Tekanan telah meningkat bagi Abe untuk mengeluarkan deklarasi itu, antara lain Gubernur Tokyo Yuriko Koike dan Asosiasi Medis Jepang yang gencar menyerukannya.
Baca: Fakta Mengejutkan, 70 Persen Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Muncul dari Orang Tanpa Gejala
Baca: Dikaitkan dengan Penyebaran Covid-19, Sejumlah Tower 5G di Inggris Dibakar
Mengingat bahwa tindakan darurat akan mempengaruhi tujuh prefektur yang menyumbang sekitar setengah dari perekonomian negara itu, muncul kekhawatiran yang semakin dalam bahwa output akan turun sebanyak 20 persen pada kuartal saat ini.
Abe juga mengumumkan paket stimulus rekor senilai 1 triliun USD dan diperkirakan akan merilis rincian lebih lanjut tentang bagaimana hal itu akan menghentikan ekonomi memasuki kejatuhan bebas.
Tokyo dan tiga tetangganya, Kanagawa, Chiba dan Saitama, merupakan sepertiga dari produk domestik bruto negara ini dengan output yang setara ukurannya dengan Kanada, dan sangat menekankan pada layanan dan ritel.
Data terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen di negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu jatuh pada Februari.
Tetapi pada laju yang lebih lambat dari yang diperkirakan karena rumah tangga masih mencari masker pelindung, kertas toilet dan makanan pokok.
Tetapi pengeluaran untuk perjalanan dan hiburan merosot, data pemerintah menunjukkan pada hari Selasa, sebuah tanda rumah tangga mengurangi pembelian yang tidak penting bahkan sebelum larangan perjalanan dan kebijakan jarak sosial mulai berlaku pada bulan Maret.
Meski begitu, banyak orang Jepang mengatakan perintah penguncian lunak tidak akan terlalu memengaruhi mereka, karena mereka sudah mengasumsikan aturan itu akan datang.
Berdasarkan data yang dirilis worldometers.info, hingga Selasa (7/4/2020), Jepang telah mengonfirmasi sebanyak 3.906 kasus covid-19 di wilayahnya.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)