TRIBUNNEWSWIKI.COM - Para dokter dan perawat yang ditugaskan untuk tangani pasien dengan virus corona rela menggunduli kepala mereka.
Para dokter dan perawat tersebut berasal dari seluruh dataran China untuk mengabdi pada masyarakat yang berada di kota-kota terinfeksi virus corona.
Aksi mengharukan mereka demi profesionalitas kerja dan mencegah penularan virus corona pertama kali dibagikan oleh seorang perawat melalui video dokumentasi singkat.
Dalam video yang beredar, para petugas medis tersebut benar-benar memangkas habis hingga tak menyisakan sehelai rambut di kepala mereka.
Dikutip dari somagnews.com, ketika kepala mereka digunduli, tak nampak raut menyesal atau kecewa.
Mereka lebih memilih menggunduli kepala mereka daripada harus meningkatkan risiko tertular virus corona hanya karena rambut yang tak tertutup sempurna oleh pakaian pelindung.
Selain itu kepala gundul justru akan membuat paramedis lebih fleksibel dalam bekerja.
Mereka tak lagi memakan waktu yang lama untuk mencuci dan mengikat rambut.
Sehingga ketika mereka harus berganti pakaian, mereka akan bisa lebih menghemat waktu.
Dari video yang dibagikan oleh akun Twitter People's Daily, China, menunjukkan jika para perawat dari Shanxi mencukur habis rambut di bagian belakang bawah kepalanya.
Namun mereka masih menyisakan rambut di bagian depan dan tengah kepala mereka.
Para perawat tersebut diinformasikan merupakan paramedis yang akan ditugaskan berdinas di Wuhan.
Baca: China Diduga Tutupi Jumlah Korban Tewas Akibat Virus Corona, Sebenarnya Tak Hanya 908 Orang
Baca: Seorang Jurnalis Warga Menghilang, Ternyata Ditangkap Polisi karena Sebarkan Berita Virus Corona
Sedangkan dari video yang dibagikan di akun Twitter milik Xinhua, para dokter dan perawat asal Xi'an menggunduli kepalanya hingga tanpa ada rambut yang tersisa.
Dalam video tersebut diketahui terdapat 200 lebih paramedis yang akan ditugaskan ke Wuhan berpartisipasi secara suka rela untuk menggunduli kepala mereka.
Sehingga perlu waktu 11 jam untuk 3 orang pencukur rambut untuk menggunduli ratusan paramedis tersebut.
Mengenakan popok ketika bertugas untuk menghemat waktu ke toilet
Dilaporkan oleh The Washington Post, para petugas medis terpaksa mengenakan diapers atau popok sekali pakai lantaran tak miliki banyak waktu untuk sekedar pergi ke toilet.
Terlebih para petugas medis tersebut mengenakan pakaian khusus agar tak mudah terkontaminasi birus corona dari para pasien.
Mengenakan popok juga bisa mengurangi resiko pakaian pelindung mereka robek karena sering dilepas hanya untuk keperluan sekresi urin maupun feses.
Disisi lain, sejak wabah terjadi di Wuhan, pakaian pelindung untuk petugas medis memang mengalami kelangkaan.
Sehingga apapun akan mereka lakukan agar apa yang dimiliki sekarang tidak menjadi sia-sia.
“Kami tahu bahwa pakaian pelindung yang kami kenakan bisa menjadi yang terakhir yang kami miliki, dan kami tidak mampu untuk membuang apa pun,” kata seorang dokter di Rumah Sakit Union Wuhan.
Petugas paramedis kerap terluka
Belum cukup, para pahlawan virus corona tersebut juga dihadapi dengan masalah kesehatan.
Tak hanya risiko tertular yang sangat besar, paramedis juga terus bekerja tanpa henti.
Bahkan paramedis tersebut harus merasakan pedih karena terlalu sering menggunakan cairan disinfektan.
Hal tersebut lantaran pemakaian disinfektan yang intensif dapat menimbulkan ruam hingga goresan luka.
Wajah para petugas medis juga menerima dampaknya.
Terlalu sering mengenakan masker akan membuat sebagian kulit wajah paramedis memiliki garis-garis permanen bekas karet masker.
Petugas paramedis yang berdinas di kota-kota karantina terutama Wuhan juga mendapatkan luka psikologis.
"Saya pikir setiap dokter dan perawat terlukan baik secara fisik maupun mental, terlebih karena mereka selalu bekerja dalam tekanan dan target," ucap seorang terapis, Candice Qing.
"Kita tahu pasien adalah hal utama yang harus diperhatikan, namun kita juga tidak boleh melupakan fakta bahwa para dokter dan perawat juga manusia," lanjutnya.
Hingga berita ini diunggah, saat ini jumlah pasien sembuh akibat virus corona mencapai 4.771 orang.
Meningkatnya pasien sembuh tersebut diikuti dengan meningkatnya jumlah korban meninggal yang mencapai 1.115 pasien di wilayah China.
Data dari Komisi Kesehatan Nasional China yang dilansir South China Morning Post (SCMP), Rabu (12/2/2020), ini juga mengakumulasi keseluruhan data pasien yang terinfeksi mencapai 45.168 orang.
Sementara itu korban meninggal dunia di luar China sampai saat ini masih terhitung dua orang, di Filipina dan Hong Kong.
Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), lebih dari 20 negara dikonfirmasi telah terpapar virus corona.
Baca: Rekaman Mengerikan Ribuan Gagak Berpesta Dengan Mayat Korban Virus Corona Di Atas Langit Wuhan
Baca: Kabar Pasien Sembuh Akibat Virus Corona Telah Mencapai Angka 4.771 dari Total 45.168 Terinfeksi
Baca: Jadikan Virus Corona sebagai Lelucon, Selebgram hingga Pemain Tottenham Hotspur Ini Terancam Sanksi
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)