TRIBUNNEWSWIKI.COM - Wabah virus corona atau Covid-19 masih menyebar ke seluruh dunia, salah satunya Korea Selatan.
Diberitakan, Korea Selatan melaporkan 27 kasus virus corona atau Covid-19 terbaru, Selasa (14/4/2020).
Penambahan kasus terbaru itu membuat jumlah total infeksi virus corona menjadi 10.564.
Korea Selatan pernah menjadi negara terbesar dengan pasien positif Covid-19 terbanyak setelah China.
Dilansir dari Korea Herald, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Korea Selatan, sebanyak 71,3 persen pasien telah pulih.
Korea Selatan berhasil menurunkan angka pasien positif Covid-19 melalui rapid test Covid-19.
Bahkan, Negeri Gingseng itu mengirimkan beberapa peralatan tes Covid-19 ke negara lainnya, seperti Amerika Serikat.
Baca: 91 Pasien di Korea Selatan Positif Covid-19 Lagi Setelah Dinyatakan Sembuh, Ada Kemungkinan Kambuh
Baca: Di Tengah Pandemi Corona, Bintang Tottenham dan Timnas Korea Selatan Ini Tetap Jalani Wajib Militer
Tak hanya itu, Korea Selatan dikabarkan sedang berupaya untuk melakukan tes klinis pada perawatan berbasis antibodi virus corona.
Nantinya, obat antibodi itu akan dirilis pada tahun 2021, seperti dikutip dari Korea Herald.
"Menghasilkan obat dan vaksin adalah satu-satunya cara untuk menangani pandemi," kata Yoon Tae-ho, seorang pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas karantina
Sejumlah besar sampel darah yang dikumpulkan dari orang yang terinfeksi virus di negara ini akan membantu tes klinis aktual terhadap obat antibodi yang akan dirilis tahun 2021.
Tak hanya itu, pengujian juga dilakukan dengan menggunakan plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang berhasil pulih.
Nantinya pengujian itu akan dikembangkan dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Pemerintah Korea Selatan juga mengatakan apabila obat antibodi ini dapat diproduksi, kemungkinan akan tersedia pada akhir 2021 atau 2022.
Korea Selatan telah menentukan aturan untuk mengamankan sampel darah yang lebih baik dari pasien.
Sehingga nantinya dapat dilakukan pengujian untuk obat antibodi.
Amerika Serikat Berterima Kasih kepada Korsel
Dilansir Korea Herald, Amerika Serikat berterima kasih kepada Korea Selatan karena memasok alat pengujian COVID-19.
Seperti diketahui, dua perusahaan di Korea Selatan telah ditetapkan untuk mengirimkan alat uji Covid-19 kepada Amerika Serikat.
"Kami berterima kasih kepada mitra Republik Korea kami yang telah membantu Amerika Serikat dalam pengadaan tes COVID-19, dan untuk dukungannya kepada rakyat Amerika Serikat," ujar pejabat Amerika Serikat kepada Yonhap News Agency.
Baca: Surat Terbuka Akademisi China, Minta Amerika Serikat dan China Bersatu Hadapi Pandemi Covid-19
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah meminta bantuan kepada Korea Selatan untuk mengirimkan alat pengujian Covid-19.
Hingga akhirnya, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Presiden AS Donald Trump sepakat.
Namun, jumlah alat uji Covid-19 yang dikirimkan tidak diungkapkan.
Kedua perusahaan, bersama dengan perusahaan Korea Selatan lainnya, menandatangani kontrak dengan Badan Manajemen Kedaruratan Federal AS (FEMA) untuk mengekspor alat tes mereka.
Baca: Kesal Ditanya soal Alat Tes Covid-19, Donald Trump Permalukan Reporter: Kelas Tiga, Memalukan
Donald Trump sebelumnya sempat mengklaim bahwa negaranya dapat menguji lebih banyak orang.
Akan tetapi, Donald Trump meminta bantuan kepada Korea Selatan setelah negaranya memiliki jumlah kasus Covid-19 terbesar di dunia.
Rapid Test Korea Selatan
Seperti diketahui, Korea Selatan berhasil menurunkan jumlah penyebaran Covid-19 menggunakan rapid test.
Rapid test itu digunakan untuk mendeteksi virus corona.
Tes ini dinilai sangat efektif menekan penyebaran virus Corona SARS-CoV-2.
Hal itu terbukti membuat angka kematian di Korea Selatan akibat virus Corona baru turun 0,1 persen atau 84 orang.
Metode rapid test ini menggunakan Q-tip untuk mengambil sampel di bagian belakang mulut dan tenggorokan.
Kemudian, sampel tersebut di tempatkan ke dalam tabung reaksi.
Tenaga medis akan mengusap naik ke hidung.
Rapid test yang dijalankan Korea Selatan ini tak membutuhkan waktu lama.
Setelah menjalani pemeriksaan, setiap orang diperbolehkan pulang.
Nantinya, orang tersebut akan mendapat telepon jika hasilnya positif atau SMS jika hasilnya negatif.
Rapid tes ini dikenal juga dengan swab.
(TRIBUNNEWSWIKI/Afitria)