Para pemandu, porter / juru angkut, tukang masak, dan para pekerja pendukung aktivitas naik gunung lainnya harus berjalan kaki menuruni lereng dengan tangan kosong.
“Akibat musim (pendakian) dibatalkan, maka tak ada yang mendapat pekerjaan. Dari mulai penerbangan, toko-toko, hingga para porter/juru angkut, tidak ada pekerjaan.
“Semua orang pulang,” kata Pemba Galzen Sherpa, yang mengaku telah mencapai puncak Everest selama 14 kali.
Seorang pemandu, Damian Benegas yang sering mengantarkan tim pendaki ke Everest selama hampir dua dekade mengatakan bahwa para porter dan pekerja dapur lah yang paling terpukul atas penutupan ini.
Menurutnya, dua pekerjaan tersebut bergantung dengan aktivitas pendakian.
Ia juga menyebut bahwa dua pekerjaan ini sering membuat jalannya pendakian berjalan dengan baik
“Orang-orang itu tak punya rencana lain ataupun cadangan serta sejumlah kesepakatan bahwa ekspedisi pendakian akan terus berjalan,” tutur Damian Benegas.
Masa Depan Klub Sepak Bola di Italia Terancam
Serie A sebagai puncak tertinggi liga sepak bola Italia, memang belum mampu menandingi pamor Liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Meski begitu, Serie A masih digemari banyak pecinta sepak bola diseluruh dunia, termasuk mereka yang berasal dari Indonesia.
Kondisi terkini, Italia menjadi negara yang paling terdampak pandemi virus corona.
Nasib Liga Italia Serie A dan turunannya pun setali tiga uang, turut diberhentikan sementara waktu sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Beberapa klub di Italia pun menerapkan pemotongan gaji selama kompetisi dihentikan.
Namun, mereka yang merasakan nasib mengenaskan bukanlah para pemain Juventus, Inter atau AC Milan, melainkan mereka yang bermain liga amatir di Negeri Pizza itu lah yang paling terdampak dari pandemi yang berasal dari Wuhan, China, tersebut.
Melansir Tuttosport, kompetisis Serie D ke bawah adalah kompetisi yang paling terkena dampak dari Covid-19.
Dari Serie D ke kategori-kategori kompetisi amatir di bawahnya, ada 12.000 klub dan satu juta pemain amatir yang masa depannya terancam akibat Covid-19.
Mereka mencakup 98 persen dari pesepak bola di Italia.
"Ketika membicarakan gaji pemain, kita berpikir soal Cristiano Ronaldo dll."
"Namun, ada banyak sekali pemain yang membawa pulang gaji tak sampai 2000 euro per bulan," tutur Alfonso Morrone, Presiden Asosiasi Direktur dan Kolaborator Olahraga.
"Mereka perlu membayar kebutuhan sehari-hari, cicilan rumah, dll."