Melihat anaknya berlumuran darah, LN panik dan sigap membawa anaknya ke bidan desa yang berjarak 500 meter dari rumahnya.
Baca: Sulit Nilai Kejiwaan Remaja Pembunuh Balita Lewat Ekspresi Wajah, Tim Dokter Minta Pelaku Menggambar
Ia berlari menggendong sang anak bertelanjang kaki sampai kakinya melepuh karena menginjak aspal.
Ketika diperiksa, bidan desa menyuruh sang ibu membawa korban ke Puskesmas Gunung Megang.
LN membawa anaknya ke Puskesmas Gunung Megang, ketika diperiksa mereka tak sanggung dan dirujuk ke RSU dr HM Rabain Muaraenim.
"Saya ibunya, saya sangat menyayanginya, itu cuma karena kesal saja,"
Pelaku mengaku tak kencang memukul sang anak, namun piring yang dipakai pelaku tipis sehingga langsung pecah.
"Saya menyesal, mbak," tuturnya.
Panik Lihat darah anaknya
Saat melihat sang anak terkapar berlumur darah, pelaku mengaku syok.
Ia mengaku dibantu kerabatnya saat membawa korban ke bidan.
"Anak saya, saya gendong dan bawa lari ke bidan desa. Pakai sendalpun saya tak sempat hingga telapak kaki melepuh karena aspal panas,"
"Saya panik melihat darah terus mengucur," kata pelaku.
Ia pun tak menyangka jika peristiwa tersebut berujung pada kematian pada anak korban.
"Saya berusaha agar anak saya bisa diselamatkan, tapi setelah sampai di rumah sakit dia meninggal," kata dia.
Baca: Fakta Pembina Pramuka Bunuh dan Perkosa Siswi SMP, Sudah Rencakan Hingga Jasad Korban Dibuang
Baca: Kronologi Kasus Kakek 85 Tahun Bunuh Menantu karena Sering Dihina, Mayat Ditelantarkan 4 Hari
Meninggal di Rumah Sakit
Nyawa RN balita berusia 3 tahun tak tertolong seusai mendapat perlakuan kasar dari ibu kandungnya sendiri.
Meski sempat dirawat, namun nyawa balita malang itu tak tertolong.
"Saya tak menyangka dan tak sengaja akan seperti itu,"
"Mana ada ibu mau membunuh anaknya. Anak saya sudah meninggal dan saya masuk penjara," kata LN.
Menurutnya, ia tidak ada niat membuat nyawa anaknya melayang.