raja, terdapat banyak anak tangga yang lebarnya sekitar 4 meter dengan kemiringan 45 derajat yang menghubungkan permukiman dengan makam.

Anak tangga di Permakaman Imogiri berjumlah 409 anak tangga.

Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul.

Garis anak tangga dan posisi antar gapura menuju pemakaman, dari bawah hingga ke atas, membentuk sebuah garis lurus.

Gapura-gapura tersebut menjadi batas wilayah bagi area-area dalam pemakaman.

Area pertama merupakan ruang publik yang ditandai dengan adanya gapura supit urang sebagai jalan masuk menuju kompleks Kasultanagungan.

Area kedua adalah area semi-sakral bernama Srimanganti yang ditandai dengan gapura paduraksa.

Berbeda dengan gapura supit urang, gapura paduraksa memiliki atap.

Semua gapura paduraksa pada Pasarean Imogiri memiliki daun pintu yang bisa dibuka tutup dan ornamen sayap pada kedua sisinya.

Ornamen sayap ini melambangkan sayap burung yang menjadi lambang lepasnya burung dari sangkar, sebuah filosofi jawa dalam memandang arwah yang lepas dari badan.

Di atas area semi-sakral ini terdapat area sakral yang disebut sebagai Kedhaton.

Di antara area sakral dan semi-sakral inilah terdapat makam para Raja dan keluarga terdekatnya.

Raja yang pertama kali disemayamkan pada Makam Imogiri adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pemakaman ini kemudian digunakan oleh Raja-Raja penerusnya, bahkan ketika Kerajaan Mataram dibagi menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Pembagian kerajaan ini kemudian turut membagi wilayah pemakaman.

Saat ini Pasarean Imogiri terdiri dari beberapa kompleks utama yaitu Kasultanagungan, Pakubuwanan, Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta.

Di kompleks makam Raja-raja Kasultanan Yogyakarta, terdapat tiga Astana atau Kedhaton sebagai ruang inti pemakaman Sultan, yaitu:

  • Kedhaton Kasuwargan, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Sri Sultan Hamengku Buwana III
  • Kedhaton Besiyaran, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana IV, Sri Sultan Hamengku Buwana V, dan Sri Sultan Hamengku Buwana VI
  • Kedhaton Saptarengga, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana VII, Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, Sri Sultan Hamengku Buwana IX (5)

Baca: Candi Ceto

Baca: Djawatan Perhutani Benculuk

  • Fakta Menarik #


Pengunjung yang ingin masuk ke dalam area Makam Imogiri harus menaati beberapa aturan.

Satu diantaranya yaitu tata cara berpakaian tertentu yang harus dilakukan ketika ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam.
Jika tidak menaati aturan tersebut, maka pengunjung hanya diperbolehkan sampai pintu gerbang pertama.

Pengunjung wanita yang ingin memasuki makam di bagian dalam harus mengenakan kain panjang, kemben, dan melepas semua perhiasan.
Sementara itu, pengunjung pria yang ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam harus mengenakan kain panjang, baju peranakan, dan blangkon.

Pada Maret 2019, Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, longsor akibat hujan yang mengguyur hampir sehari penuh.

Akibatnya, sebagain bangunan di dalam makam pun ambruk dan longsor.

Yang tergerus longsor adalah bagian halaman calon makam Sultan Hamengkubuwana (HB) X, seluas sekitar 25 meter persegi.

Selain itu, sisi barat bagian dari situ juga terlihat retakan yang cukup lebar dan berpotensi runtuh. (6)

  • Lokasi dan Akses #


Makam Raja-raja Imogiri terletak di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengunjung yang ingin datang dapat menempuh perjalanan dari arah pusat Yogyakarta menuju terminal Imogiri.

Selanjutnya pengunjung bisa lurus mengikuti arahan tulisan menuju makam yang berjarak sekitar 250 meter.

Saat berkunjung ke makam raja di Imogiri, pengunjung tidak dikenakan biaya.

Namun, setiap pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu dan memberi sumbangan seikhlasnya kepada juru kunci makam.

Selain itu terdapat kota infak yang terletak didepan masjid tepatnya di bawah anak tangga pertama menuju makam, pengunjung diharapkan bisa memberi berapapun seikhlasnya.

Fasilitas yang terdapat ditempat ini terbilang standar yang berupa tempat parkir, toilet umum dan seorang pengarah perjalanan yang akan menceritakan sejarah yang berhubungan dengan makam raja Imogiri ini.

Selain pemandu, anda juga dapat membeli tiga buku kecil yang berupa foto copy-an yang berisi riwayat makam Raja Mataram, skema makam raja dan riwiyat mataram di Kota Gede.

Terdapat juga beberapa warung yang berada di Terminal yang menyediakan makanan seperti wedang uwuh, pecel, jadah tempe dan tahu bacem. (7)

(TribunnewsWiki.com/Restu)



Nama Tempat Makam Imogiri
Lokasi Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Google Map https://goo.gl/maps/8be1ibiuBdMRk6XG9
   


ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved