Dengan jarak tersebut, asteroid tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Meskipun demikian, masyarakat masih bisa melihat fenomena langit ini menggunakan teleskop.
Hal tersebut dinyatakan oleh Astronom amatir asal Indonesia, Marufin Sudibyo
"Butuh teleskop besar dengan lensa/cermin obyektif berdiameter 100 cm untuk melihatnya," kata Marufin.
Di Indonesia, satu-satunya tempat yang memiliki teleskop dengan spesifikasi tersebut hanya ada di Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat.
Dikatakan oleh Marufin, asteroid 2019 UO diperkirakan akan melintas pada 10 Januari 2020 sekitar pukul 23.48 UTC.
Asteroid tersebut dapat disaksikan di Indonesia pada Sabtu, (11/2/2020) pukul 06.48 WIB
"Perkiraan dapat disaksikan di Indonesia pada pukul 06.48 WIB pada 11 Januari 2020," kata Marufin, Kamis (9/1/2020).
Asteroid pertama kali ditemukan
Asteroid mulai diketahui pada 1 Januari 1801.
Pada masa tersebut, Giuseppe Piazzi menemukan sebuah benda yang awalnya diperkirakan merupakan komet baru.
Namun setelah orbitnya diperhatikan dengan lebih baik, jelas bahwa benda tersebut bukan komet tetapi serupa planet yang berukuran lebih kecil.
Piazzi kemudian menyebut benda tersebut dengan nama Ceres, terinspirasi dari Dewi gandum dari Sicily.
Tiga batuan kecil lainnya kemudian kembali ditemukan diantaranya Pallas, Vesta, dan Juno.
Pada akhir abad ke-19 telah ditemukan hampir lebih dari seratus asteroid baik bernama maupun tidak.
Jumlah tersebut masih terus bertambah setiap tahunnya.
Baca: Indahnya Fenomena Gunung Rinjani Bertopi Putih
Baca: Matahari Akan Menjadi Lebih Dekat Dengan Bumi, Apa Bahayanya Bagi Kita?
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi/Indah, KOMPAS/Retia Kartika Dewi )