"Sekarang dia telah menghapus akunnya dan tidak ingin ditampilkan, karena alasan keamanan," kata Javad kepada Buzzfeed News.
Javad mengaku dia sangat ketakutan.
Namun, dia tidak berniat untuk untuk menghapus video tersebut, atau menghilangkan akunnya.
Dia menuturkan, ada kemungkinan dia bakal ditangkap atau dipaksa untuk membuat pernyataan palsu. Namun, dia menegaskan tak peduli.
"Saya siap untuk menanggung semuanya sepanjang saya mampu. Saya sudah bersiap. Tuhan berkehendak tidak akan sia-sia," tegasnya.
Sebelumnya, pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan 752 jatuh di Teheran pada (8/1/2020), dan menyebabkan 176 orang tewas.
Baca: Konflik AS-Iran Kian Memanas, Apa Dampaknya Bagi Perkekonomian Indonesia?
Baca: Selat Hormuz
Insiden itu terjadi setelah Iran menyerang dua pangkalan AS dan sekutunya di Irak, sebagai balasan atas terbunuhnya jenderal Qasem Soleimani.
Kanada maupun AS sama-sama menyatakan, pesawat Ukraina Boeing 737 itu jatuh dan menewaskan 176 orang setelah ditembak rudal Iran.
Adapun otoritas Ukraina menuturkan, dia meyakini misil yang menghantam Ukraine International Airlines adalah sistem pertahanan buatan Rusia.
Iran semula membantah bahwa pesawat Ukraina itu jatuh karena tertembak rudal.
Namun, tak lama pemerintahan Presiden Hassan Rouhani mengaku pesawat itu ditembak jatuh angkatan bersenjata karena kesalahan teknis.
Komandan Divisi Dirgantara Garda Revolusi, Amirali Hajizdeh, menyatakan bertanggung jawab.
Namun dia menyebut operator bertindak mandiri.
Juru bicara komisi yudisial Gholamhossein Esmaili berujar, mereka sudah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut.
"Sejumlah orang sudah ditahan," kata Esmaili dalam konferensi pers, sebagaimana diwartakan oleh AFP Selasa (14/1/2020).
Esmaili menerangkan, sepanjang malam komisi yudisial bergerak meneliti dokumen, dan menggelar investigasi di area kecelakaan.
"Kami sudah mendapat beberapa kesimpulan. Namun, kami harus memperlebar semua opsi hingga mendapat kebenarannya," katanya.
Sebelumnya, Presiden Hassan Rouhani dalam pernyataannya di televisi menegaskan agar komisi yudisial membentuk pengadilan khusus.
Pengadilan itu nantinya diisi hakim bereputasi tinggi dan pakar berkualitas untuk mengadili terduga pelaku yang menjatuhkan pesawat Ukraina.
"Siapa pun yang pantas dihukum harus dihukum. Penting bagi publik agar tahu siapa pelakunya. Dunia memperhatikan," tegasnya.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy, Kompas.com)