"Risiko penurunan skenario dasar ini sangat tinggi, karena munculnya gelombang epidemi kedua, atau ketiga akan menenggelamkan pertumbuhan lebih lanjut," ujarnya.
Selain itu pada tahap ini, Demarais mengaku sulit pula melihat strategi keluar dari penguncian.
Sehingga ketidakpastian pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi untuk ketiga negara tersebut.
"Akhirnya, kombinasi dari pendapatan fiskal yang lebih rendah, dan pengeluaran publik yang lebih tinggi, akan menempatkan banyak negara di ambang krisis utang," ungkapnya lebih lanjut.
Pertumbuhan negatif G20
Selain ketiga negara di atas, perekonomian AS diprediksi akan berkontraksi sebesar 2,8 persen tahun ini setelah sebelumnya diprediksi tumbuh mencapai 1,7 persen.
Penyebabnya, respon awal AS terhadap pandemik dinilai buruk sehingga memungkinkan Covid-19 menyebar dengan cepat di negara tersebut.
Selain itu, saat risiko ekonomi mulai meningkat, perjanjian minyak mentah antara Arab Saudi dengan Rusia untuk memangkas produksi minyak justru runtuh.
Kondisi tersebut bisa membuat harga minyak dunia jatuh.
Kombinasi epidemi virus corona dan penurunan harga minyak global, membuat investasi akan mengalami kontraksi tajam tahun ini, terutama di sektor energi.
Akhirnya pertumbuhan ekspor akan menurun.
"Ini menempatkan tawaran pemilihan ulang Donald Trump (dalam Pilpres) dalam risiko, karena pengangguran tampaknya akan meningkat tajam," tulis The Economist.
Ekonomi China
Dampak ekonomi karena wabah virus corona lebih dalam dibanding dampak SARS untuk ekonomi China.
Jika asumsi virus corona "tak kambuh" lagi, pertumbuhan PDB riil China bisa berada pada angka 1 persen pada 2020.
Lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 2019 yang sebesar 6,1 persen.
Kawasan Eropa
Kawasan Eropa akan menjadi salah satu daerah yang paling terpukul, dengan membukukan resesi setahun penuh sebesar 5,9 persen.
Lebih rinci, pertumbuhan ekonomi Jerman sebesar -6,8 persen, Perancis -5 persen, dan Italia -7 persen.
Di Jerman, sebagian besar sektor manufaktur sangat berorientasi ekspor.