TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berubah bak kota mati, kini warga Wuhan harus bertahan hidup dengan makan makanan basi dan busuk.
Kota Wuhan menjadi sorotan setalah disebut-sebut menjadi sumber virus corona.
Hal tersebut karena Wuhan merupakan kota dengan jumlah virus corona terbanyak.
Setelah banyaknya orang tertular virus corona tersebut akhirnya kota Wuhan pun diisolasi oleh Pemerintah China.
Akibat isolasi ini, ada banyak kesulitan di alami oleh warga Wuhan diantaranya terkait makanan.
Selain harganya yang terlampau tinggi, makanan yang tersedia pun banyak yang sudah basi.
Padahal risiko yang bisa didapatkan dari mengonsumsi makanan basi tersebut tentunya tak bisa dinggap sepele yaitu keracunan.
Baca: Kisah Pemuda Wuhan Sembuh dari Corona, Semangat Bangkit karena Anime: Hari Terburuk Hidup Saya
Baca: Bayi di Wuhan Lahir Terinfeksi Virus Corona, Sembuh Tanpa Obat Setelah 17 Hari dan Jadi Lebih Gemuk
Dilansir oleh NHS bahwa makanan basi mengandung bakteri yang berbahaya bagi tubuh, salah satunya adalah Bacillus cereus yang dapat menyebabkan sakit, mengalami muntah bahkan diare sekitar 1 hingga 5 jam sesudahnya.
Meski gejalanya relatif ringan dan biasanya berlangsung sekitar 24 jam, namun tetap saja hal ini tidak baik bagi kesehatan tubuh.
Terlebih makanan basi yang di simpan dalam suhu ruangan, dimana itu lebih berisiko membahayakan tubuh.
Walaupun makanan basi tersebut dimasak ulang atau dipanaskan kembali tidak ada dampak positifnya.
Sebab makanan sudah terkontaminasi dengan bakteri dan kotoran lainnya yang terbang bersama udara ruangan disekitar.
Selain dapat menyebabkan diare, keracunan makanan basi juga dapat menyebabkan kram perut, merasa lemah tidak bertenaga, merasa kedinginan, bahkan demam hingga melebihi 38° Celsius.
Peristiwa yang dialami warga wuhan pun diungkap dengan baik oleh laporan yang diberitakan AFP (28/2/2020).
Dimana seorang warga bernama David Dai yang berdomisili mengaku keadaan kota Wuhan saat ini sangat mengerikan.
"Di lingkungan tempat saya tinggal, kenyataannya benar-benar mengerikan," katanya.
Lebih lanjut, keluarga dari perempuan berusia 49 tahun ini harus benar-benar bergantung pada diri mereka sendiri.
Untuk stok bahan makanan, mereka telah mengeringkan dan menyimpan kulit lobak sebagai tambahan nutrisi di makanan.
Meski kompleks apartemennya sudah memiliki kelompok pembelian, Dai mengatakan penduduk setempat tidak puas dengan harga dan kualitas makanan yang beredar.
"Banyak tomat, banyak bawang, mereka sudah busuk," katanya pada AFP.