Update Terbaru Virus Corona - 3 Maret 2020: Total 48.002 Pasien Sembuh, 3114 Orang Meninggal

Berikut adalah update terbaru kasus virus corona yang menyebar ke lebih dari 33 negara.


zoom-inlihat foto
virus-corona-korea-selatan-2222.jpg
YONHAP / AFP
Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung memindahkan seorang tersangka pasien virus korona (C) ke rumah sakit lain dari Rumah Sakit Daenam di mana total 16 infeksi sekarang telah diidentifikasi dengan virus corona COVID-19, di daerah Cheongdo dekat kota tenggara Daegu pada 21 Februari 2020 Kasus coronavirus Korea Selatan hampir dua kali lipat pada 21 Februari, naik di atas 200 dan menjadikannya negara yang paling parah terkena dampak di luar China ketika jumlah infeksi yang terkait dengan sekte keagamaan meningkat. YONHAP / AFP


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perkembangan terbaru korban meninggal dunia akibat virus corona mencapai 3114 orang

Jumlah korban meninggal akibat virus corona ini sejalan dengan jumlah pasien yang sembuh yang mencapai 47.711 pasien

Kabar terbaru ini menambah angka jumlah pasien terinfeksi yang total mencapai 90.379 kasus.

Laporan per hari dari Komisi Kesehatan Nasional China, dilansir SCMP, Selasa (3/3/2020) merupakan data terbaru perihal penyebaran virus corona yang telah menyebar ke lebih dari 33 negara.

Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum dapat menentukan inang perantara virus corona yang meningkatkan risiko kekambuhan.

Baca: Berikut Daftar 100 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Kasus Corona di 32 Provinsi di Indonesia

Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung ikut serta dalam latihan dalam menangani pasien Covid-19, di Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali, pada 12 Februari 2020.
Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung ikut serta dalam latihan dalam menangani pasien Covid-19, di Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali, pada 12 Februari 2020. (AFP)

Dilaporkan South China Morning Post, para pakar kesehatan telah menyoroti tantangan epidemic virus corona, dengan peringatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai risiko wabah virus corona yang dapat muncul kembali.

Meskipun WHO telah meningkatkan status risiko pada level tertinggi, penyebaran virus corona semakin meluas ke negara-negara di dunia.

“Wabah Virus Corona telah mencapai 'titik yang menentukan' dan memiliki 'potensi pandemi'," kata Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Dr Tedros Ghebreyesus.

Baca: MotoGP Qatar 2020 Resmi Dibatalkan karena Virus Corona, Valentino Rossi: Sangat Sulit Diterima

Pemerintah Italia tidak mengindahkan larangan WHO terkait Virus Corona yang berakibat kematian 11 warga Italia dan pembatasan penerbangan menuju Italia
Pemerintah Italia tidak mengindahkan larangan WHO terkait Virus Corona yang berakibat kematian 11 warga Italia dan pembatasan penerbangan menuju Italia (Kompas.com)

Tidak Demam

Dalam sebuah studi bersama yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, para peneliti dari China daratan dan Hong Kong meninjau kasus 1.099 pasien coronavirus dari 552 rumah sakit di 30 provinsi.

Penelitian itu ditulis bersama oleh puluhan ahli medis, termasuk Direktur Laboratorium Kunci Negara China untuk Penyakit Pernapasan Zhong Nanshan dan pakar pengobatan pernapasan Universitas China Hong Kong Profesor David Hui Shu-cheong.

Mereka menemukan bahwa lebih dari separuh pasien tidak mengalami demam ketika mereka pergi ke rumah sakit yang menjadikan proses diagnosis lebih sulit.

Tetapi 88,7 persen dari mereka memang mengembangkan satu setelah masuk.

"Beberapa pasien dengan Covid-19 tidak mengalami demam atau kelainan radiologis pada presentasi awal yang telah memperumit diagnosis," bunyi studi tersebut.

Baca: Indonesia Laporkan Kasus Virus Corona Pertama, Harga Masker N95 Mencapai Rp 1,1 Juta per Boks

Paus Fransiskus terlihat menyeka hidungnya ketika memimpin Misa Rabu Abu pada 26 Februari 2020. Absennya Paus pasca-gambar tersebut mencuat memunculkan sebuah publikasi bahwa pemimpin Gereja Katolik itu terkena virus corona. Pihak Vatikan membantah, dan menyatakan Paus Fransiskus kurang enak badan.
Paus Fransiskus terlihat menyeka hidungnya ketika memimpin Misa Rabu Abu pada 26 Februari 2020. Absennya Paus pasca-gambar tersebut mencuat memunculkan sebuah publikasi bahwa pemimpin Gereja Katolik itu terkena virus corona. Pihak Vatikan membantah, dan menyatakan Paus Fransiskus kurang enak badan. (AFP/ALBERTO PIZZOLI)

Kasus Corona Pertama di Indonesia

 Indonesia pada Senin (2/3/2020) telah mengonfirmasi kasus virus corona pertama di negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia ini.

Masuknya virus yang juga dikenal sebagai Covid-19 ini telah meningkatkan kekhawatiran masyarakat.

Meningkatnya kekhawatiran masyarakat akan penyebaran virus corona ini kemudian meningkatkan jumlah permintaan masyarakat akan masker dan hand sanitizer.

Hal ini pun mengakibatkan melambungnya harga masker, salah satunya terjadi di LTC Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, pada Senin (2/3/2020).

Dikutip dari Kompas.com, menurut Asong, salah satu penjual masker di Glodok mengatakan dirinya harus menjual masker dengan harga tinggi lantaran masker yang diperolehnya dari distributor harganya sudah tinggi.

Baca: Inilah Bedanya Gejala Virus Corona dan Flu Biasa, Mirip Namun Ada Perbedaan Khusus

pada 28 Februari 2020, setelah COVID-19, virus corona baru, menyebar ke Italia. Italia mendesak para wisatawan yang ketakutan oleh virus corona baru pada 28 Februari untuk tidak menjauh, tetapi upaya untuk meyakinkan dunia bahwa mereka mengelola wabah dengan baik dibayangi oleh peningkatan tajam dalam jumlah kasus. Sekitar 650 orang telah dinyatakan positif terkena virus di Italia, meskipun hanya 303 yang dianggap sebagai kasus klinis serius, dan kematian mencapai 17 - sejauh ini merupakan yang tertinggi di Eropa - menurut angka terbaru dari badan perlindungan sipil.
pada 28 Februari 2020, setelah COVID-19, virus corona baru, menyebar ke Italia. Italia mendesak para wisatawan yang ketakutan oleh virus corona baru pada 28 Februari untuk tidak menjauh, tetapi upaya untuk meyakinkan dunia bahwa mereka mengelola wabah dengan baik dibayangi oleh peningkatan tajam dalam jumlah kasus. Sekitar 650 orang telah dinyatakan positif terkena virus di Italia, meskipun hanya 303 yang dianggap sebagai kasus klinis serius, dan kematian mencapai 17 - sejauh ini merupakan yang tertinggi di Eropa - menurut angka terbaru dari badan perlindungan sipil. (MIGUEL MEDINA / AFP)

"Kami jual buat eceran saja sih. Ada beberapa pesan distributor lagi kosong. Untuk per hari ini kami jual tinggi," ujar Asong kepada Kompas.com, Senin (2/3/2020).

"(Kalau) dapat harga murah, kami jual murah. Kalau dapat tinggi, ya jual tinggi sesuai pasaran," lanjut dia.

Asong mengambil sampel masker yang dijual di tokonya.

Untuk merek Sensimask, tokonya menjual dengan harga hingga 10 kali lipat lebih mahal.

"Masih dijual Rp 300.000-an per boks, isi maskernya 50 lembar. Kalau sebelum kasus corona itu harga per boks Rp 20.000-an per boks. Meningkat 10 kali lipat lebih," lanjut Asong.

Meski mematok harga tinggi, menurutnya, masih saja warga berbondong-bondong mencari masker untuk melindungi diri dari virus corona.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Hendra, salah satu pemilik toko di LTC Glodok.

Hendra mengaatakan harga masker per boks nya bisa naik 10 kali lipat.

Faktor yang membuat harga naik karena permintaan yang tinggi dan harga dari distributor sudah naik.

"Tiga minggu lalu memang banyak, hari ini mulai meningkat lagi permintaan. Harga jual, Rp 1,1 juta itu merek 3M jenis N95, 8515 yang banyak dicari orang per box isi 50 lembar," kata Hendra.

Hendra mengatakan stok masker di tokonya juga menipis karena banyak warga yang mencari bahkan membeli dalam jumlah banyak.

"Untuk hari ini ada peningkatan ada tadi pagi begitu ada berita ada yang borong tadi, ada yang beli 50 karton atau dus, biasa enggak ada yang cari," ucap Hendra.

Selain merek 3M, Hendra juga menyebut merek lain seperti SensiMask juga sudah menipis stoknya.

Bahkan sebelum corona meluas, harga masker itu sudah mencapai Rp 250.000-Rp 350.000.

"Kalau biasa stok sudah tidak ada, sudah, Kalau Sensi sudah agak langka lah waktu pertama kali di China. Adapun sisa mungkin, itu harga sudah tinggi," kata Hendra

Update terbaru virus corona di Indonesia.
Update terbaru virus corona di Indonesia. (gisanddata.maps.arcgis.com)

Pentingkah Penggunaan Masker?

Terkait melonjaknya harga masker di pasaran, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tak ingin banyak berkomentar.

Ia justru menyarankan bahwa masker hanya dipakai apabila seseotang mengalami gejala kesehatan. "Kamu enggak sakit kok pakai masker, bikin harga mahal," ucap Terawan seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurutnya, yang lebih penting adalah meningkatkan imunitas tubuh ketimbang menggunakan masker. Justru, penggunaan masker dapat mengurangi asupan oksigen saat bernafas.

"Karena itu nomor satu cara menjaga kita bukan dengan panik atau paranoid khawatir. Namun dengan menjaga imunitas tubuh kita. Kalau sakit pakai masker, kalau sehat ya enggak usah, jadi mengurangi oksigen dalam badan kita juga," tutur Terawan.

Lantas, pentingkah penggunaan masker untuk mengurangi risiko tertular virus corona?

Jawabannya adalah tidak.

“Meskipun ada kasus-kasus virus di luar sana, jawabannya adalah tidak. Anda tidak perlu menggunakan jenis masker apa pun, baik masker operasi, masker N95, masker pernapasan, atau masker lainnya, untuk melindungi diri dari virus corona," kata Profesor Obat dan Epidemiologi di University of Iowa's College of Medicine, Eli Perencevich, seperti dikutip Kompas.com dari Forbes.

Menurut Perencevich, mereka yang dalam keadaan sehat tidak perlu memakai masker.

"Rata-rata orang yang sehat tidak perlu memakai masker. Tidak ada bukti bahwa memakai masker pada orang sehat akan melindungi mereka," kata Perencevich.

"Apalagi banyak orang memakainya dengan cara yang salah, sehingga justru bisa meningkatkan risiko infeksi, karena mereka lebih sering menyentuh wajah mereka," katanya.

Perencevich menambahkan, hanya gunakan masker jika kamu sedang sakit karena dimaksudkan agar tidak menularkan sakit kepada orang lain.

Sementara itu, menurut WHO, penggunaan masker saja tidak menjamin menghentikan infeksi dan harus dikombinasikan dengan langkah-langkah pencegahan lain.

Termasuk kebersihan tangan, pernapasan, dan menghindari kontak dekat, setidaknya jarak satu meter dengan orang lain.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

 




Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved