Untuk diketahui, tanaman herbal seperti kunyit, jahe, sereh dan temulawak mengandung kurkumin (dalam bahasa Inggris: curcumin).
Kurkumin merupakan senyawa aktif berupa polifenol.
Kurkumin memiliki dua bentuk tautomer, yakni keton dan enol.
Struktur keton lebih dominan dalam bentuk padat, sedangkan struktur enol ditemukan dalam bentuk cairan.
Kurkumin merupakan senyawa yang berinteraksi dengan asam borat menghasilkan senyawa berwarna merah yang disebut rososiania.
"Dari hasil beberapa penelitian terkait aktivitas curcumin, memang benar ada yang melaporkan bahwa curcumin dapat meningkatkan ekspresi Angiotensin Converting Enzyme 2 (ACE2), yang ternyata berdasarkan hasil penelitian terkait SARS-CoV dan SARS-CoV-2, ACE2 merupakan reseptor bagi virus tersebut," terang Fadlina, Rabu (18/3/2020).
Fadlina menjelaskan, ACE2 berfungsi untuk memproteksi paru-paru dari kondisi cedera akut yang parah (severe acute injury).
"Curcumin yang dilaporkan dapat meningkatkan ekspresi ACE2, merupakan hasil penelitian terhadap efek proteksi curcumin pada kondisi aterosklerosis, infark miokardial, dan fibrosis miokardial secara in vivo (praklinik atau uji klinis pada hewan)," terangnya.
Untuk diketahui, ACE2 tidak hanya terdapat pada jantung dan pembuluh darah, tapi juga ditemukan di ginjal, paru-paru, dan testis.
"Jadi, jika benar terjadi pada manusia, bahwa curcumin dapat meningkatkan ekspresi ACE2 maka virus yang berikatan dengan ACE2 juga akan semakin banyak yang dapat menentukan tingkat keparahan kerusakan paru-parunya," jelasnya lebih lanjut.
Sementara itu, dalam penelitian yang lain, curcumin memiliki aktivitas yang potensial sebagai inhibitor main protease Covid-19 atau zat yang mencegah pertumbuhan virus.
Fadlina mengingatkan, penelitian yang kedua ini ini baru dilakukan secara penambatan molekular (Molecular Docking).
Penambatan molekular (molecular docking) adalah metode komputasi yang bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in-vitro.
In vitro sendiri adalah istilah yang dipakai dipakai dalam biologi untuk menyebutkan kultur suatu sel, jaringan, atau bagian organ tertentu di dalam laboratorium.
Istilah ini dipakai karena kebanyakan kultur artifisial ini dilakukan di dalam alat-alat laboratorium yang terbuat dari kaca, seperti cawan petri, labu Erlenmeyer, tabung kultur, botol, dan sebagainya.
Baca: Apakah Boleh Ganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur demi Hindari Virus Corona? Begini Penjelasan MUI
Baca: Penanganan Covid-19, Jokowi Ingatkan Warga Agar Tidak Liburan : Berisiko Sebarkan Corona!
Kultur jaringan dan berbagai variasinya biasa disebut sebagai pembiakan in vitro.
Menurut Fadlina, hasil tersebut masih perlu diujikan lebih lanjut secara in vitro maupun in vivo untuk memastikan apakah memang benar curcumin berpotensi sebagai inhibitor protease Covid-19.
"Jika kita melihat dari sisi mekanisme ini maka curcumin dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor (zat yang mencegah pertumbuhan) Covid-19," kata Fadlina.
"Di dalam tubuh kita, kita tidak tahu mekanisme mana yang dominan, oleh karena itu kita belum bisa membuktikan secara ilmiah aktivitas biologi curcumin terhadap infeksi virus ini bagaimana."
Menambahkan Fadlina, Guru Besar Fakultas Farmasi UI Prof. Dr. Abdul Mun'im, M.Si. Apt, menyampaikan bahwa pada penelitian 1 dan 2 memiliki tujuan berbeda.