Dimakzulkan oleh DPR AS, Donald Trump: Saya Orang Pertama yang Dimakzulkan Tanpa Melakukan Kesalahan

Dimakzulkan, Donald Trump menanggapi bahwa dirinya adalah orang pertama yang dimakzulkan tanpa melakukan kesalahan sama sekali.


zoom-inlihat foto
presiden-amerika-serikat-donald-trump-29122019.jpg
Kompas.com
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan keterangan kepada media setelah pertemuan dengan anggota Senat dari Partai Republik di Washington pada 9 Januari 2019


Pasal 1 yaitu Penyalahgunaan Kekuasaan, yang mendapatkan dukungan dari 230 anggota DPR AS.

Keputusan tersebut juga mendapatkan penolakan sebesar 197 suara.

Sedangkan jumlah minimal dukungan yang diperlukan di DPR AS guna membawa proses pemakzulan Trump ke level Senat adalah 216.

Sementara Pasal 2 yakni Menghalangi Penyelidikan Kongres, menerima dukungan 229, dalam hasil yang dibacakan oleh Ketua DPR AS, Nancy Pelosi.

Pembicara Nancy Pelosi berlatih dan mengedit draf pidato yang rencananya akan disampaikannya Rabu (18/12/2019) sebelum DPR memberikan suara pada artikel tentang pemakzulan terhadap Presiden Trump.
Pembicara Nancy Pelosi berlatih dan mengedit draf pidato yang rencananya akan disampaikannya Rabu (18/12/2019) sebelum DPR memberikan suara pada artikel tentang pemakzulan terhadap Presiden Trump. (Erin Schaff/The New York Times)

Dalam konferensi pers seusai pemilihan, Nancy Pelosi menyatakan hari itu merupakan hari "penting bagi Konstitusi AS".

"Namun di saat bersamaan, ini adalah hari yang menyedihkan bagi Amerika," terang politisi asal Partai Demokrat itu.

Pelosi menerangkan, mereka sudah berjuang sebaik mungkin supaya generasi mendatang tetap memandang demokrasi seperti yang diinginkan Bapak Pendiri Bangsa.

Yang menarik, politisi Demokrat yang juga maju sebagai bakal calon presiden, Tulsi Gabbard, memutuskan untuk abstain dalam voting tersebut.

Gabbard sepakat dengan fakta bahwa Trump sudah melakukan kesalahan sehingga proses pemakzulan itu harus dijalankan.

"Namun di sisi lain, saya yakin bahwa proses pemakzulan ini haruslah bukan karena sikap salah satu kubu, yang kemudian menyebabkan bangsa ini terpecah," ujar Gabbard.

Terkait pilpres 2020 melawan Joe Biden

Dalam konferensi pers pasca-pemungutan suara, Ketua Komite Yudisial Jerry Nadler mengatakan, Trump memang layak dimakzulkan.

Dia menjelaskan, presiden ke-45 AS tersebut secara nyata sudah menampilkan bahaya nyata bagi sistem pemilihan dan pembagian kekuasaan di AS.

"Seorang Presiden AS tidak diperkenankan untuk menjadi diktator," ucap Nadler dalam keterangannya sebagaimana diberitakan BBC.

Trump menjalani sidang pemakzulan buntut percakapan teleponnya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 25 Juli lalu.

Dalam percakapan itu, Trump dituduh menekan Zelensky untuk menyelidiki Joe Biden dan putranya Hunter Biden.

Joe Biden sendiri merupakan perwakilan utama dari Demokrat yang berniat melenggang ke pemilu presiden AS 2020 melawan Donald Trump.

Baca: 8 Hal yang Perlu Diketahui Soal Isu Pemakzulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Baca: Diajak Bicara dengan Presiden AS, Greta Thunberg: Buang-buang Waktu Saja Bicara dengan Donald Trump

Donald Trump
Donald Trump (Wikimedia Commons)

Menunggu keputusan senat

Setelah ini, tahap selanjutnya dalam proses pemakzulan adalah membawa resolusi tersebut ke level Senat.

Resolusi tersebut akan dibahas oleh Senat yang rencananya akan dilaksanakan pada Januari 2020.

Di tahap ini, kecil kemungkinan Trump bakal dilengserkan.

Hal tersebut lantaran karena 53 dari 100 kursi senator dipegang oleh Partai Republik.

 (TRIBUNNEWSWIKI/Magi, KOMPAS/Ardi Priyatno Utomo)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved