Dia juga menolak disebutkan namanya.
Dia biasanya bekerja selama sekitar 20 hari setiap bulan tetapi sekarang bekerja enam hingga delapan hari.
Tanpa jam terbang dan tunjangan, yang biasanya merupakan bagian terbesar dari gajinya, dia hampir tidak bisa membayar hipotek atau membayar penjaga untuk merawat ibunya yang sakit.
"Beberapa gadis adalah ibu tunggal," katanya.
“Mereka harus merawat anak-anak mereka. Mereka harus merawat orang tua mereka.
“Bagaimana saya akan menemukan pekerjaan lain? Semua orang berhemat. Bakat saya pada dasarnya terkait dengan apa yang telah saya lakukan selama 27 tahun terakhir."
Baca: Viral Kepala Desa di Wonosobo Sumbangkan Gajinya untuk Perangi Corona, Ajak Pejabat Lakukan Hal Sama
Seorang pramugari yang berbasis di Singapura dari maskapai yang berbeda mengatakan penerbangan terakhir yang dikerjakannya pada 12 Maret, dan penerbangan berikutnya yang dikonfirmasi adalah 13 April.
Wanita 28 tahun itu, mengatakan gajinya merosot jadi sepetiga dari gaji normal.
"Ada rasa takut akan PHK, ada rasa takut akan cuti tanpa bayar wajib, ada ketakutan bahwa perusahaan mungkin akan runtuh," katanya.
"Saat ini, banyak tempat telah berhenti mempekerjakan, jadi jika saya PHK apa yang akan saya lakukan?"
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)