Candi Penataran

Candi Penataran terletak di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi ini merupakan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang konon dibangun untuk menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh Gunung Kelud yang sering meletus. Candi Penataran memiliki nama asli Candi Palah.


Candi Penataran
YouTube.com
Candii Penataran 

Candi Penataran terletak di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Candi ini merupakan candi peninggalan Kerajaan Kediri yang konon dibangun untuk menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh Gunung Kelud yang sering meletus. Candi Penataran memiliki nama asli Candi Palah.




  • Informasi Umum


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Candi Penataran merupakan salah satu candi bercorak Hindu yang terletak di Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Penataran, sebelah lereng barat daya Gunung Kelud dengan ketinggian 450 meter. Candi ini dikenal sebagai candi terluas dan berkategori termegah di kawasan Jawa Timur.

Diketahui candi ini memiliki nama asli Candi Palah, namun candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Penataran. Hal ini diketahui dari prasasti yang tersimpan di bagian candi, dari prasasti tersebut disebutkan nama candi Palah merupakan candi tempat pemujaan.

Namun lambat laun nama Palah tidak lagi terdengar dan lebih dikenal dengan nama Candi Penataran. Penyebutan nama candi ini kemungkinan diidentikkan dengan lokasi candi di Desa Penataran. (1)

  • Sejarah


Tempat yang terkenal dengan candi yang terbesar juga termegah di Jawa Timur ini dibangun pada zaman Kerajaan Kediri.

Diketahui dari Prasasti yang terdapat di dalam candi, diperkirakan candi ini dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri sekitar tahun 1200 Masehi.

Kerajaan Kediri hadir di nusantara pada tahun 1045 M hingga 1222 M. Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

Mengingat masa pembangunannya berada pada zaman kekuasaan Kerajaan Kediri, hampir dipastikan beberapa bagian candi dibangun pada masa itu dan digunakan hingga masa pemerintahan Wikramawardhana, Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.

Dalam kitab Desawwarnana atau Negarakretagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365, Candi Penataran disebut sebagai bangunan suci Palah yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam lawatannya keliling Jawa Timur.

Raja Hayam Wuruk berkunjung ke candi ini dengan tujuan untuk memuja Hyang Acalapat yang merupakan perwujudan Dewa Siwa sebagai Girindra atau Raja Penguasa Gunung. 

Pada awal pembangunannya, Candi Penataran difungsikan sebagai sarana upacara pemujaan Hindu. Tujuan dari upacara ini salah satunya adalah untuk menangkal bahaya dari Gunung Kelud yang saat itu sering meletus.

Gunung Kelud merupakan gunung berapi aktif dengan pola letusan yang unik.

Untuk melakukan pemujaan ini Candi Penataran dibangun di lereng barat daya Gunung Kelud, pada ketinggian 450 meter di atas permukaan laut.

Warga Blitar diketahui sejak lama hidup dalam ancaman letusan Gunung Kelud.

Tidak mengherankan, pada masa itu perlu dibuat sebuah tempat pemujaan dekat Gunung Kelud untuk menaklukkan amarahnya. (2)

Pada tahun 1286 komplek candi Penataran menambah bangunan candi yang bernama Candi Naga.

Disebut candi Naga karena terdapat relif yang menggambarkan sembilan orang yang menyangga seekor naga.

Relief ini melambangkan angka tahun 1208 Saka masa pemerintahan Kertanegara.

Kertanegara merupakan raja besar Singasari yang mampu meluaskan kerajaannya hingga ke wilayah Melayu.

Setelah Singasari runtuh, Candi Penataran kembali diluaskan pembangunannya saat pemerintahan Jayanegara, yang dilanjutkan oleh Tribuana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk.

Ketiga nama tersebut merupakan Raja besar dari Kerajaan Majapahit, dengan demikian tiga kerajaan besar di nusantara meninggalkan jejak mereka dalam bangunan megah Candi Penataran

Candi penataran menjadi tempat yang paling disenangi raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan termasuk juga Mahapatih Gajahmada.

Dari beragam cerita diketahui, Mahapatih Gajahmada mengucapkan Sumpah Palapa di area Candi Penataran ini.

Tidak hanya itu, abu Ken Arok pendiri Tumapel yang menjadi cikal bakal kerajaan Singasari pernah disimpan di candi ini, juga abu dari Raden Wijaya dari Kerajaan Majapahit pernah disimpan di Candi Penataran ini.

Baca: Tinjau Proyek Destinasi Candi Borobudur, Jokowi Inginkan Proyek Ini Cepat Selesai


Kompleks bangunan Candi Penataran menempati areal tanah seluas 12.946 meter persegi berjajar membujur dari barat laut ke timur dan tenggara.

Seluruh halaman komplek percandian kecuali yang bagian tenggara dibagi menjadi tiga bagian, yang dipisahkan oleh dua dinding.

Untuk lebih mudahnya dalam memahami kompleks Candi Penataran, bagian-bagian dari Candi Penataran disebut halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang. 

  • Halaman Depan

Berdasarkan pahatan angka tahun yang ada pada kedua lapik arca tersebut, para sejarahwan menyimpulkan bahwa bangunan Candi Palah baru diresmikan menjadi Candi Negara pada masa pemerintahannya Raja Jayanegara dari Majapahit. 

  • Bale Agung

Lokasi bangunan tersebut terletak di bagian barat laut halaman depan, posisinya sedikit menjorok ke depan.

Bangunan seluruhnya terbuat dari batu, didingnya masih polos dan memiliki empat buah tangga, dua buah terletak di sisi tenggara, sehingga bangunan ini terkesan menghadap tenggara.

Sedangkan dua buah yang lain terletak di sisi timur laut dan barat daya terkesan sebagai tangga ke pintu samping. Pada diding utara dan selatan terdapat dua buah tangga masuk yang membagi dinding sisi timur menjadi tiga bagian.

  • Pendopo Teras

Lokasi bangunan terletak di sebelah tenggara bangunan Bale Agung. Pendopo Teras seluruhnya terdiri dari batu, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 29,05 meter x 9,22 meter x 1,5 meter.

Diperkirakan Pendopo Teras digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya.

Pada sisi barat terdapat dua buah tangga naik yang berupa undak-undakan, tangga ini tidak berlanjut di dinding bagian timur.

Pada masing-masing sudut tangga masuk di sebelah kiri dan kanan pipi tangga terdapat arca raksasa kecil bersayap dengan lutut kaki ditekuk pada satu kakinya dan salah satu tangannya memegang gada. Pipi tangga bagian yang berbentuk ukel besar berhias tumpal yang indah.

  • Halaman tengah

Terdapat dua buah arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil dibanding Dwarapala pintu masuk candi.

Dwarapala ini pada lapik arcany terpahat angka tahun, tertulis tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi, setahun lebih tua dibanding Dwarapala di pintu masuk, juga berasal dari zaman Raja Jayanegara.

Halaman tengah atau halaman kedua ini terbagi menjadi dua bagian oleh tembok bata yang membujur arah percandian di tengah halaman. Tembok tersebut sekarang hanya tinggal pondasinya saja yang masih terlihat.

Pada bagian timur laut ada enam buah sisa bangunan dari batu maupun dari bata. Tiga buah tinggal sisanya berupa fondasi dari bata, dua buah berupa batur dan sebuah lagi berupa candi tanpa penutup di atasnya.

Batur pertama terbuat dari batu bercampur bata dengan ukuran lebih besar dibanding batur satunya yang khusus terbuat dari batu.

  • Halaman belakang

Halaman belakang terletak di ujung tenggara sebagai bagian paling belakang dari kompleks candi dan terletak di tanah yang lebih tinggi dari yang lainnya.

Karena adanya anggapan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang paling sakral. Ada sekitar sembilan buah bekas bangunan di halaman ini yang letaknya tidak beraturan.

Dua buah candi yang sudah dapat dikenali adalah bangunan candi induk dan prasasti Palah berupa linggapala. Sepanjang sisi barat laut terdapat lima buah sisa bangunan berupa fondasi dan batur dari batu atau bata.

Satu daiantaranya sebuah batur yang terdapat relief-relief cerita candi. Tingginya sekitar satu meter.

  • Candi utama

Bangunan utama Candi Penataran berbentuk Piramida Berundak. Pada halaman ketiga ini terdapat bangunan candi induk yang terdiri dari tiga teras tersusun dengan tinggi 7,19 meter.

Pada masing-masing sisi tangga terdapat dua arca mahakala, yang pada lapiknya terdapat angka tahun 1269 Saka atau 1347 M.

Sekelling dinding candi pada teras pertama terdapat relief cerita Ramayana. Untuk dapat membacanya harus mengikuti arah prasawiya, dimulai dari sudut barat laut.

Pada teras kedua sekeliling dinding dipenuhi pahatan relief ceritera Krçnayana yang alur ceriteranya dapat diikuti secara pradaksina (searah jarum jam). Sedangkan di teras ke tiga berupa relief naga dan singa bersayap.

Teras ketiga bentuknya hampir bujur sangkar, dinding-dindingnya berpahatkan arca singa bersayap dan naga bersayap. kepalanya sedikit mendongak ke depan sedangkan singa bersayap kaki belakangnya dakam posisi berjongkok sedang kaki depan diangkat ke atas.

Pada sisi sebelah barat daya halaman terdapat dua buah sisa bangunan. Sebuah candi kecil dari batu yang belum lama runtuh yang oleh orang Belanda dulu dinamakan klein heligdom atau bathara kecil.

Tampaknya candi inilah yang mula-mula dibuat bersamaan dengan prasasti Palah melalui upacara pratistha tersebut.

Sebuah sisa yang lain berupa fondasi dari bata. Kedua sisa bangunan ini menghadap ke arah barat daya. Sederet dengan sisa kedua bangunan ini berdiri sebuah lingga batu yang disebut prasasti Palah.

Dalam area komplek percandian juga terdapat sebuah kolam berangka tahun 1337 Saka atau 1415 Masehi yang terletak di belakang candi sebelah tenggara dekat aliran sungai.

  • Prasasti Palah

Prasasti Palah adalah prasasti yang dibuat oleh Raja Srengga dan ditemukan di halaman candi Penataran berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi.

Prasasti tersebut menerangkan “menandakan Kertajaya berbahagia dengan kenyataan tidak terjadi sirnanya empat penjuru dari bencana” dari kalimat ”tandhan krtajayayåhya / ri bhuktiniran tan pariksirna nikang sang hyang catur lurah hinaruhåra nika”.

Rasa senangnya tersebut kemudian dia curahkan dengan perintah dibangunnya prasasti yang tertulis dalam sebuah linggapala oleh Mpu Amogeçwara atau disebut pula Mpu Talaluh.

Bangunan tersebut difungsikan untuk menyembah Bathara Palah, seperti yang tertuang dalam prasasti tersebut yang beerbunyi “sdangnira Çri Maharaja sanityangkên pratidina i sira paduka bhatara palah” yang berarti “Ketika dia Sri Maharaja senantiyasa setiap hari berada di tempat bathara Palah”. (3)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ronna)



Nama Candi Penataran
Alamat Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Sejarah Candi peninggalan kerajaan Kediri pada tahun 1200 M
   


Sumber :


1. kumparan.com
2. kumparan.com
3. sejarahlengkap.com


Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved