Kawah Ijen #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
Namun, pada dasarnya secara geografis, kawasan Kawah Ijen masuk dalam tiga wilayah kabupaten di Jawa Timur, yaitu Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Maurice Krafft dan Katia merupakan orang-orang pertama yang memperkenalkan Kawah Ijen Banyuwangi ke dunia internasional di era modern.
Hasil penelitian mereka yang berjudul “À l’assaut des volcans, Islande, Indonésie” yang diterbitkan dan dipublikasikan oleh Presses de la Cité, Paris, pada tahun 1975- lah yang kemudian memperkenalkan Kawah Ijen ke dunia Internasional. (1)
Kawah Ijen merupakan sebuah danau kawah dengan kedalaman 200 meter yang bersifat asam.
Kawah yang terkenal eksotis ini terletak di puncak Gunung Ijen yang memiliki tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut.
Kawah dengan luas mencapai 5.466 Hektar ini telah menjadi eksotis dengan sendirinya karena pemandangan kabut serta asap belerang yang muncul darinya.
Salah satu yang paling terkenal dari Kawah Ijen adalah pesona Blue Fire atau Api Biru-nya yang hingga saat ini tidak berhenti diburu oleh para wisatawan.
Namun, pengunjung harus berhati-hati jika mendekati kawah ini karena kawah ini memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi, yaitu mendekati nol sehingga bisa melarutkan tubuh manusia dengan cepat.
Baca: Gunung Rinjani
Baca: Gunung Ijen
Blue Fire #
Fenomena Blue Fire menjadi target perburuan utama wisatawan yang berkunjung ke Wisata Ijen Banyuwangi.
Fenomena ini hanya dapat dilihat oleh mata manusia saat tidak ada cahaya.
Oleh karena itu, Blue Fire hanya dapat dijumpai pada dini hari, yaitu sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 WIB.
Penampakan Blue Fire diklaim hanya ada dua di dunia, yaitu Indonesia dan Islandia.
Fenomena ini diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun lalu, namun keberadaannya baru diketahui masyarakat sekitar tahun 1950-an.
Kemungkinan besar penemunya adalah warga lokal yang sedang menambang belerang karena Kawah Ijen merupakan kawasan tambang belerang tradisional.
Blue Fire sendiri merupakan hasil reaksi dari gas bumi yang bertemu dengan oksigen pada suhu tertentu.
Blue Fire terjadi karena Kawah Ijen memiliki kandungan belerang yang sangat tinggi yang kemudian bertemu dengan panas bumi yang juga bertekanan tinggi sehingga terjadilah reaksi oksidasi.
Reaksi pembakaran belerang inilah yang menghasilkan panas dan cahaya yang diterima sebagai warna biru oleh reseptor mata manusia. (2)
Baca: Museum Gunung Merapi
Penambang Belerang Kawah Ijen #
Kawah Ijen tidak hanya memberikan penghidupan bagi wisata Jawa Timur.
Dari hasil perutnya juga ada penambang belerang yang berjuang untuk mencari nafkah.
Mereka bisa disebut "Bausuku lira" dalam Bahasa Sansekerta yang artinya pekerja belerang atau orang yang mencari belerang.
Setiap dini hari para penambang berjalan kaki menaiki gunung Ijen, kemudian turun menuju kawah untuk menambang belerang.
Para penambang ini hanya bermodalkan linggis, keranjang bambu untuk mengankut belerang, serta pakaian yang tidak terlalu tebal.
Dini hari merupakan waktu yang tepat bagi penambang untuk memulai aktivitasnya karena udara dari kawah yang mungkin mengandung racun H2S belum mengarah ke lokasi pertambangan.
Keranjang-keranjang berisi belerang yang dibawa para penambang bisa mencapai berat 70 kilogram.
Belerang-belerang tersebut akan dibawa ke bawah dan dijual ke pengepul.
Pukul 07.00 WIB biasanya penambang sudah mulai sepi karena telah mengangkut belerang hasil tambangannya menuju basecamp.
Rata-rata dalam sehari, penambang mampu mengumpulkan 150-200 kilogram belerang tergantung dengan kondisi tubuh dan itu pun tidak setiap hari mereka lakukan penambangan karena faktor tenaga.
Saat ini (2020), belerang hasil penambangan dibeli oleh pengepul pada kisaran harga Rp 1.250 per kilogram. (3)
Rute Menuju Kawah Ijen #
Secara geografis, kawasan Kawah Ijen masuk dalam tiga wilayah kabupaten di Jawa Timur, yaitu Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Meski demikian, pintu utama untuk masuk ke dalam lokasi Kawah Ijen berada di Paltuding, Banyuwangi.
Bagi wisatawan yang tidak ingin bermalam di gunung tapi ingin menyaksikan fenomena api biru, kawasan Kalipuro menjadi pilihan lain untuk bermalam.
Dari Kalipuro menuju Paltuding menghabiskan waktu sekitar satu jam perjalanan atau menempuh jarak sekitar 35 km.
Dengan estimasi waktu perjalanan trekking dari Paltuding menuju Kawah Ijen menghabiskan waktu sekitar 2 jam, maka untuk bisa menyaksikan fenomena api biru, wisatawan harus memulai perjalanan dari Kalipuro sekitar pukul 01.30 WIB.
Setelah melewati jalan hutan yang berliku di Lereng Gunung Ijen, pengunjung akan sampai di Paltuding.
Dari Paltuding, dengan udara yang terkenal dingin menusuk, para pendaki yang ingin memulai perjalanannya terlihat sedang bersiap dan menebalkan pakaiannya.
Sementara beberapa orang mendekati para calon pendaki, menawarkan jasa antar.
Bagi mereka yang belum tahu seluk beluk Kawah Ijen, memang disarankan untuk menyewa jasa guide.
Dari Paltuding ke lokasi Kawah Ijen berjarak sekitar 3 km.
Bagi para pendaki pemula, jarak ini bisa menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan.
Dua kilo meter pertama, trek menuju lokasi kawah didominasi oleh jalan tanah yang berdebu.
Sedangkan di satu kilo meter terakhir, trek didominasi oleh jalan bebatuan yang terjal dan sempit.
Dibutuhkan lampu penerangan yang cukup jika melakukan pendakian di malam hari.
Di tiga kilo meter terakhir aroma belerang makin menyengat, hal itu menandakan lokasi Kawah Ijen sudah dekat.
Dari atas tebing Gunung Ijen, pesona blue fire sudah terlihat.
(TribunnewsWiki.com/Ron)
| Nama | Wisata kawah Ijen |
|---|
| Lokasi | Banyuwangi, Jawa Timur |
|---|
| Google Maps | -8.058212, 114.241244 |
|---|
Sumber :
1. tourbanyuwangi.com
2. kumparan.com
3. travel.detik.com