Hari Ini dalam Sejarah: Fisikawan Christiaan Huygens Menemukan Titan, Satelit Terbesar Saturnus

Christiaan Huygens tidak sengaja menemukan Titan pada 25 Maret 1655


Hari Ini dalam Sejarah: Fisikawan Christiaan Huygens Menemukan Titan, Satelit Terbesar Saturnus
Commons.wikimedia.org
Model struktur bagian dalam Titan 

Christiaan Huygens tidak sengaja menemukan Titan pada 25 Maret 1655




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Fisikawan Belanda Christiaan Huygens menemukan Titan, satelit terbesar Planet Saturnus, pada 25 Maret 1655.

Christiaan Huygens menamakannya Saturni Luna (bulan milik Saturnus) di tulisannya berjudul De Saturni Luna Observatio Nova.

Nama Titan kemudian disarankan oleh John pada abad ke-19, putra seorang astronom bernama William Herschel.

Dalam mitologi Yunani Titan adalah saudara dari Cronus, padanan dari Saturnus dalam mitologi Roma.

Titan adalah satu-satunya satelit yang memiliki atmosfer pekat.[1]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah, 24 Maret 1989, Tanker 11 Juta Galon Minyak Exxon Tumpah di Laut Alaska AS

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 23 Maret 1801 - Kaisar Rusia Paul I Dibunuh di Kamar Tidurnya

Christiaan Huygens penemu Titan
Christiaan Huygens penemu Titan (Commons.wikimedia.org)

Christiaan Huygens lahir di Den Haag pada 14 April 1629.

Keluarganya melayani urusan diplomatik Dinasti Oranye di Belanda.

Ketika masih kecil, dia menunjukkan bakat di bidang matematika dan menggambar.

Pada 1645, dia berkuliah di Universitas Leiden untuk belajar matematika dan hukum, kemudian ke Breda dua tahun kemudian.

Bersama saudara laki-lakinya, Constantijn, Huygens membuat teleskop dan membangun sebuah teori tentangnya.

Dia menemukan hukum pembiasan untuk memperoleh jarak fokus lensa.

Selain itu, dia juga mengoptimalkan teleskopnya dengan cara mengasah dan memoles lensanya.

Pada 1655, dia secara tidak sengaja menmukan satelit Saturnus yang sekarang dikenal bernama Titan.

Huygens menjadi salah satu pendiri Acadèmie Royale des Sciences pada 1666 dan tinggal di Paris sampai 1681.

Dia bertemu Isaac Newton di London pada 1689.

Dua orang ini saling menghormati meski ada ketidaksetujuan dalam ilmu pengetahuan.

Newton percaya bahwa cahaya adalah partikel sementara Huygens yakin cahaya merupakan gelombang.

Namun, karena saat itu Newton lebih populer, teori Huygens baru mendapat perhatian besar lebih dari seratus tahun kemudian.

Karena lebih suka bekerja sendiri atau tidak berkolaborasi, dia kurang diakui sebagai ilmuwan besar semasa hidupnya.
Huygens meninggal pada 8 Juli 1695 di Den Hague.[2]


Huygens terinspirasi oleh penemuan empat satelit terbesar Jupiter oleh Galileo pada 1610.

Dia juga terkesan dengan peningkatan kemampuan teleskop yang dilakukan Galileo.

Ilmuwan Belanda ini bersama saudaranya kemudian membangun teleskop sekitar tahun 1650.

Pada 1655, dia mengarahkan salah satu teleskop barunya ke Saturnus.

Awalnya dia ingin mempelajari cincin Saturnus, tetapi dia kaget melihat bahwa di samping cincin, planet ini juga memiliki satelit besar.

Itu adalah satelit keenam yang ditemukan, setelah bulan dan satelit-satelit Jupiter.

Huygens menamakannya Saturni Luna atau Bulan Saturnus dan diterbitkan di De Saturni Luna pada 1655.

Satelit-satelit Saturnus lain kemudian ditemukan oleh astronom lainnya.

Nama Titan berasal dari pemberian John Herschel, putra William Herschel yang menemukan satelit Saturnus bernama Mimas dan Encelladus.

Nama ini muncul di Results of Astronomical Observations Made during the Years 1834, 5, 6, 7, 8, at the Cape of Good Hopetahun 1847.

Dalam mitologi Yunani, Titan adalah kelompok dewa kuat, turunan dari Gaia dan Uranus.[3]

(TribunnewsWiki/Febri)



Peristiwa Christiaan Huygens menemukan Titan
Pada 25 Maret 1655
   


Sumber :


1. www.universetoday.com
2. www.esa.int
3. wikivisually.com


Penulis: Febri Ady Prasetyo
Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved