"Ada metode sebenarnya secara medis yang dianjurkan adalah imobilisasi.”
“Itu WHO yang ngasih sarannya. Metode diisap itu tidak boleh dilakukan," ucap Panji.
Menurut Panji, pertolongan pertama yang benar justru dengan memasang papan kayu pada area yang digigit.
Hal ini diterapkan layaknya orang yang mengalami patah tulang.
“Bukan diikat, tapi dibidai atau digip.”
“Semakin banyak gerak, akan semakin membuat bisa (racun) menyebar,” ucap Panji.
Membidai tangan adalah meletakkan pelat dari kayu seperti penanganan pada patah tulang.
Kemudian kayu tersebut diikat di bagian tubuh yang digigit.
Tujuannya adalah mencegah gerakan yang akan membuat racun beredar dalam tubuh.
“Pada dasarnya, bisa ular bukan dari darah, tapi melalui kelenjar getah bening,”
“Sedangkan kelenjar getah bening bukan ada di pembuluh darah, tapi ada di bawah otot.”
“Semakin otot banyak bergerak, semakin racun bergerak juga," ujar Panji.
Selain itu, Panji menyarankan untuk tidak lagi mengikat bagian yang digigit dan agar tidak melakukan banyak gerak selama dirawat.
Sebelumnya warga melaporkan ular kobra di masjid, rumah, indekos, dan toko.
Laporan ini datang dari warga yang tinggal di Jember, Jakarta Timur, Depok, Surakarta, Klaten, hingga yang paling baru ada di Ngawi.
Dikabarkan Kompas.com, Selasa siang (17/12/2019), Tim SAR LPJ Ngawi mendapat laporan keberadaan ular kobra.
"Pemilik rumah melapor ke tim SAR karena sudah membunuh tiga ekor anak ular."
"Khawatirnya masih ada di rumah," ujar ketua Tim SAR LPJ Suyono.
Setelah dilakukan pencarian, tim SAR menemukan delapan ekor anak ular kobra yang tersebar di hampir seluruh ruangan rumah.
Diperkirakan, ular kobra tersebut baru menetas beberapa hari.
(TribunnewsWiki.com/Saradita/Kompas.com)