Bersama ratusan pemandu, porter pembawa barang, dan pekerja lainnya, nasib pekerjannya terancam.
Bagi para warga Sherpa dan para pekerja lainnya, aktivitas pendakian di Gunung Everest merupakan satu-satunya lumbung pemasukan mereka.
Sejumlah warga mengaku bahwa dirinya adalah tulang punggung keluarga.
Aktivitas pendakian Gunung Everest yang berlangsung dari April hingga akhir Mei ini merupakan pemasukan utama bagi para warga Sherpa.
Mereka mengaku bahwa pada periode tersebut, mereka dapat memberi makan keluarganya selama setahun penuh.
Setiap pemandu diperkirakan akan menghasilkan antara 5000 hingga 10.000 dollar selama periode pendakian tersebut.
Kebijakan Nepal
Tercatat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, Nepal menangguhkan izin untuk semua pendakian gunung sejak 12 Maret 2020.
Sejumlah basecamp juga secara efektif menutup kegiatan pendakiannya.
Akibat kebijakan ini, kerugian ditaksir mencapai hampir 4 juta dollar, di mana satu izin pendakian Gunung Everest seharga 11.000 dollar.
Baca: Bukan China atau AS, Ada Studi yang Beberkan Wabah Corona adalah Senjata Biologis Rusia, Alasannya?
Seperti Kota Hantu
Seorang anak penggembala, yang juga bernama Sherpa (31) mengungkapkan dirinya telah mencapai puncak Everest selama delapan kali.
Selama puluhan kali pula, ia menolong pendaki lain mencapai puncak.
Sebagai bentuk antisipasi terhadap penyebaran virus corona, Sherpa meyakini bahwa masalah yang dialaminya juga dirasakan oleh semua.
“Saya pikir semua orang menderita masalah yang sama,” katanya.
Sherpa biasanya berada di basecamp Everest, tempat para pendaki menunggu cuaca yang baik untuk bergegas ke puncak.
Pada musim semi tahun lalu, terdapat 885 orang yang telah mencapai puncak Everest.
Hal itu merupakan rekor terbaru dari catatan sebelumnya yang mencapai 644 orang.
Namun angka tersebut tidak berarti apapun, saat pandemi virus corona membungkam Everest.
Antisipasi penyebaran virus corona telah membuat basecamp kosong.